
Suara Rinda tertawa belum juga berhenti, Tari meringis melihat hidung Reza yang masih mengeluarkan darah, menutupnya dengan kapas.
"Pasangan tidur berpelukan, kenapa kamu memeluk kaki Za?" Boy tertawa lucu melihat wajah kesal Reza.
"Namanya juga tidur Boy, mana sadar jika kaki juga terasa nyaman."
"Nyaman hidung sampai berdarah begitu?" Lian menghirup bau mie yang sangat wangi.
Kaira menggelengkan kepalanya, menyiapkan Miko mie untuk makan bersama. Lian juga menyuapi Boy makan.
"Kita hanya makan Indomie, tidak ada makanan yang lebih layak lagi, juga lebih sehat."
"Ada, hanya saja lagi mengidam Indomie." Rinda memakan mienya mengejek Reza.
Semuanya makan pagi langsung sekalian makan siang, setelahnya baru berangkat ke penjara Chrispeter.
"Bersiaplah, kita pergi sekarang." Maxi langsung melangkah keluar diikuti oleh Rinda.
Reza menarik tangan Rinda, menyingkirkan rambutnya melihat berkas gigitan. Mata Reza tajam, Maxi menarik Rinda mengatakan jika mereka masih ditingkat wajar.
"Menurut kak Maxi yang tidak wajar berhubungan intim?"
"Bukan, seperti kalian tadi tidur memeluk kaki bangunnya hidung berdarah." Maxi tertawa bersama Rinda.
Boy memukul kepala Reza meminta segera turun, Tari langsung melangkah mengikuti yang lainnya mengandeng tangan Reza yang wajahnya cemberut.
Semuanya mengganti baju yang sudah disiapkan, megambil senjata masing-masing. Rinda tersenyum melihat penampilannya menggunakan baju serba hitam, kacamata hitam, rambutnya di ikat tinggi memperlihatkan bekas merah dilehernya.
Lian mendekati Boy meminta dibuatkan gigitan merah seperti Rinda, Lian tidak ingin hilang lagi, berpisah lagi.
"Rinda bagaimana cara membuat gigitan merah dileher, Lian ingin mengigit sendiri tapi tidak sampai."
"Kak Max yang membuatnya."
"Ayo Boy, Lian ingin dua."
"Tidak bisa Lian, lagi tidak ...."
"Kak Max buatkan Lian seperti Rinda, dua gigitan kanan dan kiri." Lian menarik tangan Maxi.
Boy langsung teriak kuat, meminta Lian mendekatinya. Tari melihat bekas merah Rinda langsung meminta dibuatkan juga, Maxi menepuk jidat melihat Tari dan Lian berlagak polos.
Tatapan Reza langsung tajam memeluk Tari dari belakang, menyingkir rambut Tari menghisap lehernya membuat Reza tertawa konyol mengacak rambut Tari.
"Kenapa di tengah bagian belakang, Tari tidak bisa melihatnya. Di samping atau di depan." Tari menunjuk bagian lehernya.
__ADS_1
Reza tertawa membalik tubuh Tari, mencium leher putih Tari. Boy terdiam memegang rambut Lian, Maxi memijit pelipisnya merasakan konyol tingkah Reza.
"Reza Tari kira-kira woy. Di sini banyak orang." Boy mengerutkan keningnya.
"Reza harus bagaimana? menikmati kepolosan sangat nikmat." Reza tertawa melihat leher Tari merah.
Rinda dan Lian melihat leher Tari, kanan dan kiri merah kecil. Lian langsung memohon kepada Reza untuk dibuatkan juga.
"Minta kepada Boy, jika dia menolak akan aku bantu buatkan."
"Boy." Lian memelas.
"Tunggu kita menikah, jangankan leher kamu sekujur tubuh kamu aku merah kan." Boy menggenggam tangan Lian.
"Bagaimana jika Lian hilang lagi?"
"Tidak akan hilang sayang, percaya sama kak Boy."
"Lian tidak percaya." Berlian cemberut.
Kaira yang berdiri di belakang sekali bersama Miko hanya tersenyum, memasang kacamatanya melangkah mendekat.
"Pernah mendengar cerita pengumpulan darah di bagian leher yang mengakibatkan kematian." Kaira melangkah lebih dulu.
"Jika tidak percaya cari tahu saja."
"Kira-kira kak, penggumpalan terjadi bukan karena hisapan kecil, tapi memang karena gigitan yang lama mengenai urat leher." Tari menatap tajam.
"Pintar, tenyata Tari tidak polos." Kaira tertawa.
