
Rinda berjalan di kegelapan malam, duduk di bawah pohon besar melihat bintang yang bertaburan. Bulan juga bersinar dengan indahnya menghiasi malam yang sunyi.
"Indah ya Rin?" Max muncul dari balik pohon duduk di samping Rinda.
"Kak Max." Rinda tersenyum melihat Max yang ternyata ada di taman juga.
Maxi duduk diam melihat bulan bintang, memasangkan earphone ke telinga Rinda. Mendengarkan pertengkaran Boy dan Lian.
Boy duduk di pinggir ranjang, menatap Lian yang duduk di sofa. Boy mengakui jika dirinya tidak mengetahui soal saham.
Awalnya Boy hanya mengawasi wanita yang selalu muncul di setiap pertemuan, mendapatkan kabar Max ingin menikah Boy tidak rela.
Boy sangat mengetahui perasaan Rinda dan Max, keputusan Papi tidak pernah berani Max lawan sama seperti saat Rinda meminta Max menikahinya, salah satu alasan Max dia mendapatkan teguran dari Raffa.
Raffa tidak menerima putri satu-satunya menikah dengan pria yang menggunakan emosi, tidak bisa kontrol diri, mudah terpengaruh.
Saat itu Max bukanlah menantu idaman Papi, mendengar peringatan Max tahu diri sehingga langsung menolak.
Keluarga Chrispeter sudah cukup baik kepadanya, tidak mungkin dia sanggup menentangnya.
Mendapatkan perintah perjodohan, Max tidak ada penolakan. Dia mengikuti apapun peraturan keluarga Chrispeter, walaupun mengorbankan kebahagiaannya, menyakiti dirinya.
Keputusan Boy menerima pertemuan dengan Amel karena akan menghentikan pernikahan Maxi, Boy tidak ingin hati Rinda yang sudah patah, menjadi hancur berkeping-keping.
Boy hanya ingin melindungi keduanya, tidak ada terpikirkan soal bisnis. Boy tidak menyangka bukan dia yang menyerang, tapi diserang balik.
Kehilangan saham bernilai triliunan tidak membuat marah, asalkan bisa memperbaiki hubungan Rinda dan Max, keinginan Boy hanya perjodohan dibatalkan, walaupun akan menghancurkan hubungan bisnis dengan keluarga Amel.
"Lian aku tidak mudah tertarik hanya dengan pesona kecantikan, cinta aku sudah ada kepada kamu, tidak bisa berpaling lagi." Boy menggenggam tangan Lian, menciumnya lama.
"Boy, Lian tahu kamu mencintai Lian, tapi ingat Boy cinta bisa berubah dalam sekejap. Apapun yang kamu lakukan di luar sana, baik demi kebaikan ataupun tidak, Lian mohon jangan bertindak sendiri."
Boy tersenyum menganggukkan kepalanya, memeluk lembut tubuh Lian, mencium keningnya.
Boy tidak pernah menyangka akan benar-benar jatuh cinta yang tidak bisa dia kendalikan, wanita cantik, pintar, cerdik, bernama, berpangkat sangat banyak, tapi saat hati sudah memilih letak nyaman sulit dikendalikan.
__ADS_1
"Bagaimana hubungan kak Max dan Rinda? Lian merasa sekarang Rinda banyak berubah tidak selucu dulu, sekarang lebih banyak diam." Lian mengeratkan pelukannya.
Boy juga merasakan hal yang sama, luka patah hati membuat Rinda hanya beberapa hal saja yang dibicarakan. Setiap hari dia sibuk bekerja agar bisa melupakan rasa patah hatinya.
Tidak ada yang bisa Boy dan yang lainnya lakukan, hanya bisa menghentikan pernikahan Max, menjaga Rinda.
"Sayang apapun yang terjadi dengan hubungan mereka, aku yakin Kak Maxi akan memperjuangkan hubungannya."
"Lian tidak yakin, kak Max hanya mementingkan diri sendiri. Kasihan Rinda terlalu lama menyimpan luka hatinya." Lian merasakan kesedihan.
Boy menghela nafas, perempuan selalu meragukan perjuangan laki-laki. Boy tidak ingin berdebat, baru saja baikan tidak mungkin bertengkar lagi. Apapun prasangka wanita dia benar.
