BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 KELUAR DARI TEROWONGAN


__ADS_3

Maxi meremas rambutnya mencari setiap sisi keberadaan Rinda, suara dengkuran orang tidur terdengar. Max melihat ke arah atas gundukan batu langsung lompat menatap Rinda sedang asik tidur memeluk tulang.


"Boy, Za, Miko Rinda ada di sini. Bawa mereka keluar."


"Paman Ahlan bisa kami percaya?" Reza menatap Paman yang mengangguk kepalanya.


Boy langsung menggendong Berlian, Reza mengangkat Tari. Kaira juga sudah pingsan karena kehabisan tenaga.


Maxi menggendong Rinda langsung lompat turun, Paman Ahlan berjalan di belakang meminta kembali ke jalan keluar tempat mereka masuk.


Suara ledakan semakin terdengar, Paman Ahlan melihat ke belakang ingin sekali meyelamatkan anak-anak, tapi sudah tidak mungkin.


"Semuanya berlari!" Paman teriak kuat, menatap seorang anak kecil yang tersenyum melambaikan tangannya.


Reza melihat ke belakang menatap Paman Ahlan yang berlari menarik anak kecil, langsung menggendongnya.


Suara dentuman terdengar, tanah bergetar membuat bangunan bergoyang. Seluruh penjaga yang berjaga di perbatasan panik mendengar ledakan, bahkan banyak pohon tumbang.


Mobil keluarga Chrispeter memasuki area, Bianka langsung keluar melihat ke bawah tanah yang terasa panas.


"Ada ledakan di bawah." Rindu menatap Bianka.


Rian meminta seluruh anggota keluarga yang ingin masuk mendekati, memberikan kunci dengan mata mereka agar bisa masuk ke dalam karena di dalam ada laser yang bisa membunuh.


Haikal melihat kepanikan, banyak pengawal yang lari dari perbatasan langsung mati ditempat.


"Kenapa mereka?" Reva langsung memeluk lengan Roy.


"Mereka sudah diperingatkan tidak bisa keluar masih saja, jika ingin mati silahkan coba keluar dari perbatasan."


"Papi nanti Kei masuk mati juga?" Kaira menatap Rian yang tertawa.


"Sudah masuk saja Kai, mata kamu sudah terdeteksi. Lihat Bunda Bunga sudah tua tidak ada tempat takutnya."


"Papi, anak-anak ada di bawah?" Rindu menatap Rian.


"Mana Papi tahu, kita juga baru sampai. Ayo kita masuk melihat penjara."


"Aku tidak ingin melihat penjara, tapi cucuku." Dara menatap Rian tajam.


"Kenapa marah kakak ipar, cucumu baik-baik saja. Jika ingin tahu masuk ke dalam penjara."


"Awas kamu Rian jika mereka sampai terluka." Bunga langsung masuk mobil menuju bangunan penjara.


Haikal langsung memainkan komputer, mencari tahu keadaan cucunya. Seluruh daftar pemegang kunci aktif semua.


Haikal dan Rian benafas lega, melihat delapan anak hidup, Bianka Rindu dan Rian Haikal juga aktif semua.


"Apa artinya lampu hijau?"

__ADS_1


"Jika hijau, pemegang kunci masih hidup, jika kuning mereka gugur, jika merah mereka tidak ada di sini." Rian tersenyum menatap istrinya yang tersenyum.


Semuanya bernafas lega menuggu semuanya tiba, Haikal melihat daftar foto orang yang masuk penjara, mengambil foto anak kecil yang Rian ceritakan.


"Kamu kalah dari anak ini Rian?"


"Iya, dia sangat kuat."


"Ada juga yang bisa mengalahkan seorang psikopat?" Roy tersenyum menatap Rian.


"Dia membangun terowongan bawah tanah, aku membiarkannya berharap dia berubah mencintai tempat ini, ternyata aku salah dia ingin menghancurkan keturunan kita."


"Sebaiknya kita pulang, karena mereka baik-baik saja." Bunga melangkah pergi kembali ke mobil.


"Dasar nenek-nenek tua, sudah dikatakan jangan ikut, tapi marah tetap memaksa. Sekarang ingin pulang, dasar aneh." Rian menatap sinis tiga wanita yang langsung masuk mobil.


Roy dan Haikal langsung masuk juga, tidak ingin urusan panjang. Rian menghela nafasnya langsung melangkah masuk meminta Bara, Bianka dan yang lainnya pulang semua.


Tidak ada yang membantah langsung pulang, karena merasakan lega para cucu baik-baik saja.


Bi tersenyum menatap mobil di depan mereka, karena melihat langsung jika Boy, Reza Rinda, Kaira dan para pengawal baik-baik saja.


