BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 HALUSINASI


__ADS_3

Suara Lian tertawa membuat Boy menutup telinganya, Berlian sekarang sangat konyol membuat Boy merasa dirinya tidak lucu lagi.


"Lian di mana toko bunga Tari?"


"Sudah lewat."


Boy langsung mengerem mobil, menatap Lian yang tertawa jika dia melupakan Nando. Boy memutar mobil kembali meminta Lian untuk serius.


"Lian di mana tempatnya?" Boy menatap tajam mulai kesal.


"Sampai." Lian menghela nafasnya.


Boy langsung ingin turun, Lian menahan tangan Boy. Meminta Boy kembali ke Mansion, kening Boy berkerut menatap Lian yang aneh tidak ingin menyelamatkan Nando, setidaknya Nando yang sudah menghibur Mentari saat bertengkar dengan Reza.


"Boy, Lian takut juga kecewa melihat Tari memilih Nando, tapi sekarang Lian lega karena dia kembali mengkhawatirkan Reza."


"Iya, ayo kita masuk." Boy ingin membuka pintu, Lian menahannya.


"Apa Berlian sayang?" Boy menciumi wajah Lian.


Berlian menceritakan kedatangannya saat menemui Tari atas permintaan Reza, perasaan Reza tidak nyaman meninggalkan Mentari sendirian dengan seorang pria yang baru Tari kenal.


Lian memasang penyadap suara di dalam toko Mentari, mendengarkan percakapan Nando. Dia sudah pergi saat Tari juga pergi, Nando meninggalkan pesan suara permintaan maaf kepada Mentari.


Dia meminta maaf juga meminta bantuan Tari untuk menyingkirkan handphonenya, sehingga tidak ada yang bisa menemukan keberadaannya.


Nando sengaja membuat dirinya muntah darah, lalu meminum penawar racun dan melarikan diri menghilangkan jejak.


Lian mendengar pesan suara Nando yang dia tinggalkan khusus untuk Tari, dia menginginkan Tari hidup bahagia, jangan menangis lagi juga melupakan pria yang menyakiti hatinya, selalu tersenyum dengan apapun yang Tari lakukan.


"Nando tidak tahu jika Mentari bagian dari kita?" Boy menatap Lian binggung.


"Tidak, dia hanya tahunya Tari gadis biasa."


Berlian menatap ke dalam toko bunga, sangat cocok dengan Mentari. Tari yang ceria sangat menyukai yang indah.


"Lalu apa tujuan kita datang ke sini sayang?"


"Lian ingin hubungan Tari dan Nando baik."


Boy mengerutkan keningnya, Lian menatap Boy mengusap wajah Boy. Sejak kecil Mentari hanya mengenal keluarga besar Chrispeter, hanya dekat dengan Rinda, Kaira, Reza, Boy, Max dan Miko. Tidak ada orang luar yang Mentari kenal, selama pendidikan dia juga berada di lingkungan Chrispeter.


Hidup Mentari tergantung keluarga, tidak paham dunia luar. Tari kuat di dalam pertempuran, tapi sangat ketakutan di lingkungan asing.


Alasan Mentari bertahan dengan Reza karena tidak memiliki tujuan, dia tidak bisa marah, lari bahkan menyerang.

__ADS_1


"Boy, Nando orang luar pertama yang Mentari percaya. Kita cukup membuatnya selalu baik di mata Tari, karena Nando juga tidak memiliki niat jahat."


"Yakin tidak akan mengganggu hubungan Tari dan Reza pada masa depan?"


"Mengganggu tidaknya tergantung mereka Boy." Lian memeluk dengan manja.


"Lalu kamu, takut tidak dengan dunia luar?"


"Tidak, Lian sudah bertahun-tahun di luar, Lian bisa tertawa juga bercanda tanpa harus mengkhawatirkan hidup."


Boy mencium cepat bibir Lian membuatnya monyong menatap kesal. Boy tertawa gemes melihat kekasihnya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Lian melihat ke arah luar jendela. Boy fokus ke arah depan.


"Tuan, kenapa dulu berhenti menyentuh Lian, padahal kesempatan tidak datang dua kali?" Lian tetap menatap ke luar kaca mobil.


"Emhhh, entahlah aku tidak bisa saja."


"Tuan pasti berpikir kita tidak cocok, tuan takut Lian hamil anak tuan."


