
Mobil Boy melaju meninggalkan penginapan, menyusuri jalanan melihat keadaan pulau yang tidak terlihat keistimewaannya.
"Kenapa menjadi tempat wisata yang terkenal tidak ada yang istimewa?" Boy terdiam melihat beberapa acara persembahan yang terlihat aneh, mengumpulkan dana untuk pembangunan.
Berlian juga sudah berada di pinggir pantai, melihat banyaknya orang yang menaburkan bunga di laut.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Boy menatap Berlian yang masih fokus menatap ke arah laut.
Lian menatap Boy, memintanya mengikutinya untuk bergabung, Boy tidak mengerti bahasa yang digunakan, senyum Lian terlihat menyapa.
Mengikutinya acara sampai selesai membuat Berlian tersenyum, Boy duduk di pasir pinggir pantai coba mencerna yang terjadi, di luar bayangannya selama ini, tempat yang mereka kunjungi sebuah tempat pemujaan.
"Mengapa orang mencari uang dengan cara seperti ini? memanfaatkan kebaikan dan kepolosan atau kebodohan seseorang." Boy menatap Lian yang juga duduk di pinggir pantai.
"Tuan, mereka semua sedang mengantungkan harapan kepada manusia." Lian melihat dengan tatapan prihatin.
Boy tersenyum, siapa manusia bejat yang tega memanfaatkan hati, perasaan yang sedang lemah. Hanya demi uang melakukan kejahatan, tapi terlihat seakan baik.
Banyak orang datang ke sini bukan hanya untuk berlibur, tapi datang menyerahkan seluruh aset kekayaan mereka dengan alasan menyumbangkan untuk kebaikan, melakukan doa yang berada di luar nalar manusia.
"Hidup tidak ada yang abadi, semua mahkluk pasti akan mati. Tidak terkecuali manusia, tidak ada yang bisa menghindari kematian, juga tidak ada yang bisa memperpanjang usia." Lian mengusap dada, melihat banyak orang ingin umur panjang.
"Ada satu cara agar kita terus hidup Lian?" Boy tersenyum menatap wajah Lian yang tidak percaya.
"Mustahil tuan, jika ada apa?" Lian menatap tajam.
"Jika kamu ingin berumur panjang, jangan pernah berhenti bernafas." Boy langsung tertawa kuat, berdiri melangkah pergi.
Berlian tersenyum, Boy memang pria yang tidak pernah serius, terlalu suka bercanda seperti Ayahnya Bara.
Cepat Berlian berlari mengejar Boy, masuk ke dalam ruangan berdoa yang sangat luas, terlihat juga seorang wanita berdoa membawa bayinya yang sedang mengalami sakit parah.
__ADS_1
Menurut kepercayaan mereka di tempat ini ada seseorang yang sakti bisa menyembuhkan segala macam penyakit, Boy menggaruk kepalanya, jika sakit seharusnya ke rumah sakit, pengobatan dunia medis sangat luar biasa. Semakin majunya zaman, semakin canggihnya kemampuan dunia medis.
Lian melihat keadaan bayi, sungguh memprihatinkan seharusnya segera melakukan perawatan untuk melakukan operasi.
Berlian dan Boy langsung bersembunyi, melihat seorang pria datang. Banyak orang yang bersujud kepadanya, bayi langsung diangkat dibacakan doa.
Boy menatap Lian, tidak tahu pasti yang mereka lakukan, tangisan ibu bayi terdengar sangat kuat, semua orang membacakan doa mengatakan jika bayi sudah surga. Sungguh luar biasa sang ibu percaya, berjanji akan bertemu bayinya di surga, dengan terus berdoa dan menebar kebaikan, bersedekah sampai dipertemukan dengan sang anak.
Boy menggaruk kepalanya, seorang pembunuh dia bukan mengobati, tapi mencabut nyawa. Lian juga terdiam tidak tahu harus mengatakan apa yang dia lihat semakin gila di pulau ini, semua penghuninya juga gila.
"Tuan, mereka semua sakit jiwa?"
"Iya, haruskah aku menebar kebaikan, setelahnya aku yang akan mengantarkan mereka ke surga."
Berlian dan Boy keluar dengan cara mengendap keluar perlahan, pengalaman pertama bagi Boy tidak bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk.
