
Rinda terbangun dari tidurnya, langsung mandi menyegarkan tubuhnya. Rinda sudah tidur seharian sampai matahari sudah terbit kembali.
"Nona makan siang sudah disiapkan."
"Rinda makan di ruang makan saja, kalian silahkan keluar." Rinda langsung masuk kamar mandi.
Reza berdiri di depan kamar Kaira, menunggunya keluar karena sudah bangun mandi dan memoles wajahnya.
"Kapan pemakaman Za?"
"Sore ini kak." Reza menundukkan kepalanya.
"Bagaimana keadaan kak Maxi?"
"Reza kurang tahu kak, ada Boy yang menjaganya takutnya kak Max kembali seperti dulu, mengalami depresi dan mengakhiri hidupnya."
Kaira tersenyum langsung melangkah keluar, Rinda juga keluar menatap Lian dan Tari berjaga di depan pintu.
"Rinda, kamu sudah makan?" Kaira tersenyum merangkul Rinda.
"Ini baru ingin makan kak, Rinda kebanyakan tidur sampai cacing Rinda mengamuk." Rinda tersenyum menatap Kaira.
Berlian bejalan di belakang bersama Tari, Kai tersenyum menatap Lian memintanya untuk memanggil Boy.
Di meja makan kosong, Kaira melangkah ke kamar khusus pengawal. Rinda, Lian, Tari dan Reza mengikuti Kai melihat ke arah kamar Miko yang tertutup langsung menuju kamar Max.
Boy berdiri di depan kamar kepala menunduk menunggu Max, Kaira langsung memeluk Boy sebelum Kaira tidur dia membaca pesan dari Boy yang memintanya istirahat.
Boy mengatakan keluarga Chrispeter tidak boleh lemah, tidak perduli lelaki atau perempuan mereka harus kuat. Jika satu hancur semuanya hancur, jika satu jatuh semuanya jatuh.
Sebagai tim yang kuat tidak membawa perasaan, tidak ada yang tidak berduka kehilangan salah satu anggota, tapi hilang satu anggota bukan berati semuanya harus mati.
Bangkit tidak menunggu orang lain menguatkan, tapi diri sendiri yang harus kuat, karena untuk menguatkan orang lain, harus memiliki mental yang lebih kuat.
"Terima kasih Kaira sudah bangkit kembali, kak Boy yakin Kai wanita yang sangat kuat sehingga diuji seberat ini." Boy mengusap punggung Kai.
"Kai akan bangkit, Kaira tidak ingin jatuh." Kaira menutup matanya menahan air mata.
Rinda langsung memeluk Boy, mengucapkan terima kasih karena sudah menjadi kakak terhebat bagi Rinda.
Boy memang jarang bertemu Rinda, jarang komunikasi, selama ini Miko yang bagaikan bayangan Rinda.
__ADS_1
Tidak akan ada yang bisa mengantikan Miko, tidak ada yang bisa sehebat Miko, tapi Rinda harus sekuat Maminya yang pernah kehilangan kembarannya, satu rahim berbagi makanan sejak dalam kandungan, tumbuh bersama, bahkan wajah mereka mirip, tapi mampu berdiri kokoh, menunjukkan jika dia wanita hebat yang bisa bangkit kembali walaupun satu sayapnya patah.
"Maafkan Rinda kak."
"Kamu wanita hebat, lebih hebat dari Mami." Boy mencium kening Rinda.
Tangan Kaira membuka handle pintu, melihat Maxi berdiri di depan kaca menggunakan baju pengawal khusus yang hanya dimiliki oleh, Maxi, Miko, Ahlam dan Ahlan kedua orang tua Kai dan Tari.
Maxi menatap Kaira yang langsung berlari memeluknya, Maxi mengusap rambut Kaira yang tersenyum.
"Kak Mix sudah lama tidak menggunakan baju ini, Lian lihat kak Maxi tampan sekali."
"Iya masih setampan dulu, dulu aku berpikir pangeran, ternyata ...." Lian memonyongkan bibirnya melihat Boy menutup mulutnya.
"Kak Miko sudah makan? maaf maksudnya kak Maxi."
"Kak Maxi tidak lapar, kak Max harus bergabung dengan pengawal lain untuk mengurus pemakaman sahabat kak Max."
Kaira tersenyum, tapi langsung menangis memeluk Maxi erat. Kai tidak bisa menahan kesedihannya.
"Kak Max jangan pernah pergi meninggalkan Kaira, janji." Kai mengambil tangan Max memberikan jari kelingkingnya.
"Kak Max janji." Max menghapus air mata Kai.
