
"Sayang! apa yang kamu lakukan?" Bara keluar mendekati Bianka yang masih sibuk dengan udang dan kepiting.
"Cari makan kak, ini akan segera di bakar." Bianka sudah mengumpulkan banyak pengawal Mansion untuk menghidupkan api.
"besok saja Bi, sudah hampir fajar kita istirahat sebentar saat kamu bangun makanan seafood sudah tersedia." Bara mengelus kepala istrinya.
"Baiklah!" Bianka mengandeng Bara ikut masuk ke dalam, para pengawal bernafas lega akhirnya pengacau masuk juga.
Di dalam kamar Bara menyiapkan air hangat, Bianka langsung membuka bajunya tanpa memikirkan Bara yang sudah lama berpuasa, dia masuk ke dalam bathtub dan berendam. Bara hanya terdiam, ingin sekali Bara rasanya masuk juga ke dalam memeluk Bianka tapi rasa bersalah karena kehilangan buah hatinya masih menggangu pikiran Bara.
Selesai mandi Bara membantu mengeringkan rambut Bi, bau wangi dari tubuh Bi sangat menggangu. Nafsu Bara terpancing langsung memeluk Bi penuh kelembutan.
"Kak coba pegang." Bianka mengambil tangan Bara menyentuh perutnya.
"Buncit!" Bara mengelus perut Bi sambil mengecup pundaknya. Tangan Bara sudah berkeliaran, Bianka hanya diam menikmati permainan Bara.
"Sayang, dada kamu sekarang besar sudah tidak muat lagi di tangan."
"Iya Bi juga heran. Sudahlah jangan banyak bicara, Mau lanjut tidak?"
"Mau banget." Bara langsung menggendong Bi meletakan di atas ranjang.
Sebelum memulai Bara menatap mata bianka, mencium keningnya baru turun ke leher, mencium setiap inci wajah Bi. Bajunya juga sudah terlempar, ciuman Bara yang lembut dibalas kasar membuat Bara heran.
"Bi kamu sangat aneh," Bara menghentikan karena kehabisan nafas.
Setiap berhubungan Bara sangat lembut, tidak pernah memaksa tapi kali lagi ini gerakan cepat karena Bianka yang tidak sabaran. Bara binggung dengan Bianka yang agresif juga tidak cukup selalu ingin mengulang.
Keringat membasahi keduanya, Bara tidak pernah membayangkan akan bermain dengan cepat dan terlihat kasar. Bara takut Bi terluka dan tidak nyaman, tapi keinginan Bi yang melebihinya dirinya. Bianka terbaring diatas tubuh Bara yang sudah penuh keringat, nafas mereka juga tidak beraturan.
"Kak lagi." Bi menggakat kepalanya.
"Istirahat dulu sayang, kamu tidak capek."
"Ayo cepat! Bi tidak mau main sendiri,"
"Bianka cukup, sekarang kamu tidur nanti tubuh kamu sakit semua ya." Bara membalikan tubuh Bi di bawah, melepaskannya miliknya berbaring di samping Bi dan menutup tubuh mereka dengan selimut.
Bianka yang ditolak langsung memunggungi Bara, wajahnya berubah kesal dan langsung ngambek. Bara semakin dibuat binggung, Bianka yang sangat menjaga image sekarang sangat Omesh.
"oke satu kali lagi, matahari hampir terbit kamu belum tidur sebentar lagi pasti banyak mengeluh." Bara membalikan tubuh Bi tapi sudah terlelap tidur karena kecapean.
__ADS_1
"YA Tuhan istriku ini kenapa? bertingkah aneh, berhubungan juga aneh seperti bukan dirinya. Tadi ngambek sekarang tidur cepat karena capek."
Karena lelah Bara juga ikut terlelap, menghabiskan waktu satu harian dengan banyak urusan membuat tubuh Bara lelah, tenaganya terkuras habis. Belum lagi bermain dengan Bi yang tidak ingin berhenti.
***
Suara ketukan pintu membangun Bara, cepat dia mencari celana dan baju barulah membuka pintu. Bunda berdiri di depan kamar dengan wajah khawatir.
"Kalian berdua masih tidur, sekarang sudah siang membuat Bunda khawatir."
"Maaf ya bunda, Bara baru bisa tidur saat matahari terbit karena ulah Bi."
"Ya sudah Bunda hanya khawatir." Bunga turun meninggalkan Bara.
Bara masuk lagi ke kamarnya mencium kening Bi, langsung masuk kamar mandi. Hari ini dia punya urusan di Lab tapi harus tertunda.