Mereka jahat, tapi terlihat seperti orang baik yang tidak berdosa. Boy binggung harus melakukan apa, juga tidak mengerti dia sekarang sedang apa yang pasti pulau yang dia datangi sangat berbahaya, lebih baik Boy berada di markas kejahatan, dia tahu jika sedang berhadapan dengan penjahat, tapi berada di sini membuat Boy tidak mengerti apapun.
Lian sama seperti Boy, sudah cukup banyak jenis penjahat yang dia temui, tapi tidak seperti di sini. Siapa yang akan percaya dengan ucapan mereka jika disadarkan, apa yang mereka lakukan salah, mereka pembunuh bukan pengobatan.
"Apa yang terjadi? seharunya yang kita temukan para penjahat yang menyeludupkan barang, penjualan organ tubuh, kejahatan apapun yang paling mengerikan, bukan tempat pemujaan, pemujaan apa ini?"
"Lian juga tidak mengerti, memangnya selama ini tuan berada di luar sana tidak belajar agama?"
"kenapa sekarang kita bahas agama? memangnya kamu belajar?" Boy melotot menatap Lian.
"Sama-sama tidak belajar jangan pakai emosi Tuan! soalnya Tuan Bara dan Tuan Haikal selalu berdoa bersama, tapi kenapa tuan tidak tahu apapun?"
"Kenapa kamu menyalahkan saya? mafia kejam seperti Bara hanya terpaksa mengikuti kakek, karena mereka sudah tua."
Pertengkaran Boy dan Lian menjadi pusat perhatian, seorang wanita menggunakan baju tertutup mengehentikan kedua, memberikan bunga untuk menenangkan jiwa.
__ADS_1
Boy mengumpat dalam hati, beraninya orang biasa memintanya menenangkan diri, mereka pikir Boy sudah gila.
"Perkenalkan saya Juwi orang yang melayani tempat ini, jangan bertengkar, silahkan berdoa menenangkan diri kalian, sang alam akan menyambut kalian, memberikan berkah yang berlipat ganda, lakukan sedekah agar jiwa tenang." Juwi mengangkat tangannya melihat ke arah lautan, langsung pamitan melangkah pergi.
"Sialan, agar jiwa tenang, disambut oleh sang alam, seakan-akan mereka sedang menyumpahi kita mati."
Berlian menahan tawa, Boy memang sangat lucu. Saat berbicara saja memancing tawa.
"Kenapa kamu tertawa Lian? sana berdoa agar kamu masuk surga, di sambut oleh sang alam, terus ke tengah laut, lompat mati akhirnya." Boy langsung menendang batu langsung melangkah pergi kesal melihat semuanya.
Berlian tertawa kuat, Boy memang konyol, bertahun-tahun Lian tidak tahu caranya tertawa lepas, tapi kali ini bersama Boy dia bisa tertawa.
Boy berdiri di pinggir pantai, melihat beberapa orang menaburkan bunga menyambut alam, Boy tersenyum jika ada tsunami baru memang kuasa alam.
Semua orang menatap Boy, dia bukan menaburkan bunga, tapi menaburkan uang dengan santainya. Banyak yang berkumpul melihat uang berada di air. Mata Boy terpejam, berharap uangnya diganti dengan emas batangan.
"Permisi, perkenalkan saya Jem penjaga tempat ini, sebaiknya taburkan bunga, uangnya bisa disedekahkan." Jem mengambil uang Boy menghentikannya.
"Saya berdoa kepada alam, berharap segera diberikan momongan, sekalipun harus menyerahkan seluruh kekayaan saya demi anak." Boy ingin muntah mendengar ucapannya.
"Tuan datang ke tempat yang tepat, atur waktu tuan untuk bertemu dengan tuan Amen."
"Amen atau Amin?"
"Amen Tuan."
"Baiklah, saya akan menitipkan uang saya kepada tuan Jem." Boy langsung melangkah pergi, menyerahkan uangnya.
Lian menatap Boy langsung mengikutinya, Jem tersenyum melihat Lian. Boy langsung merangkul Lian memintanya berhati-hati dengan Jem, dia pria mata duitan.
"Tuan, daripada uangnya dihamburkan lebih baik untuk Lian."
__ADS_1
"Kamu ingin uang, makanya kerja." Boy menjitak kepada Lian, berlari menjauhinya.
***