BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 HAN, MIC, KEN, REN


__ADS_3

Suara teriakan Kaira terdengar, Miko menggenggam erat tangan Kai yang berkeringat. Mendengar teriakan istrinya membuat Miko meneteskan air matanya.


"Kamu bisa Kai." Miko merasakan cengkraman kuat.


"Masih sanggup tidak Nona?" dokter melihat keadaan Kaira.


Miko langsung panik melihat Kaira jatuh pingsan, seluruh dokter langsung bertindak, Miko juga hampir pingsan melihat istrinya yang langsung melakukan perawatan.


Banyak dokter yang keluar masuk ruangan Kaira, Miko berdiri di samping Kaira menunggu untuk sadar agar bisa melakukan operasi untuk mengeluarkan bayi.


Seluruh keluarga duduk lemas melihat kondisi Kaira, operasi sudah dimulai demi menyelamatkan Kaira dan anaknya.


Rinda meringis kesakitan, di dalam kamar bersalin. Menatap Maxi yang wajahnya pucat mengikuti Rinda mondar-mandir.


"Bagaimana keadaan Kaira?"


"Sekarang sedang di operasi, Kaira pingsan."


"Kak Lian?"


"Sepertinya sudah lahir."


"Han unggul menjadi cicit utama, sedangkan Mic yang kedua."


Maxi langsung berdiri melihat kaki Rinda mengalir semakin banyak air ketuban, dokter langsung berdatangan meminta Rinda bersiap.


"Dokter, anak saya belum cukup bulan." Maxi menggenggam tangan Rinda.


"Tenang saja tuan Maxi, bayi sudah kuat karena sudah tujuh bulan lebih."


Rasa sakit menyerang, Rinda memejamkan matanya mencengkram tangan Maxi menggunakan kukunya yang panjang, membuat Max meringis merasakan sakit tangannya, tapi Max yakin Rinda sedang menanggung sakit yang berkali-kali lipat lebih dari lukanya.


"Arrggg ...." Rinda teriak kuat mencengkram kuat Max dan ranjang.


"Sayang, tangan kamu bisa terluka, genggam saja kak Max."


Rinda meringis kesakitan, menarik rambut Max sampai wajah Max terkena cakaran.


Rindu masuk menatap Maxi yang berdarah, mengambil tisu mengelap darah dari wajah Max.


"Rinda, tarik nafas sayang buang lagi, tarik lagi. Kamu wanita hebat, berjuanglah demi anak kamu."


"Sakit Mami, perut Rinda sakit sekali."


"Tidak ada yang melahirkan mudah sayang, karena itu kita mempertaruhkan nyawa. Rinda kontrol diri, setelah melihat dia lahir sakit akan terobati." Rindu mengelap keringat di kening Rinda.


Dokter langsung meminta Rinda mengejan, Max meneteskan air matanya melihat perjuangan istrinya.


"Sekali lagi nona."


Rinda mendorong kuat, sampai Rindu langsung mengangkat cucunya yang menangis sangat kuat.


Maxi langsung menangis sesenggukan melihat Rinda dan putranya yang menangis, Rindu tersenyum menatap Putri dan menantunya yang berpelukan.


Bayi dimasukkan ke dalam tabung, beberapa dokter langsung menjaga bayi Rinda dan Max.


"Sudah Max, biarkan dokter membersihkan Rinda."

__ADS_1


"Max ingin melihat baby Mic."


"Iya dia harus dirawat karena belum cukup bulan. Rinda sayang Mami keluar dulu melihat keadaan Kaira dan Tari yang sedang menjalani operasi." Rindu mencium kening Rinda.


Seluruh dokter mengucapkan selamat, menundukkan kepalanya melihat Rindu keluar ruangan persalinan.


Di depan kamar Kaira semua orang berdiri tegang, Rindu tidak ingin memberikan kabar bahagia karena semua sedang khawatir melihat keadaan Kaira.


"Keisya di mana?"


"Masuk." Bianka tersenyum mengucapkan selamat untuk Rindu dengan suara pelan.


"Selamat juga kak Bi atas cucu pertama."


"Kita belum bisa bahagia, selama Kaira dan Tari masih berjuang."


Keisya menatap putrinya yang memejamkan mata lemas, Miko tidak berhenti menangis mengkhawatirkan keadaan Kaira.


Senyuman Kei terlihat saat mendengar suara bayi menangis kuat, langsung menyambutnya melihat cucunya yang menangis.


"Mama, bagaimana keadaan anak Kaira?"


"Dia sempurna, juga sangat sehat." Keisya tersenyum.


Miko langsung bersujud sambil menangis, karena kelahiran sempat terhenti. Dokter mengkhawatirkan bayi meminum racun berbahaya yang bisa mengakibatkan fatal, syukurnya baby Ken bisa lahir dengan selamat walaupun melewati proses operasi.


Kaira tersenyum menatap Miko yang memeluknya erat, menciumi wajah Kai karena sangat takut jika istri dan anaknya tidak selamat.


"Terima kasih sayang."


Keisya keluar langsung memeluk Riki erat, menangis sesenggukan membuat semua orang khawatir.


"Jangan menangis sayang, putri kita wanita kuat."


