
Seluruh persiapan sudah di depan mata, mobil keluarga Chrispeter sudah bersusun di depan pintu masuk.
Satu-persatu keluarga masuk mobil, Raka dan Raffi yang berada di luar negeri langsung kembali mengikuti acara pemakaman.
Maxi berada di depan sekali bersama seluruh pengawal, mengawal seluruh keluarga Chrispeter untuk pergi ke pemakaman khusus keluarga.
Pengawal bersenjata sudah berjaga semua, Boy dan Reza berada di depan mobil keluarga menjadi pemimpin proses pengantar jenazah Paman Ahlan.
Mobil mulai berjalan, suasana duka semakin terlihat saat Rinda menatap langit melihat ratusan burung beterbangan, Rindu memeluk Maminya Riani yang juga melihat banyaknya burung menghampiri Rinda.
Seluruh jalanan langsung ditutup, area pemakaman penuh penjagaan. Max meminta semua orang menjauh, keluarga Chrispeter akan masuk area pemakaman keluarga.
Boy dan Reza berjalan di depan, diikuti oleh para kakek dan nenek mereka yang masih lengkap, baru para girl Chrispeter yang bergabung dengan para Boy dan anak istri mereka.
Kaira, Rinda, Lian dan Tari ada di belakang sekali. Tari menundukkan kepalanya meneteskan air matanya.
Lian menggenggam erat tangan Tari, melihat suasana pemakaman yang sudah dimulai. Tari tidak ingin mendekat karena tidak bisa menutupi kesedihannya.
"Selamat jalan Paman, terimakasih karena Paman memutuskan menjadi orang baik. Tari sangat bahagia bertemu Paman, sangat senang bisa mengenal paman." Tari menutup mulutnya tidak kuasa menahan kesedihan saat peti mati di masukkan ke dalam tanah, langsung ditutup oleh banyak orang.
Maxi meminta seluruh pengawal menyingkir, memberikan tempat tenang hanya khusus keluarga.
Bunga sudah ditabur, foto Paman saat dia pertama masuk penjara juga sudah dibingkai besar diletakkan di dekat makamnya.
Rinda melangkah ke dekat makam, menaburkan bunga mengucapkan selamat jalan.
"Paman memang kita tidak kenal dekat, tapi Rinda memiliki kenangan bersama Paman saat pertama kita bertemu, Rinda tahu di dalam lubuk hati paling dalam Paman orang yang baik sehingga pantas mendapatkan penghormatan dari kami."
Kaira juga menaburkan bunga sambil meneteskan air matanya, mengucapkan salam perpisahan karena Paman pernah menyelamatkan Miko berkali-kali.
__ADS_1
"Terima kasih karena Paman sudah membantu kami saat sedang dalam pertarungan, Kaira akan terus mengenang pertemuan singkat kita." Kaira menghapus air matanya.
"Lian tidak tahu ingin mengatakan apa, Lian hanya mengigat Paman terluka karena Lian yang kaget saat sadar dari pingsan ada manusia besar dan menyeramkan, Lian langsung menyerang. Maafkan Berlian Paman, titip kedua orang tua Lian." Berlian tersenyum menaburkan bunganya.
Tari hanya diam saja menaburkan bunganya, mengusap berkali-kali matanya berusaha untuk tersenyum, tapi tetap sulit.
Reza langsung merangkul Tari, menghapus air mata wanita yang sangat dicintainya. Reza tahu Tari orang yang menggunakan perasaan, dia sangat mudah terbawa suasana sehingga kesedihan sangat sulit dia tutupi.
"Tari ingin mengucapkan terima kasih sudah membawa nama Ayah dalam kebaikan, Paman mengatakan tidak punya nama, Tari hanya memiliki satu ingatan nama lelaki yang sangat ingin Tari temui, Ayah Ahlan. Banyak orang berteriak menghina Tari saat kecil mengatakan Ayah Tari pembunuhan, dia pantas mati karena banyak merenggut nyawa orang, tapi Paman meninggal menyelamatkan kak Miko, Ayah juga meninggalkan karena menjalankan tugasnya. Tari dilahirkan bukan untuk menjadi seorang pembunuh." Tari langsung berlutut menangis sesenggukan.
Berlian langsung meneteskan air matanya, langsung berjongkok mengusap kepala Tari menenangkan Tari.
