BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
ANAKNYA GHAVIN


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Riani sudah menunggu hasilnya. Bunga langsung berlari memeluk Riani, Bi menatap aneh.


"Yang hamil Bi bukan Bunda, semangat banget."


"Biarin!"


Bunga langsung menghubungi seluruh keluarga untuk pulang, tidak ada yang boleh menolak. Tidak perduli lagi diujung dunia dalam satu jam harus berada di rumah, jika terlambat langsung dicoret dari kartu keluarga.


Reva dan Rindu yang sedang menembak saling pandang, perintah yang konyol tapi cepat mereka melepaskan senjata dan berlari. Ada rasa khawatir mendengar perintah pulang.


"Ada apa lagi ini, bikin khawatir saja." Reva berlari cepat masuk ke dalam mobil.


"Kak satu mobil saja, ayo cepat pulang." Rindu tidak kalah khawatirnya.


Mobil Reva melaju dengan kecepatan tinggi, alarm keamanan lambang Chrispeter aktif. Seluruh kendaraan memberikan jalan karena keturunan konglomerat lewat.


Keisya yang sedang melakukan penelitian tidak kalah khawatir, langsung meninggalkan Lab menuju parkiran. Bajunya juga tidak sempat diganti, mobilnya langsung melaju, alarm lambang Chrispeter langsung hidup.


"Ya Tuhan, ada apa lagi!" Kei gemetaran masih takut kehilangan lagi.


Di depan gerbang mansion seluruh mobil beriringan, Bunga sudah menunggu di depan pintu. Haikal langsung berlari dengan hanya menggunakan celana pendek, Roy juga langsung berdiri. Dara menatap aneh melihat suaminya, sedangkan Bianka hanya tertawa.


"Dari mana? hanya menggunakan celana bokser." Dara melotot.


"Dari akuarium, kita menyelam. Minggir sayang, aku mau masuk malu." Roy dan Haikal berlari saling tabrak masuk ke kamar masing-masing.


Rian dan Akbar juga Bara datang masih menggunakan baju khusus dari ruangan laboratorium.


"Ada apa Bunga?" tanya Rian.


"Ganti baju tunggu di ruang keluarga, masih menunggu yang ingin dikeluarkan dari kartu keluarga." Bunga tertawa bersama yang lainnya.


Bara mendekati Bi bertanya yang terjadi, tapi Bi hanya menggakat kedua bahunya. Bara langsung masuk mengganti bajunya.


Empat mobil mewah datang, keluar keempat boys yang datang dari masing-masing. Raffa menatap Raffi, Riki dan Raka yang hanya menggeleng.


"Bunda ada masalah apa lagi?" Raffa mencium tangan Bunga dengan wajah khawatir.


"Kalian berempat masuk, tunggu di ruang keluarga." Keempatnya langsung menurut.


Masih menunggu tiga putri Chrispeter, tidak lama dua mobil berputar langsung keluar ketiga wanita cantik. Bunga langsung masuk diikuti yang lainnya.


Di dalam ruang keluarga semuanya berkumpul di depan masing-masing dengan wajah khawatir, Nayla juga sudah bergabung melihat aneh kearah seluruh orang yang sangat panik.


"Mami, Nayla keluar saja. Di sini menakutkan."


"Tidak sayang kita mempunyai kabar bahagia."


Riani dan Nayla duduk, Bianka hanya duduk diam memeluk lengan Bara. Sesekali dia mengigit membuat Bara menggeleng.


"Bunda punya kabar bahagia."


"Bunda kalau bahagia tidak perlu menghubungi alarm dong, bikin khawatir saja." Rindu langsung berdiri dan duduk lagi.

__ADS_1


"Iya sayang, aku sama Roy sampai putus urat malu berlari menggunakan bokser."


"OHH jadi kalian tidak mau mendengarkan beritanya!" Bunga langsung melipat tangannya.


"Mau!" jawab semua orang bersamaan.


"Bianka hamil!" suara Bi membuat semua orang terdiam, menatap tajam kearahnya.


"Bianka!" teriakan Bunga kuat karena kesal, dia ingin memberikan kejutan dengan santainya Bi membocorkan begitu saja.


Lama suasana hening, tidak ada yang bersuara. Semuanya masih binggung, kaget dan tidak percaya.


"Mami! Nayla jadi aunty ya."


"Iya sayang,"


"Mami jadi nenek."


"Betul."


Kei berdiri mendekati Bunga melihat hasil kehamilan Bianka, senyum manis terlihat. Dugaan Kei benar, air mata Kei jatuh karena bayi sangat kuat bisa bertahan masuk empat bulan.


"Jadi alasan perut Bi buncit karena ada bayi?" Reva masih tercengang.


