
Hari sudah gelap, Boy melangkah bersama Lian, Maxi dan Rinda. Mereka akan pergi ke tengah hutan untuk mencari pintu keluar terowongan.
Reza, Miko, Tari dan Kai mencari keberadaan tahanan. Reza masuk ke dalam bangunan kosong, menghidupkan tabletnya melihat seluruh penjaga sudah keluar dan berjaga di perbatasan.
"Za jangan meledakan apapun sebelum mendapatkan perintah apapun." Kaira menatap Reza yang menganggukkan kepalanya.
Suara langkah kaki berlarian terdengar, Reza dan Mentari diikuti oleh Kai dan Miko langsung berlari ke tengah hutan, dugaan Boy benar jika mereka sedang diawasi.
Siapapun yang masuk markas Chrispeter, tidak akan bisa keluar tanpa izin yang memegang kunci. Siapapun yang masuk sudah atas izin yang memegang kunci.
Generasi Kakek mereka hanya Haikal dan Rian yang bisa masuk, siapapun yang di penjara sudah dapat izin, sehingga tidak ada peluang untuk keluar. Seluruh penjaga semuanya terkunci di markas, jika ada yang ingin keluar harus menemui Haikal atau Rian.
Berlanjut diteruskan Rindu dan Bianka mendapatkan amanah, hanya empat orang yang bisa memasukkan dan mengeluarkan. Haikal, Rian, Bianka dan Rindu Chrispeter.
Boy merasakan aneh jika kunci hanya bisa di masuki oleh empat orang, dilanjutkan oleh Boy dan Rinda, mustahil Reza, Kai, Lian, Tari, Maxi dan Miko bisa masuk juga, kecuali semuanya sudah menjadi kunci keluar dan masuk markas.
"Kalian tidak akan pernah bisa lari dari tempat ini." Reza berhenti saat melihat seseorang berdiri di depannya.
"Reza Chrispeter Arvin, sekarang kamu sudah besar bawa kami keluar dari tempat ini."
"Bermimpi!" Reza langsung maju menyerang.
Miko langsung ingin maju membantu Reza, tapi sebuah pukulan membuat Miko terlempar, Kaira dan Tari menatap kaget melihat tubuh seseorang besar tinggi.
"Besar sekali, bisa remuk tulang belulang Tari." Mentari mundur sebuah tendangan membuat Tari terlempar.
"Tari." Kai langsung ingin menangkap tangan Mentari, tapi tamparan kuat menghantam wajah Kaira.
Kaira tergeletak, merasakan penglihatannya gelap. Langsung memejamkan mata berusaha untuk konsentrasi, Tari melihat Kai yang tengkurap tidak berdaya langsung mengeluarkan jarum beracun yang Rinda berikan.
Seseorang berbadan besar mencekik Kai, Tari langsung berlari menancapkan suntikan di leher, menendang kuat, tapi tubuhnya yang terlempar.
"Gila! dia yang dipikul, Tari yang terlempar." Tari teriak kuat.
Tubuh kecil Tari terangkat, lehernya dicekik kuat. Tari menancapkan jarum berkali-kali sampai Kai menyayat leher dengan pisau.
"Tari kamu baik-baik saja?" Kai menarik Tari agar berdiri.
"Baik dari mana kak, Tari hampir mati menendang Tari terlempar, dipukul tangan Tari hampir patah, mereka manusia atau besi, lebih kuat dari manusia di pulau Heart." Tari meringis merasakan sakit badannya.
Kaira melihat tangannya yang tidak memiliki darah, orang yang melarikan diri tidak bisa dianggap remeh.
__ADS_1
"Mereka juga kebal suntikan, racun mematikan juga tidak berefek?" Kai melihat suntikan Rinda.
"Tidak ada isinya kak Kai, ini pemberian Rinda tiga tahun yang lalu." Tari tersenyum menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Kaira melotot langsung mencubit telinga Tari, bisa-bisanya Tari membawa alat tidak berguna.
"Buang suntikkan itu."
"Tidak mau, ini kenang-kenangan dari Rinda. Tari sangat menyayanginya." Tari memeluk suntikan membuat Kai meneteskan air matanya.
"Nanti kak Kai akan memberikan kamu kenangan, kita jalan-jalan, belanja menonton bersama, berhenti bekerja dan bertarung. Tari boleh memilih satu keinginan." Kaira memeluk Tari, mengusap rambutnya.