"Ayah Ahlan sama seperti kita dan yang lainnya memiliki masa lalu yang kelam, Ayah membayarnya selama di dalam penjara. Sampai akhirnya Papa dibebaskan, tapi menolak jika satu timnya yang tersisa tidak bebas, setelah bertahun-tahun Papa dan Ayah bebas langsung mengawal para girl Chrispeter. Kebaikan pertama Papa dan Ayah meminta kak Miko dan Maxi dibebaskan, sebagai permintaan pertama mereka. Kita semua yang ada di sini pernah membunuh baik sengaja atau terpaksa, tapi semua memiliki alasan. Mentari nama yang indah, seindah hati kamu." Lian memeluk Tari erat.
"Setiap perjalanan bukan hanya antara menang dan kalah, tapi mempererat hubungan." Boy tersenyum meminta Tari bangkit berdiri, harus tersenyum tidak boleh menangis lagi.
Max tersenyum melihat suasana pemakaman masih sama, girls Chrispeter Bianka, Rindu, Reva, dan Keisya selalu berdiri di pohon rindang sambil bercerita seakan-akan cerita mereka tidak ada habisnya.
Nakusha yang masih pendiam hanya tertawa setiap kali Bunga, Kiara, Dara dan Riani bercerita ditambah lagi hadirnya Nayla yang mulutnya tidak bisa diam.
Di tempat lain ada Haikal yang selalu bertengkar dengan Rian, Roy yang hanya menjadi pemisah. Bedanya sekarang Akbar sudah duduk di kursi roda.
"Setiap pohon sudah memiliki pemiliknya, setiap datang ke sini mereka akan berkumpul di pohon masing-masing, saling bercerita banyak hal, melupakan jika mereka ada di pemakaman."
"Kak Max benar, pohon ini setiap tahun merindukan mereka. Keluarga sekarang masih utuh, semoga setiap tahun masih utuh seperti ini." Boy tersenyum.
"Hai Aunty Rinda, kita datang lagi setelah sekian lama. Terima kasih Aunty sudah mengawasi kita dari atas, do'akan Rinda agar cepat menikah." Rinda mengusap nisan Rinda Chrispeter.
Berlian bejalan ke makam khusus pengawal bersama Tari, duduk mengusap nisan kedua orang tuanya mereka yang di makamkan sebagai keluarga terdekat Chrispeter.
__ADS_1
"Hai Papa Mama, Lian datang. Lian rindu kalian, maafkan Lian karena jarang berkunjung. Sekarang Lian sudah besar juga harus tetap kuat seperti Papa."
"Tari juga Rindu Ayah, Tari sayang Ayah." Tari memeluk nisan Ayahnya sambil tersenyum.
Maxi mengusap kepala Tari dan Lian, duduk memberikan salam kepada kedua pelatih terbaiknya.
"Paman, maafkan Miko tidak ikut ke sini, dia sedang dalam pemulihan. Max sudah menjadi manusia seperti harapan kalian, tahu rasanya takut kehilangan, tahu juga rasanya menjaga sebuah hubungan. Terima kasih karena sudah memberikan Max dan Miko kesempatan untuk menjadi yang sekarang."
"Kak masih tampan Ayah Tari atau Papanya kak Lian?"
"Masih tampan kak Max." Maxi tertawa memeluk dua wanita yang dia jaga sejak kecil.
Rinda dan Kai juga langsung memeluk Max, tatapan mata Boy langsung tajam menghela nafasnya. Max selalu menjadi orang yang mendapatkan pelukan dari empat wanita.
Suara jatuh membuat Maxi langsung melihat, suara tertawa dari bawah pohon terdengar melihat Reza dan Boy jatuh di atas makam, langsung berusaha memperbaiki tanah yang berantakan.
"Maafkan Boy, tidak sengaja." Boy melipat kedua tangannya.
"Maafkan Reza juga, salahkan kak Boy yang mendorong Reza."
"Dua anak ini belum juga berubah." Kaira menghela nafas.
Rinda langsung teriak berlari kencang, Lian langsung berlari bersama Tari yang kaget melihat Rinda berlari.
Maxi juga berlari diikuti oleh Boy dan Reza yang teriak hantu, Kaira langsung menangis teriak histeris memejamkan matanya.
Rinda tertawa kuat, Kai masih sama seperti saat mereka kecil selalu menangis setiap ada di pemakaman, bukannya berlari.
Maxi balik lagi langsung menarik tangan Kai yang masih menangis.
__ADS_1
"Ternyata cucu kita belum dewasa." Bunga tersenyum menatap Haikal.
***