Tari memonyongkan bibirnya, langsung mengejar Kai yang sudah keluar gerbang. Miko mengeluarkan mobilnya, Kaira langsung masuk bersama Tari dan Reza.
Maxi juga mengeluarkan satu mobil, melaju bersama Rinda, Lian dan Boy.
Dua mobil melaju dengan kecepatan tinggi sampai berhenti di gerbang perbatasan, seseorang mendekat melarang Maxi dan Miko masuk.
"Buka gerbangnya jika masih ingin hidup." Boy menatap tajam.
Gerbang langsung terbuka, melaju menuju bangunan bawah tanah.
Mobil berhenti, semuanya langsung masuk para penjaga mempersilahkan masuk. Boy melangkah lebih dulu bersama Kaira, Lian melangkah mundur melihat bangunan bawah tanah membuat kepalanya pusing.
Rinda melangkah masuk bersama Miko, sedangkan Lian dan Tari ditemani oleh Maxi melangkah ke lantai atas, Reza sudah pergi lebih dulu ke ruangan khusus CCTV.
"Masuk ke sini Boy." Kaira melangkah masuk ke dalam penjara bawah tanah, melihat ada lima sel yang terbuka.
__ADS_1
Boy berdiri mendekati para tahanan lainnya yang masih terkurung, tidak ada yang merespon kedatangan Boy dan Kai. Semuanya hanya sibuk dengan aktivitas masing-masing.
"Mereka tidak menyadari jika beberapa orang sudah menghilang." Kai melihat seorang wanita mengendong kayu sambil mengigit tangannya.
Rinda dan Miko juga masuk, melihat sel yang kosong. Rinda menghidupkan tabletnya, mendeteksi kemungkinan ada jaringan lain di dalam penjara.
"Di sini tidak memiliki jaringan?" Rinda menunjukkan tabletnya.
"Bukan tidak ada, seseorang sudah membuat jaringan baru yang hanya bisa digunakan oleh dirinya, jika ada jaringan baru otomatis langsung diblokir." Boy menatap Kai.
"Kak Boy benar, ada dua kemungkinan jaringan dikendalikan dari jarak jauh, bisa juga jarak dekat." Kai mengetuk jeruji besi, membuat beberapa orang tersisa langsung berdiri menatap Kai.
Di lantai atas, Maxi sedang berkomunikasi dengan tim penjaga saat kejadian. Tari juga duduk mendengarkan, sedangkan Berlian melihat ke arah luar jendela.
"Di mana bangunan bawah tanah? ada kemungkinan tidak ada pintu lain selain pintu utama." Lian menatap tajam.
"Mustahil, sudah hampir enam puluh tahun penjara bawah tanah tidak pernah kebobolan, ini pertama kalinya, padahal keamanan sudah sangat ketat."
"Ketat. Bohong! jika ketat seharusnya tidak kehilangan, orang jahat semakin pintar, tapi orang pintar semakin bodoh dan terlihat santai. Keamanan saat tempat ini dibangun sangat menjaga dengan sepenuh jiwanya, tapi setelah digantikan turun-temurun penjaga mulai lengah." Lian menatap tajam.
"Lian benar sebagus apapun teknologi jika dianggap remeh, santai tetap bisa dikendalikan karena teknologi sesungguhnya buatan manusia, berbeda dengan otak dan pikiran yang terdidik dengan baik oleh waktu." Reza masuk berdiri di samping Lian.
Reza menghubungi Boy untuk tetap berada di bawah, Reza satu pemikiran dengan Lian jika ada pintu lain yang sudah dibuat selama bertahun-tahun.
"Za orang bahagia akan melupakan masa lalu, tapi orang yang terluka menyimpan dendam seumur hidupnya. Kematian bukan lagi hal yang menakutkan, kebahagiaan orang dendam melihat musuh terpuruk."
"Banyak teka-teki yang sulit dipecahkan, antara dendam, amarah, benci juga kehancuran."
"Apapun itu, semuanya negatif." Tari melihat seseorang yang mengawasi mereka, memberikan senyuman termanis melangkah mendekatinya.
Reza langsung bergerak, menahan tangan Tari. Membiarkan mereka pergi, karena sedikit demi sedikit mereka akan bermunculan.
"Mereka ada di sini." Boy memberikan pemberitahuan, Lian menatap Maxi yang melihat jauh ke depan.
***
Jadwal update tidak normal lagi, waktunya tidak tepat, karena harus mengutamakan pekerjaan Dunai nyata.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP
***
__ADS_1