
Kekhawatiran Kei tidak bisa terbendung, Riki sangat mengerti akhirnya memutuskan untuk kembali ke Mansion agar istri cantiknya tenang.
Kei berlari memasuki Mansion dan melihat keluarga asik tertawa, semuanya juga cukup kaget melihat Kei, padahal Kia sudah menghubunginya jika semuanya baik-baik saja.
"Mama bagaimana keadaan Bianka?" Kei langsung duduk memeluk Mama Kia.
"Sudah Mama bilang baik, dia bahkan asik tidur."
"Kandungan Bi aman, dia tidak terluka?"
"Keduanya baik sayang, seharunya kalian tidak perlu kembali."
Bunda Bunga tersenyum, mengetahui penjahat seperti Della bukan hal yang sulit untuk keluarga Chrispeter. Tidak ada yang bisa meracuni keturunan Chrispeter dengan mudah, apalagi orang yang tidak berpengalaman. Para Mommy sangat mengawasi para girls, apalagi soal makan.
"Ehh ehh ada pengantin baru, sudah membuat penerus keluarga Chrispeter." Bi datang cengengesan sambil memakan lollipop.
"Belum sempat, jangankan mau membuat teman si Boy. Mama Kei disentuh juga langsung menangis."
"Kak, Kei menangis karena khawatir bukan soal itu."
"OHH, jadi sudah siap. Tidak perlu di hotel, di kamar juga nyaman, mau kamar kamu atau Kaka Kei?" Riki menggoda membuat Kei wajahnya langsung merah.
"Riki berhentilah menggoda, otak kotor kamu dapat dari mana?" Mommy menjewer kuping putranya.
"Daddy lah!"
"Kenapa membawa Daddy, Mommy kamu lebih agresif."
"Stop! Boy ayo tutup telinga, ini pembicara 18+ keatas." Bianka langsung melangkah pergi meninggalkan ruangan keluarga, diikuti gelak tawa yang lainnya.
***
Pengantin baru masih berduaan di kamar, tidak ada bulan madu karena Kei menolak untuk pergi. Riki terpaksa mengikuti keinginan istrinya daripada tidak mendapatkan hadiah pernikahan.
Pelukan erat tangan Riki sudah melingkar di pinggang Kei, ciuman kecil di lehernya sudah Kei rasakan. Bajunya perlahan terangkat, senyum terukir di wajah Riki, wanita lembut Chrispeter tapi memiliki kemampuan melebihi para boys bukan berarti Riki kalah dari Kei tapi hanya ingin mengalah, malam ini Riki ingin membuktikan jika dia bisa melawan tenaga Kei yang pasti menolaknya karena terlihat wajah takut.
Dugaan Riki benar, Kei tidak tergoda dengan rayuan. Dia semakin ketakutan dengan malam pertama, berkali-kali coba mendorong tubuh Riki yang berada di atasnya, tapi tenaga Riki berkali lipat lebih kuat, sedangkan Kei semakin melemah merasakan permainan Riki yang semakin liar.
"Kak, hentikan Kei takut."
"Jangan tolak aku Kei, badan kamu bisa sakit semuanya jika melawan dengan tenaga. Kamu nikmati saja apa yang aku lakukan."
Akhirnya Kei diam membiarkan suaminya yang bertindak, bajunya juga sudah terlepas. Kei menutup matanya saat Riki membuka pakaiannya, Riki tersenyum menciumi gemas wajah istrinya. Tangannya juga tidak diam, bermain di dada, sedangkan bibirnya sudah mengigit pelan bibir Kei yang terus bersuara tapi tertahan.
__ADS_1
Melihat Kei yang sudah tenang, barulah Riki mulai masuk. Tapi reaksi Kei membuat Riki hampir terlempar karena didorong, beruntungnya Kei bisa bertahan, kedua tangan Kei ditahan, suaranya sudah ditutup dengan mulut Riki.
Dengan penuh kemenangan, Riki mengambil semuanya, Kei terkulai lemah sambil mandi keringat. Riki menghapus bekas air mata Kei, diciumnya kening istrinya.
"Istirahatlah sayang, maafkan Kaka membuat kamu kesakitan. Aku mencintai kamu Keisya Chrispeter."
"Aku juga mencintaimu Riki Chrispeter." Keduanya berpelukan penuh cinta.
***
Di tengah malam, Reva harus mematikan seluruh jaringannya yang bisa menangkap suara dari beberapa kamar yang masih lajang, salah satunya kamar Keisya yang sedang terdengar suara haram untuk Reva.