Boy tertawa, alasannya Boy berhenti karena amanah Bundanya. Bunda Bi sangat menyayangi Lian, meminta Boy menjaganya.


Bara pria yang sangat kejam, jahat, tapi dia tidak pernah menyakiti wanita. Menghargai, menghormatinya, bahkan menjaga pandangan juga tindakan.


"Berlian, wanita bukan hanya pemuas hasrat, tapi kehormatan seorang lelaki. Berhasilnya aku menjaga kamu, mencintai kamu sampai mati menjadi kehormatan terbesar dalam hidupku." Boy tersenyum, Berlian juga tersenyum.


"Terima kasih Boy, sejujurnya Lian membenci diri sendiri pernah memberikan izin." Lian mengusap air matanya.


"Setelah kita berpisah, aku berpikir satu hal seharusnya aku tetap melanjutkan hubungan kita, berharap kamu hamil anakku sebagai hukuman meninggalkan aku." Boy dan Lian tertawa bersama.


Lian selesai tertawa langsung memukuli Boy, Lian menatap tajam langsung cepat Boy menghentikan mobilnya.


Boy melipat kedua tangannya meminta maaf, menarik kembali ucapannya.


"Botol ini harus diapakan?" Lian menunjukkan botol kecil ditangannya.


"Sini biar aku yang minum."


Lian memukuli Boy kembali, langsung membuang botol keluar. Suara Lian tertawa membuat Boy menatap tajam.


Seseorang muncul di samping Lian, membuat Lian dan Boy teriak kuat karena kaget.


"Enak."


Lian menatap panik melihat orang gila jalan sempoyongan, menghabiskan minuman yang Berlian buang.

__ADS_1


"Mampus sudah gila semakin gila." Boy menatap Lian yang tersenyum.


"Ayo cepat pulang, akhirnya minuman habis." Lian bertepuk tangan.


Mobil Boy melanjutkan perjalanan, langsung melaju dengan kecepatan tinggi menuju mansion.


Tiba di rumah sudah sepi, tidak ada satu orangpun yang terdengar suaranya. Boy melangkah bersama Lian menuju kamar masing-masing.


Mereka membersihkan tubuh Sambil berendam dengan air hangat. Boy terdiam di dalam bak mandi mengigat ucapan Lian soal Reza yang terus mengawasi Tari.


Senyum Boy terlihat ternyata Reza perhatian juga hanya saja tidak terlihat, Boy memejamkan matanya merasakan aroma wangi sabun.


Perlahan mata Reza terbuka, melihat tangannya sudah diinfus. Langsung melepaskannya melihat ke arah Tari yang tidur sambil duduk di lantai.


Reza merasakan tubuhnya sakit semua langsung melangkah pergi, membuka pintu kamar melihat Tari kembali.


"Kenapa sekarang aku berhalusinasi karena terlalu merindukan kamu." Reza menghela nafasnya, langsung pergi.


Reza melangkah ke kamar Boy, langsung masuk mendengar suara air menunggu Boy duduk di sofa.


Boy keluar menatap Reza yang terlihat pucat, memberikan air minum.


"Apa kamu yang sakit?"


"Bisa minta tolong?"


Boy duduk di meja, menatap Reza yang terlihat masih lemas. Reza memutuskan untuk pulang ke Mansion, meminta tolong Boy menjaga Tari, membiarkan Lian tinggal bersama Tari.


"Za, kamu bisa menjaganya sendiri."


"Aku melihat Tari di kamar, tapi kamu tahu sendiri dia pergi untuk menyelamatkan pria lain, bahkan sampai bertarung dengan Rinda."


Boy menahan tawa, lucu melihat tingkah Reza yang konyol. Dia tidak menyadari jika Tari memang ada di sisinya.


Boy menyanggupi keinginan Reza, meminta Reza kembali ke kamarnya mungkin saja halusinasi Reza menciptakan Mentari asli.


"Silahkan keluar tuan Reza." Boy membukakan pintu, menemani Reza ke kamarnya membukakan pintu melihat halusinasi Reza.


"Halusinasi masih ada." Boy menutup pintu langsung berlari ke kamar Berlian.


Reza menatap kembali Mentari yang masih dengan posisi yang sama, Reza mengabaikan membuka tabletnya sesekali melihat Tari yang tidak bergerak.


"Jangan pergi, walaupun sebenarnya kamu tidak ada di sini." Reza tersenyum melihat Tari.


***

__ADS_1


__ADS_2