
Seluruh keluarga menahan tawa melihat Bara yang keluar kamar tertatih-tatih masih ngos-ngosan.
"Kak Bara takut sama kak Bi?" Raffa memandangi Bara yang masih lemas, duduk di dekat tangga.
"Siapa yang tidak takut! kalian keluarganya saja takut, apalagi aku." Bara mengatur nafasnya.
"Makanya jadi orang jangan jahil! jadinya dijahili juga." Bunda mendekati Bara, membantunya berdiri dan duduk di sofa.
"Kamu makan dulu, Raffa minta Bi turun untuk makan juga."
Bunga ke dapur mengambilkan makan untuk Bara, juga meminta maid menyiapkan makanan untuk Bianka.
Bara mengambil makanan dari tangan Bunga, tapi saat dia memegang sendok langsung gemeter. Bunda mengambil alih piring dan sendok ingin menyuapi Bara. Mata Bara fokus menatap sendok makan yang akan masuk ke dalam mulutnya.
"Bara bisa makan sendiri Bunda,"
"Dengan gemeter, nanti nasinya bukan masuk mulut tapi hidung." Bunga tersenyum dan mengerakkan sendok ke mulut Bara.
Dengan senyum bahagia Bara menerima setiap suap, sampai sendok terakhir. Di sini Bara merasakan kekeluargaan, walaupun keluarga Chrispeter terkenal dengan kekejamannya, tapi kebersamaannya tidak ada duanya.
"Bunda, Kenapa seluruh keluarga berada dalam satu mansion." Bara sangat penasaran melihat semuanya menetap, hal yang mustahil jika mereka tidak bisa membuat ratusan mansion lainnya.
"Karena kami tidak siap berpisah, tapi bukan berarti tidak ada yang boleh keluar. Amanah dari Oma untuk selalu bersama."
Seorang pria datang menatap Bara tajam, mata mereka bertemu. Raffa datang dan memeluk Raffi juga Raka sepupunya yang baru kembali dari Indonesia.
"Ghavin!" Raka menatap Bara tajam.
"Mana Ghavin? dia Bara suaminya kak Bianka." Raffa yang menjawab.
"Lama tidak bertemu Raka." Bara tersenyum menyalami Raka yang terkejut.
"Raffa kamu lupa kalau kita pernah bertemu Ghavin tiga tahun yang lalu." Raka menatap Raffa yang sibuk memainkan ponselnya.
"Ghavin Pengusaha sombong, angkuh dan banyak gaya." Raffa mengigat wajah Ghavin dan langsung melotot melihat wajah Bara.
"Bara dan Ghavin! kalian satu orang tapi dua profesi dan sifat juga ketenaran berbeda jauh." Raffi menatap Bara sambil tersenyum lembut.
__ADS_1
"Sudahlah jangan bahas pekerjaan terus, siap-siap satu jam lagi ayah meminta seluruh keturunan Chrispeter kumpul. Pasti ada pengumuman!" Reva menyerahkan minuman yang dibuat Mami Riani untuk Bara.
"Pengumuman apa?" Raka penasaran dan memandangi sepupunya.
"Perjodohan! amanah dari Oma." Semuanya menatap Reva kaget.
"Kenapa harus kaget! tidak akan ada pemaksaan, ada Riki dan Kei menjadi personil satu. Berarti aku dan Raffi aman dari perjodohan." Reva cengengesan melihat kepanikan.
"Tidak mungkin aku juga, karena kak Bi sudah menikah. Hayo Raffa! pilih kak Rindu apa kak Rinda?" Raka tertawa melihat wajah Raffa yang memucat.
"Jangan Rinda! nikah saja sama Rindu." Bara menimpali.
"Kenapa? karena kamu mencintai Rindu, masih berharap bisa menikah dengan Rindu." Bianka turun dari tangga menatap Bara dingin.
"Memang boleh!" Bara menahan tawa melihat ekspresi Bianka.
"Tentu boleh, pertemuan keluarga nanti aku akan mengumumkan perceraian kita." Bianka bicara serius membuat jantung Bara berdegup.
Bara berdiri mendekati Bianka, mata bertemu dengan Bi. Tangan Bara menangkup wajah Bianka dan menyatukan hidung mereka.
Bianka hanya diam, melepaskan tangan Bara dan melangkah pergi menuju ruang makan.