Berjuang bukan hanya untuk Max, tetapi Boy juga. Dia ingin berjuang memperbaiki dirinya menjadi orang yang lebih penyabar, bisa mengendalikan diri agar saat menikah ucapan dan tindakan tidak menyakiti perasaan wanitanya, keluarga yang harmonis dia yang bisa mengontrol diri, dan mengendalikan keadaan.
"Amel cantik tidak Boy?"
"Cantik sekali." Boy langsung menutup mulutnya, wajah Lian langsung menatap tajam
Boy menggaruk kepalanya, salah lagi ucapannya, padahal hanya ingin jujur jika Amel memang cantik, seksi, juga kata-katanya sangat manis.
Rinda dan Max tertawa mendengar pembicaraan Boy dan Lian, Rinda melepaskan earphone pasti sebentar lagi Lian teriak, dugaan Rinda tepat Max melepaskan earphone mendadak mengusap telinganya.
"Kenapa Lian marah? dia yang bertanya."
"Kak Lian hanya basa-basi agar Boy memujinya cantik." Rinda tersenyum melihat Max yang mangut- mangut.
Tatapan mata Max melihat wajah Rinda yang disinari bulan, senyuman Rinda terlihat sangat indah di mata Max.
"Bulannya cantik kak Max?"
"Kamu jauh lebih cantik." Max tidak berpaling dari wajah Rinda.
"Bulan cantik karena dia ciptaan tuhan." Rinda menatap Max yang tersenyum menatapnya.
"Kamu juga makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, bulan hanya indah di malam hari, bulan juga milik alam yang bisa dinikmati banyak orang, tapi kamu cantik siang dan malam." Max tersenyum mendengar ucapannya, ingin dia lanjutkan tapi ragu.
__ADS_1
Rinda tertawa melihat Max tidak pernah Rinda sangka pria pendiam bisa mengungkap kata puitis juga.
"Bulan milik alam, Rinda milik siapa?" Rinda menatap Max yang langsung melihat ke arahnya
Max menyentuh wajah Rinda, jantungnya berdegup. Sekarang Max tidak tahu harus mengatakan apa, dia ingin mengatakan milikku, takut Rinda tidak terima, ingin menciumnya takutnya mendapatkan pukulan.
"Ternyata kecantikan hanya sia-sia, tidak ada yang memilikinya." Rinda melihat ke atas langit, menatap bulan.
"Kamu cantik Rinda, hati kamu juga baik. Seandainya aku bisa menjadi pemiliknya, mungkin akulah pria paling beruntung di dunia ini."
"Amel juga cantik, kak Max ingin memilikinya juga." Rinda menundukkan kepalanya.
"Aku hanya bisa melihat kecantikan kamu, karena hanya ada satu wanita di dalam ingatanku." Max melihat ke arah bulan.
Rinda memalingkan wajahnya, seandainya sekarang dia bisa mengungkapkan betapa bahagianya dirinya, Rinda ingin sekali lompat-lompat, teriak karena terlalu bahagia.
Rinda berusaha menahan diri, dia tidak ingin image rusak di depan Maxi.
Keheningan terasa, Max membuka jaketnya memasangkan kepada Rinda. Mata Max dan Rinda bertemu membuat jantung keduanya berdegup kencang.
Max mendekati wajah Rinda, ingin mencium bibirnya. Suara Max teriak merasakan rambut sakit, melihat Raffa menatap tajam.
Rinda dan Max langsung berdiri, saling tatap melihat Raffa. Max langsung menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Apa yang sedang kalian berdua lakukan di tengah malam berduaan, kalian tahu berduaan seperti ini sangat berbahaya, orang ketiga antara kalian setan.
Rinda dan Max langsung menahan tawa melihat Raffa, bagi Max dan Rinda Papi Raffa yang orang ketiga.
"Papi kita berdua, terus Papi datang menjadi orang ketiga." Rinda cekikikan melihat Papinya.
Raffa tersenyum melihat putrinya tertawa santai, tawa yang sudah lama menghilang, tawa yang Raffa rindukan.
Rinda melangkah memeluk lengan Raffa, satu tangannya menggenggam tangan Max berjalan bersama menuju rumah, Rinda sangat bahagia malam ini menjadi kebahagiaan pertama setelah bertahun-tahun.
"Papi, I LOVE YOU, Rinda cinta Papi." Rinda mencium pipi Raffa.
__ADS_1
"I love you to sayang." Raffa tersenyum.
***