"Sialan pikiran aku menjadi kotor, kenapa bisa lupa dimatikan."
Dari jauh Reva melihat Asep yang melangkah keluar, masih terlihat jalan tertatih tapi tetap melangkah. Reva langsung menyelinap dan bersembunyi langsung menyerang Asep, tapi respon Asep sangat cepat Reva langsung terbanting.
"Reva!" Asep membantunya untuk berdiri.
"Gila kamu ya, tidak ada lembutnya." Bibir Reva langsung manyun.
"Iya maaf, siapa suruh kamu jahil?" Asep melanjutkan jalannya di kegelapan malam.
Reva tanpa dosa mengikuti Asep, tidak ada juga larangan dari Asep. Senyuman terus terukir, sampai tidak menyadari lelaki di depannya berhenti, Reva menabrak Asep masuk ke dalam pelukannya.
"Aku bukan Re...." Suara Reva terhenti karena sebuah bibir yang sudah menutupinya.
Terasa tangan Asep yang menahan kepalanya, gerakan yang sangat lembut. Reva meletakan tangannya di leher Asep sampai gerakan semakin cepat, keduanya berhenti hanya untuk mengambil nafas lalu lanjut lagi.
Kedua tangan Asep sudah berada di bukit kembar, tapi Reva langsung menahannya.
"Nikahi aku jika kamu ingin memilikinya,"
"Tapi aku tidak bisa Reva, aku tidak tertarik untuk menikah."
"Lalu apa maksud dari ciuman kita?"
"Aku lelaki yang mempunyai nafsu, saat seorang wanita cantik mendekati aku tidak mungkin aku menolak. Tapi untuk serius aku tidak pernah memikirkannya."
"Jadi aku hanya tempat kamu menyalurkan saja, tidak pernah menganggap aku lebih?"
"Mana mungkin aku berani, kamu putri Chrispeter yang punya segalanya sedangkan aku, siapa aku." Asep tertawa, Reva juga tersenyum sinis.
"Kamu benar, aku salah meletakan hati." Reva langsung melangkah pergi.
__ADS_1
Reva melangkah masuk Mansion, berdiri tepat di depan kamar Daddy-nya. Mengetuk pelan, Roy membuka dan bicara bersama Reva menjauhi kamar.
"Daddy, Reva menerima tawaran Daddy untuk pergi ke sana tanpa pasukan."
"Kamu sudah tahu resikonya,"
"Iya Daddy, malam ini juga Reva pergi."
"Tempat ini tenang, tapi berbahaya Reva, kamu di sana hanya menjadi wanita biasa. Mommy tidak mengizinkan, lebih baik kamu menikah dan memiliki keluarga."
"Baiklah Mom, Reva hanya pergi sebentar saat pulang nanti Reva menerima permintaan Mommy untuk menikah, sekalipun lelaki pilihan Mommy."
"Janji!"
"Iya Mommy, Reva janji hanya sementara lagian Mommy tetap bisa mengontrol Reva dari kejauhan. Jika kehilangan sinyal Reva kirimkan pasukan."
Roy tersenyum memeluk putrinya, misi yang hanya Reva yang menjalankan. Pergi ke negara Indonesia untuk menemukan pasukan pengkhianatan penjara yang menanam bom di sebuah panti.
***
Sudah satu Minggu Reva pergi, jaringan juga menghilang. Bukan Roy yang marah tapi Rindu.
"Rindu akan pergi menyusul, sudah Rindu katakan Reva tidak akan menemukan mereka karena di sana bukan tempat panti tapi penyekapan."
"Rindu tenanglah!"
"Bagaimana Rindu bisa tenang, Bi hamil besar, Kei pengantin baru, Rinda sudah tidak ada sekarang Reva juga menghilang. Kita akan diam saja sampai berita kematian Reva muncul."
Asep yang juga berada di sana ikut merasakan khawatir, pantas dia tidak melihat Reva ternyata dia sudah pergi dalam misi tanpa mengatakan apapun.
"Apa yang sedang kamu pikirkan Asep?" Bara menatapnya.
"Izinkan saya pergi tuan, aku harus menemukan Reva?"
"Tidak mudah, kita tidak bisa sembarang langkah."
Asep melangkah mendekati Roy, mengungkapkan keinginannya. Dia ingin membawa Reva kembali dengan cara apapun.
"Izinkan saya yang mencari Reva?"
"Tidak perlu!"
***
__ADS_1