Selesai mandi Bara ingin membangun Bi tapi tidak tega, dia langsung turun untuk makan dan meminta maid menyiapkan makanan untuk Bianka. Mama Kia tersenyum melihat Bara yang langsung pergi.
Kiara langsung naik ke lantai atas, membuka kamar Bi dan melihat Bianka yang tidak menggunakan baju.
"Bianka ayo bangun, ikut mama."
"Tidak mau," Bi hanya membuka sekilas matanya langsung terpejam lagi.
Bi langsung bangun, bibirnya tersenyum. Bi setuju ikut Kiara, langsung bersiap-siap. Kia menunggu di lantai bawah.
"Bunga, Dara, Riani, kalian ikut aku bersama Bianka."
"Kemana Kia?" Bunga menatap Kia yang memandang Riani.
"Kalian saja yang pergi, ditunggu kabar baiknya. Aku ingin menemani Nayla." Riani tersenyum langsung menuju ruangan Nay.
"Kita mau kemana dulu Kia." Dara ikut penasaran.
"Rumah sakit, jangan bertanya lagi nanti juga tahu."
Bianka turun sambil tersenyum, dia mengikuti ketiga wanita cantik. Mereka masuk ke dalam mobil tanpa pengawalan, Kiara tidak suka dikawal lebih suka normal begitupun yang lainnya.
Sesampainya di rumah sakit, Bianka binggung tujuan mereka ke rumah sakit, pertanyaan dikepala Bi hanya memikirkan siapa yang sakit.
Mereka berempat melangkah masuk ke tempat khusus kandungan, Bianka semakin binggung.
__ADS_1
"Mama, mau periksa Bi ya soal keguguran kemarin. Pantas Bi sering merasakan keram."
Kia tidak menjawab, langsung masuk ke dalam ruangan bertemu dengan temannya sesama dokter. Kia sudah menceritakan soal Bianka kepada dokter Emi. Bunga menjadi khawatir tapi juga penasaran, tidak terlihat wajah cemas dari Kia yang ada hanya senyuman.
"Bunga bersiaplah kamu akan segera berubah status." Kia berbisik sambil tersenyum, Bunga tidak mengerti tapi berharap yang terbaik.
Bianka berbaring, perutnya langsung diperiksa. Kia langsung lompat-lompat melihat layar, Bunga dan Dara walaupun tidak di ucapkan langsung tahu, Bianka binggung melihat ketiga mama tersenyum dan menangis haru.
"Bunda!"
"Iya sayang." Bunga mencium kening Bianka penuh kebahagiaan.
"Kandungan masuk empat bulan, pernah mengalami pendarahan ringan tapi kandungan Bi sangat kuat dan sehat, lihatlah." Dokter menunjukkan ke layar.
"Bianka terlihat aneh Dok, makannya, sifatnya, tingkahnya semuanya aneh."
"Bawaan, biasanya ibu hamil muntah-muntah, mual, pusing, di trimester pertama tapi Bi sudah melewati dan sedang dalam suasana ngidam."
"Tapi ngidamnya aneh mi, dia keluar dari jalur sifat Bi. Dia sosok anak yang keras, dewasa, tegas, tapi sekarang suka ngambek, manja."
"Jangan tanya aku Kia, tanyakan kebiasaan ayah bayi ini."
Semuanya saling pandang, Bara mafia kejam tapi kekanakan. Tidak bisa mereka bayangkan anak Bi dari dalam kandungan sudah bisa mengendalikan bundanya mengikuti keinginannya.
"Bianka hamil ya Bun, bukannya Bi kemarin keguguran. Sekarang Bi hamil lagi, tidak jadi keguguran, anak Bi masih hidup, tidak jadi gugur."
'Bianka bicara jangan berputar-putar." Dara kesal melihatnya.
"Iya Bianka, kamu hamil sudah masuk empat bulan."
"Sebentar lagi melahirkan!" Bianka menatap dokter yang langsung tertawa, Bunga menepuk jidat, Dara menggelengkan kepalanya, Kia ikut tertawa."
Selama perjalanan pulang Bi menyentuh perutnya, dia sudah lupa dengan seafood. Bunga juga ikut mengelus perutnya Bi.
"Bunda ini anak siapa?" Mendengarkan pertanyaan Bianka Bunga langsung emosi menjitak kepala Bianka kuat.
"Awww Bunda sakit, Bi hanya bercanda. Tapi ini anak siapa ya?" Bianka langsung tertawa, Bunga sudah teriak meminta Kia memberhentikan mobilnya untuk melemparkan Bianka keluar.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
__ADS_1
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***