"Kenapa para nenek dan kakek ingin pergi, padahal kita bisa memberikan kabar?"


"Kamu tidak tahu sakitnya kami saat pulang dengan membawa Rinda dalam keadaan kritis, pertarungan itu menjadi pertempuran terakhir girls Chrispeter, kami kehilangan satu personil." Rindu menghapus air matanya.


Bianka juga merasa khawatir saat mengetahui jika lawan mereka bukan orang sembarang, tapi sekarang bernafas lega.


***


Semuanya berhasil keluar, Paman Ahlan langsung menggoyangkan pohon sampai gerbang tertutup kembali.


Suara ledakan tidak terdengar hanya asap yang mengepul. Anak kecil yang Paman Ahlan bawa langsung naik ke atas pohon besar.


"Turun."


"Sudah jika tidak ingin turun hidup bebas di alam, jangan menyakiti siapapun." Paman Ahlan tersenyum melihat anggukkan kepala yang langsung tidur di atas pohon.


Boy membaringkan Berlian, membuka baju Lian melihat takutnya sudah tertusuk. Boy meminta Paman mencari air, dia langsung cepat bergerak dengan lompat-lompat kesenangan.


"Paman cepat jangan seperti princess." Boy melemparnya dengan kayu.


"Membawanya dengan apa Boy? sepertinya kalian yang harus mendekati sungai." Paman tersenyum.


Reza langsung mengumpat sambil teriak, mengangkat tubuh Tari.


Semuanya berjalan mendekati sumber air, melihat mata air yang membentuk air terjun mini.


Boy membasahi bajunya, membersikan wajah Lian, sampai ke tangannya. Reza juga menatap Tari langsung memeluknya melihat luka tangan Tari yang membuat seluruh tangannya lecet.

__ADS_1


Maxi menatap tajam Rinda membersihkan luka di kepalanya, tapi tidak ada goresan sedikitpun. Max membuka pelindung di kepala Rinda langsung tersenyum.


"Gadis licik."


Rinda masih tidur sambil memeluk tulang, Paman berdiri memperhatikan Rinda yang membawa tulang, Kaira membawa suntikan, Tari tangannya memar semua, sedangkan Berlian menggenggam erat tangannya.


"Apa yang ada ditangan dia?" Paman menatap Berlian.


Boy langsung membuka tangan Lian secara paksa membuat Berlian tersadar, langsung melayangkan pukulan.


Boy berhasil menghindar, hidung Paman Ahlan menjadi sasaran. Paman Ahlan langsung tersungkur hidungnya berdarah karena tertusuk besi tajam yang ada di kalung Lian.


"Berlian tenanglah." Boy langsung mendekat, memeluk erat.


Lian langsung menangis melepaskan kalungnya memeluk erat, Boy tersenyum menghapus air mata Lian.


Berlian meraba tubuhnya, melihat bajunya terbuka. Boy mengangkat tangannya meminta maaf karena ingin mengecek luka.


Paman Ahlan menyentuh kalung Lian, langsung mengaguminya.


"Boleh ini untuk Paman saja?"


"Tidak boleh, ini dari Ayah Lian." Lian langsung ingin memukul, megambil kalungnya mengembalikan seperti semula.


Boy memasangkan kembali kalung, Lian langsung berlari mendekati Tari yang berbaring di dada Reza.


Reza meminta Lian diam, karena Tari sudah bangun tapi diam saja memejamkan matanya sambil memeluk Reza.


"Tulang apa ini?" Lian melihat guling Rinda yang masih mengorok, menjadikan paha Max bantal.


"Tulang keberuntungan." Reza tersenyum bersama Lian.


Kaira juga tersadar, langsung menangis memeluk Miko memanggil nama Rinda, Tari langsung bangun melihat sekelilingnya.


"Mencari apa Tari?" Reza kebingungan melihat Tari matanya berkeliling.


"Suntikkan Tari mana?"


Miko melemparkan suntikan, Tari langsung ingin mengambilnya. Kaira menatap Paman Ahlan langsung menerkam dengan suntikan.


Miko langsung menarik suntikan, Boy memeluk Kaira mengehentikan. Tari megambil suntikan yang ada darahnya.


"Kak Miko kenapa diambil darahnya?" Tari megambil tangan Paman Ahlan langsung mengembalikan darah ke telapak tangan.


"Maaf Paman Kaira lupa." Kai memeluk Boy erat.


Paman Ahlan langsung duduk menjauh, tidak ingin saat Rinda yang memeluk tulang bangun langsung memukulinya.


***

__ADS_1


__ADS_2