"Kita makan dulu Rinda, semuanya pasti belum ada yang makan. Ayo kita makan, setelahnya bergabung untuk menyiapkan pemakaman." Max merangkul Kai, langsung merangkul pinggang Rinda sambil tersenyum.
Boy tersenyum menatap Reza yang melangkah menggenggam tangan Mentari, Lian menatap Boy yang menundukkan kepalanya mengusap air matanya.
"Terima kasih Tuan sudah menguatkan semuanya, padahal tuan juga sama lemahnya." Berlian memeluk Boy, menepuk pundak Boy yang langsung memeluk erat.
"Sulit sekali Lian menutupi kesedihan, aku tidak kuat lagi berpura-pura kuat."
"Kamu hebat Boy, bisa menjadi kakak yang menguat dua adik, juga menjaga kak Maxi di setiap langkah kak Max. Lian tahu kamu paling banyak menanggung luka."
Boy menarik nafas, mencium pipi Lian langsung melangkah pergi keluar.
"Masih bisa mencuri kesempatan saja ini bocah." Lian menatap tajam, langsung keluar menutup pelan pintu.
Para maid menundukkan kepalanya mempersilahkan semuanya untuk duduk, Max duduk di antara Kaira dan Rinda, Tari dan Reza juga duduk bersebalahan.
Boy langsung muncul menarik kursi untuk Lian yang tatapannya marah melihat Boy. Senyuman Boy terlihat, mengusap kepala Lian.
__ADS_1
Semuanya langsung menyantap makanan masing-masing, tidak ada yang mengeluarkan suara makan juga antara enak dan tidak enak.
Reza merasakan lapar sekali, tapi tidak bisa memuji masakan yang paling penting mengisi perut terlebih dahulu sebelum pemakaman banjir air mata lagi.
Keisya berdiri bersama Rindu, Reva dan Bianka tersenyum menatap anak-anak sudah makan, Bi pikir mereka akan menangis berlarut-larut.
"Ternyata mereka juga tim yang hebat, tidak mudah bangkit melihat satu anggota meninggal padahal mereka baru kembali membawa kemenangan." Bianka tersenyum.
"Iya, kemenangan mereka belum satu hari sudah berubah menjadi duka." Reva memeluk Rindu.
"Mereka sehebat aku, kuat dan tangguh bertahan walaupun kehilangan satu bagian hidup." Rindu meneteskan air matanya sambil tersenyum.
"Hari ini kita berkunjung menemui Rinda, tidak menyangka sekarang anak kita sudah besar. Mereka juga sudah dewasa." Bianka tersenyum memeluk Rindu.
"Maafkan aku Rindu sudah membuat kamu menangis, membuktikan cinta putriku sungguh menyakitkan, ternyata cintanya terhadap papanya bisa dikalahkan oleh Miko." Keisya memeluk erat tiga sahabatnya.
"Pertama kalinya Keisya sangat kejam, menipu kita semua, terutama Kaira. Dia juga keponakan kesayangan aku, cintanya kepada adikku Riki, sangat besar sebagai cinta pertamanya, tapi ingat cinta pertama selalu gagal, jadinya dia mencari cinta kedua." Rindu menutup mulutnya menahan tawa.
Suara Rinda teriak menangis membuat Rindu kaget, menatap tajam putrinya yang tenyata masih kekanakan.
Maxi langsung mengambil minum, membantu Rinda minum menghilang rasa pedas. Reza mengambil kembali makanan yang dia berikan kepada Rinda.
"Masih pedas Rinda."
"Emhhh." Rinda menghapus air matanya.
Boy menatap Rinda yang sebenarnya sedang menahan tangis, perilaku Reza sama dengan Miko yang selalu memberikan Rinda makanan ke piringnya.
Kaira mengipasi wajahnya menahan pedas padahal menahan air mata, Maxi menyadarinya tetapi memilih berpura-pura tidak mengerti.
"Menangis jika ingin menangis, tapi jadikan ini tangisan terakhir. Lian tidak dekat dengan kak Mik, tapi dada Lian juga sesak, sulit menghabiskan makanan karena kita akhirnya harus melepaskan kak Miko untuk selamanya." Lian mengusap air matanya.
"Boy selesai makan, kalian tunggu di ruang tamu, aku ingin mengganti baju khusus." Boy melangkah pergi.
Reza juga pergi mengganti bajunya, Lian, Tari, Kai dan Rinda juga mengganti baju. Maxi masih berdiam seorang diri menyentuh bajunya.
"Baju ini ada empat, tapi hanya Max yang masih menggunakannya." Maxi mengusap matanya.
***
Satu kali lagi sedih, setelahnya kita happy karena akan TAMAT diakhir bulan.
__ADS_1
***