"Cucu kita sudah lahir, dia sehat dan sangat sempurna."


Semua orang teriak bahagia, saling berpelukan hanya menunggu keadaan Mentari yang mengalami pendarahan.


Semua orang mendekati Reva dan Asep yang berdiri di depan ruangan Tari bersama Dara, Bunga, bahkan Boy juga sudah ada di sana.


Reza berada di dalam ruangan operasi mendampingi Tari yang tidak sadarkan diri. Air mata Reza tidak berhenti mengalir mengkhawatirkan keadaan Tari yang takutnya tiba-tiba kritis.


"Tuan, kita akan segera mengeluarkan bayi."


Reza hanya menganggukkan kepalanya, hati Reza terasa hancur mendengar kemungkinan bayinya meninggal karena tidak ada pergerakan di dalam rahim selama pendarahan.


"Ya Tuhan aku tidak meminta apapun melebihi yang aku miliki, tapi sebagai seorang Daddy aku menginginkan istri dan anakku dalam keadaan selamat." Reza berdoa di dalam hati.


Bayi sudah dikeluarkan, tidak terdengar suara tangisan. Reza tidak berani memandang ke arah bayinya.


Keisya dan Rindu masuk menatap Reza yang terlihat sangat sedih, mendekati bayi yang masih sangat kecil.


Dokter berusaha mengembalikan detak jantung bayi, Kei langsung mengambil alih membantu bayi Ren agar bisa menangis.


"Ayo sayang bangun, saudara-saudara kamu sudah menunggu. Daddy kamu terlihat sangat sedih." Rindu mengusap kening Ren yang tidak bergerak.


Keisya menekan dada pelan, memompanya cukup lama karena bisa merasakan kehangatan dari tubuh Rendri kecil.

__ADS_1


"Kei."


"Dia masih hidup Rindu?" Keisya meneteskan air matanya.


"Mama, jangan dipaksa. Reza sudah ikhlas karena prioritas Reza keselamatan Tari." Reza menatap anaknya menghentikan Keisya.


Reza memeluk baby Ren langsung menggendong merasakan kehangatan dada Reza yang meneteskan air matanya.


"Maafkan Daddy dan Mommy ya sayang gagal mempertahankan kamu." Reza mengusap punggung kecil putranya.


Suara tangisan bayi terdengar, kepala Rindu dan Keisya yang tertunduk karena menangis langsung terangkat menatap bayi dalam pelukan Reza.


"Berikan kepada Mama Za." Keisya langsung meminta dokter menyiapkan alat juga tabung inkubator.


Reza terdiam menjadi patung melihat bayinya bergerak, tangan Reza gemetaran langsung terduduk lemas.


Tari sadar langsung mencari Reza, melihat suaminya terduduk sambil menangis membuat Tari langsung menangis menyentuh perutnya.


"Maafkan Mommy, semua ini salah Tari yang tidak bisa menjaga kandungan." Tari langsung ingin turun, Reza berlari langsung menahannya.


"Tari."


"Maafkan Tari yang membunuh baby Ren."


"Apa yang kamu bicarakan?" Reza memeluk Tari.


"Reza, baby Ren sudah stabil." Rindu mencium kening Tari meminta untuk tenang.


"Biarkan bayi kalian dalam perawatan, dia baru memasuki tujuh bulan, sama seperti Rinda yang baru jalan delapan bulan, hanya anak Kai dan Boy yang sudah bisa dijenguk." Keisya menyemangati Tari dan Reza yang menangis bersama.


Rindu dan Kaira langsung keluar, memeluk Reva yang menangis sesenggukan.


"Rendri dan Reza memiliki ikatan batin yang kuat, Rindu rasa gen Asep lebih kuat."


"Kamu salah Rindu, dia sedingin Reza tapi hatinya selembut Tari. Rendri memang sangat mirip Reza." Riani tersenyum memeluk suaminya.


"Syukurlah mereka semua lahir dengan selamat." Bunga tersenyum bahagia.


"Siapa saja nama mereka?" Haikal penasaran.


"Cicit pertama Benz Hansen Chrispeter Arnold." Bunga membayangkan kelucuan Han.


"Siapa nama panggil Benz? Rian menatap Haikal yang tidak berhenti tersenyum.


"Hansen, panggilannya Han."


"Pertama Han, kedua Michael, tapi di ganti Mickael Chrispeter karena dia menangis terus." Raffa menghitung berapa kali Maxi dan Rinda mengganti nama.


"Ketiga Kenzo Chrispeter, barulah si bungsu Rendri Chrispeter Arvin."


"Lucunya melihat mereka nantinya, sekarang kembali lagi ke awal semuanya lelaki. Hansen, Mickael, Kenzo, dan Rendri. Boleh aku menambahkan nama Akbari di nama Kenzo untuk mengingatkan kita kepada Akbar yang tidak diteruskan namanya." Kiara tertawa sedang melakukan panggilan dengan suaminya.


"Kenzo Akbari Chrispeter." Miko tersenyum menatap layar ponsel menyetujui keinginan Akbar.


***


TAMBAH BONUS LAGI SATU

__ADS_1


__ADS_2