"Haikal selamat ya, kamu akan menjadi kakek. Kita jadi kakek sekarang, generasi penerus akhirnya akan segera hadir." Rian teriak memeluk Haikal, Roy juga Akbar.


Haikal mengusap matanya, Roy menepuk pelan Haikal yang masih tidak percaya. Para Mami juga tersenyum, Haikal mendekati Bi sambil memeluknya.


Rindu masih diam, Raffi dan Raka saling pandang lalu tersenyum dan saling memberikan selamat karena akan menjadi uncle, Riki menepuk pundak Raffa yang sudah tertunduk menangis.


Hanya Bara yang tidak berpaling dari Bianka, kata-kata aku hamil masih terngiang di telinganya. Air mata Bara menetes, Bi menghapusnya menangkup wajah Bara.


"Ini nyata."


"Iya kak, Bi hamil." Tangisan Bianka tumpah, langsung masuk dalam pelukan Bara.


Suasana jadi haru, Rindu juga ikut menangis melihat Bianka bertempur, berlari tapi janin yang masih hanya segumpal darah sekarang susah bisa bergerak.


Reva juga menangis merasakan kehilangan saat dia juga terlibat akan kegugurannya Bianka, Bara juga menjatuhkan harga dirinya menangis di depan seluruh orang.


"Maafkan aku Bi, aku selalu gagal menjaga kamu, aku juga gagal menjaga anak kita. Maafkan ayah ya nak." Bara memegang perut Bi dan menciumnya.


Selama ini tidak ada yang curiga karena masalah yang bertubi-tubi, perut Bi yang terlihat juga tidak ada yang menyadari karena dia selalu menggunakan baju longgar.


"Dia masih bertahan, karena dia ingin bertemu kita semua. Dia masih ingin menjadi anak Bara dan Bianka."


"Ayah janji akan menjaga kamu, maaf selama hampir empat bulan kami tidak menyambut kamu ya nak."


"Pantas Bianka aneh, ternyata dia ingin di perhatikan. Dia ingin disambut." Rindu mendekat mengelus perut Bi.


Reva dan Raffa masih menangis sesenggukan, Bianka mendekati Reva mengelus rambutnya.


"Tidak ingin menyapa aunty,"

__ADS_1


"Maafkan aunty sayang, saat kamu lahir nanti aunty janji akan menuruti keinginan kamu."


"Jangan aunty! cukup berikan aku teman." Bi menjawab membuat Reva tersenyum.


"Maafkan aku Bianka."


"Sudahlah! tidak perlu meminta maaf karena dia masih kuat di sini. Jangan menangis." Bianka menghapus air mata Reva, langsung mendekati Raffa yang menunduk.


"Kamu tidak ingin menyapa keponakan kamu."


"Maaf kak!" Raffa memeluk pinggang Bianka, membuat Bara teriak.


"Raffa jangan kuat-kuat!" Bara teriak panik.


"Iya!" Raffa langsung mengelus perut Bi.


"Raffa!"


"Iya kak."


"Ini anak siapa ya?" Bianka manyun, Raffa langsung berdiri diikuti Bara.


"Memangnya bukan anak kak Bara?" Raffa balik bertanya, membuat Bi menahan tawa.


"Seriusan Bi! jadi anak siapa?" Reva juga ikut heran.


Bara langsung mendekat, membalikkan tubuh Bi menghadapnya. Tatapan mata Bara tajam.


"Dia anaknya Ghavin Bianka, dia anakku!" Bara menekan ucapnya.


"OHH, anaknya Ghavin Barata Arnold."


"Bianka!" teriakan Reva dan Raffa kuat mengagetkan Bi.


Seluruh orang tua tersenyum bahagia, akhirnya suara berisik kembali di kediaman Chrispeter. Bianka yang sangat dingin sejak hamil lebih sering melucu.


"Mental kamu belum kuat Raffa, kamu mempertanyakan ini anak siapa? berarti kamu menuduh kakak berhubungan dengan orang lain."


"Kamu juga Reva, belajarlah untuk mencari bukti sebelum meluapkan kekesalan. Karena saat lelaki kamu didekati wanita lain, jika kamu tidak bisa mengontrol, maka hanya akan ada keributan."


"Aku juga bangga sama Rindu dan Kei, tidak terlihat wajah terkejut juga khawatir karena mereka mempunyai kepercayaan."


"Raka juga kak."


"Kamu dan Raffi terkejut Raka, hanya kak Riki yang tenang."


"Bianka benar! kepercayaan akan menjadi kesabaran yang sangat diuji. Belajar dengan Bara dia menatap Bi, menyakinkan Bianka jika itu anaknya. Jika Bara marah Bianka pastinya ngambek karena itu Bara yang mengalah." Bunga tersenyum melihat putrinya yang jahil tapi memberikan kesan yang mendalam.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP

__ADS_1


***


__ADS_2