Tari langsung menangis memeluk Kai erat, mengucapkan terima kasih berjanji akan menagihnya.
Dua buronan tertawa kuat melihat Kaira dan Mentari, menatap dua wanita dengan tajam. Kaira tidak bisa melihat mata karena sudah hitam dan kotor sekali.
"Tari ingin bertanya boleh, Ayah Tari pasti kotor seperti kalian? Ayah sudah tidak ada lagi, Tari tidak tahu wajah Ayah." Tari menyentuh sebuah foto menunjukkan kepada dua orang buronan.
Kaira tidak bisa menahan kesedihannya, ternyata Mentari mengambil foto yang sudah Maxi coret.
"Dia Ayah Tari, keluarga Chrispeter membebaskan Ayah lalu menikah lahir Tari, tapi Ayah sudah pergi."
"Paman kenal Ayah tidak?"
"Dia pemimpin kami, biasnya dipanggil Tuan. Dia memimpin bersama sahabatnya."
"Wajah Tari mirip Ayah tidak?"
"Tidak sama sekali, kamu mungkin bukan anaknya."
Bibir Mentari langsung monyong, air matanya langsung menetes memukul kepala buronan yang tersenyum melihat Tari.
"Tari mirip Ayah."
"Iya kalian mirip."
Mentari langsung turun, menyentuh tangan besar yang menggendong. Melihat ke arah wajahnya, Tari mengukur besarnya kaki.
"Kak Kai mereka mirip raksasa."
"Nona Kaira, tolong keluarkan kami dari sini."
__ADS_1
"Aku tidak bisa menjamin, karena hanya dua orang yang punya hak tempat ini. Kita bicarakan dengan Boy dan Rinda."
"Kalian semua punya hak di sini, saat kamu kecil pernah datang bersama yang lainnya, langsung memiliki hak keluar masuk, Maxi dan Miko juga punya hak di sini karena saat mereka keluar dari tempat ini, statusnya langsung diubah, dua gadis kecil pernah dibawa ke sini juga mendapat hak keluar masuk tempat ini. Tolong bawa kami keluar."
"Jadi ucapan kak Boy benar, kak Max kak Mik, Boy, Reza, Rinda, Lian, Tari dan aku sudah mendapatkan izin sejak kecil atas tempat ini."
"Kami sudah lama menunggu kalian datang, tapi tidak ada satupun yang berkunjung selama puluhan tahun, Miko dan Maxi juga jarang datang, hanya Max yang sesekali muncul, tapi dia sangat dingin dan selalu mengabaikan kami, beberapa tahun ini Max mulai tidak kelihatan, jadinya memberontak pilihan terakhir."
"Siapa nama paman?"
"Tidak punya nama."
"Paman ini Ahlan yang itu Ahlam." Tari tersenyum, Kai terserah dengan Tari.
"Paman jangan pukul Tari lagi, hampir pingsan ini." Tari memukul dengan ranting kecil.
"Di mana Reza dan Miko." Kaira melihat sekeliling.
Tari langsung berlari bersama Kaira, mendengar suara pertarungan yang tidak imbang.
Reza sedang bertarung dengan seseorang yang badannya jauh lebih besar dari Reza, berkali-kali Reza terlempar.
Melihat Reza sudah muntah darah, Miko langsung berlari melindunginya sampai sebuah senjata menembus dada Miko.
Kaira teriak kuat langsung berlari histeris, Tari juga berlari langsung melihat ke belakang meminta dua orang besar menolong Miko.
Kaira langsung berdiri di depan Miko, pukulan kuat menghantam Kai membuatnya terlempar jauh, Reza menatap tajam, langsung berdiri menyerang kembali.
Memanjat tubuh besar, langsung mengeluarkan senjatanya, menembak kepala sampai jatuh.
"Awas Za." Miko berusaha berdiri, tapi langsung tumbang.
Kepala Reza hampir terkena pukulan sampai seseorang menariknya, menahan kuat menyelamatkan Reza yang sudah dipeluk oleh Tari.
"Apa yang kamu lakukan, kita harus membunuh mereka, mengambil tangan mereka untuk membuka gerbang dengan selamat, karena harus mematikan laser yang tertanam di perbatasan."
"Hanya orang delapan yang bisa keluar, berarti ada dua yang tersisa, sudah satu yang mati setidaknya butuh satu orang lagi."
Pertarungan dua orang berbadan besar terlihat saling membunuh membuat Reza kebingungan sambil melihat tangannya.
***
__ADS_1