"Bianka ngambek serem banget!" Bara langsung duduk lagi, tersenyum kepada para jomblo yang menatapnya.
"Kak Bara, Nayla di rawat!" Raffa baru teringat soal Nayla yang masih koma.
Bara langsung meminjam ponsel Reva untuk menghubungi Kristan, dengan tatapan dingin Bara mendengarkan penjelasan Kristan soal Nayla yang drop. Sebelumnya Kristan diserang, dan Gerry tewas.
"Apa? Gerry meninggal!" Bara menggenggam erat tangannya.
"Bagaimana dengan Clori?"
Bara terduduk lemas, memejamkan matanya sahabatnya menutup mata karena perintahnya untuk melindungi adikmu, hal yang paling Bara benci jika dekat dengan orang. Belum lagi Clori yang menghilang terjatuh ke jurang. Adiknya juga dalam keadaaan belum sadar, ingin sekali Bara menghancurkan segalanya.
"Sabar kak Bara! di dalam keluarga Chrispeter soal saling melindungi sangat dipegang teguh. Tapi kami selalu diajarkan adanya rasa kehilangan, setiap manusia di dunia ini pasti akan mati. Tapi waktunya saja kita tidak pernah tahu." Raffi tersenyum menepuk pelan pundak Bara.
"Tapi aku banyak membunuh, tapi mengapa yang terbunuh orang yang berada disekitar aku."
__ADS_1
"Apa kak Bara berharap kakak yang seharusnya terbunuh." Raffa merinding membayangkan dunia Bara.
"Raffa kamu yang belum pernah membunuh mana tahu rasanya, menyesal juga puas!" Reva melotot ke Raffa.
"Memangnya kak Reva pernah membunuh." Raka menatap Reva dalam.
"Pernah! membunuh anjing kamu." Reva langsung berlari, dia tahu Raka akan marah. Anjing kesayangan mati karena Reva tidak sengaja membuang racun dari atas kamarnya.
Keributan akhirnya dimulai, Raka langsung berlari mencari Mami untuk melaporkan Reva, karena tidak mungkin dia memukul Reva yang pasti dia akan kalah jauh.
Bara berbaring di sofa sambil memejamkan matanya, ingin sekali dia menemui Nayla. Turun ke dasar jurang mencari Clo, walaupun Bara tidak dekat dengan Clo tapi setidaknya dia sangat tahu sifat manja Clo. Selama ini Bara menahan Clo, agar dia menjadi wanita yang kuat. Bianka yang baru saja mendapatkan kabar soal Nayla, langsung duduk di samping Bara.
"Kita cari Clo, dan minta Asep menjaga Nayla. Setelahnya bawa Nay ke sini?"
"Nanti saja Bi, otak aku tidak bisa berpikir. Biarkan Nay bersama Kristan, aku belum siap mengirim Asep."
"Baiklah! tapi aku akan tetap mengirim pengawal." Bianka mengusap rambut Bara, tangannya masih menutup matanya. Bi tahu Bara sedang kehilangan.
"Bagaimana jika Clo meninggal, aku lebih suka dikhianati." Bara memeluk pinggang bianka.
"Semoga saja dia masih hidup, kita doakan yang terbaik untuk Gerry. Dia sahabat yang hebat dan juga setia."
"Aku benci kehilangan!" Bara mengeratkan pelukannya.
"Sama, kami keluar Chrispeter juga benci kehilangan. Luka pertama kali kepergian Oma, lanjut lagi kakek dan yang paling menyedihkan kehilangan paman Austin." Bianka awalnya menjalankan misi untuk menyelamatkan pamannya, tapi paman Austin memilih untuk mengorbankan nyawanya.
"Jadi Keluarga Chrispeter masih menganggap ayah Austin keluarga."
"Pastinya, dia akan menjadi sejarah keluarga Chrispeter, mengigat pengorbanan paman Rios."
Bara tersenyum menarik kepala Bianka untuk mendekati bibirnya, Bara mengigit pelan dan menikmati bibir Bi yang menjadi candunya. Bianka ingin menolak, takut ada yang melihat adegan mereka, tapi keributan masih terdengar karena kemarahan Raka ke Reva yang mengakibatkan seluruh keluarga heboh. Bianka dan Bara masih menikmati ciuman panjang mereka, tanpa memperdulikan teriakan Mommy Dara yang memarahi Reva.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
***
__ADS_1