Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Program Andhini


__ADS_3

"Andhini, Aku senang saja kamu ada disini tapi Aku takut semua ini akan jadi satu kesalahan, Terlebih di mata suami kamu?" dr Fadli bertanya pada Andhini yang kelihatan begitu tenang dan sangat santai saja melewatkan hari sampai tengah hari di rumah sakit itu.


Sebenarnya dr Fadli tak sampai hati mengatakan itu karena dirinya begitu senang dengan keberadaaan Andhini di sini, mulai dari menemani Andhini checkup kesehatan, test kesuburan dan kembali memulai proses terapi dengan senam ringan dan metode awal menjalani proses kehamilan.


Tapi dr Fadli merasa khawatir dengan Andhini yang seakan menutupi ada permasalahan dalam rumah tangganya, dr Fadli tak ingin menjadi duri masuk tanpa permisi ke dalam rumah tangga yang sedang bermasalah walaupun diakui dalam hatinya dirinya begitu senang dan suka akan kepribadian Andhini, senyumnya, kerlingannya, tawanya, candanya, cara Andhini menyampaikan pendapatnya, terlebih kecantikannya dan pembawaannya yang lembut.


Andhini sendiri seperti melupakan kekecewaan hatinya dengan keadaan perjanjian yang dirinya buat, juga sangat rapi di rencanakan, pada akhirnya dirinya harus kecewa dengan keadaan yang ada di hadapannya, suaminya seperti tak setia lagi begitu jauh keluar dari perjanjian, Karina sendiri seakan tak perduli sibuk dengan keinginan yang seperti ingin memiliki semua waktu Mas Radit, sungguh Andhini tak mengira, Karina berubah seratus delapan puluh derajat dari awal perjanjian di buat.


Bukannya mengingatkan dan saling ingatkan tapi Karina seakan keenakan menjalani kebersamaan dengan Mas Radit di luar waktu yang semestinya.


'Baiklah Aku akan sabar dengan semua kenyataan ini, Aku akan lihat sampai di mana kalian begitu jauh keluar dari perjanjian, Aku tak akan larang karena akan ada saatnya Aku ultimatum kalau sudah kelewat batas perlakuan kalian padaku.'


Seperti itu kata hati Andhini dalamnya sakit hati karena Mas Radit seakan tak perduli lagi pada Dirinya.


Andhini begitu bisa menyimpan dan menyembunyikan perasaannya sendiri sehingga semua tampak tiada apa-apa walaupun dalam pandangan dr Fadli tetap ada keganjilan dalam nada bicara Andhini yang seakan tak mau membahas soal suami dan rumah tangganya.


Dr Fadli sangat maklum dan mengerti mungkin karena Andhini juga menghargai dirinya tak mungkin pembicaraan dan topik orang lain saat mereka mengobrol berdua.


"Apa dokter nggak mau lagi menerimaku di sini? Bagiku ada di sini atau di tempat lain sama saja hanya bedanya kalau di sini ada dokter yang bisa ngobrol segala hal tapi kalau di tempat lain paling hanya bengong sendiri," ucap Andhini sambil tersenyum menatap wajah simpatik dr Fadli SpOG saat mereka duduk berdampingan di kafe sebrang rumah sakit saat mereka makan siang bersama.


"Oh, bukan Andhini Aku jujur senang bisa ngobrol dengan orang pintar dan sukses, kamu seakan memberi pencerahan dan motivasi yang begitu luar biasa, Aku suka tipe wanita seperti kamu Aku begitu cocok dalam segi pandangan, dan obrolan kita nyambung dalam soal apapun," jawab dr Fadli menatap lekat manik coklat dan alis alami hitam Andhini

__ADS_1


"Ah, dokter jangan berlebihan, emang Aku dukun? Dibilang orang pintar segala, Aku merasa biasa saja bahkan banyak kekurangan dan kelemahan," jawab Andhini merasa malu.


"Di mataku kamu begitu sempurna Andhini, tapi sayang kamu sudah ada yang punya, tapi tak masalah selagi kita bisa berbagi hal yang bermanfaat juga tak membatasi jika kita masih bisa bersahabat baik." ucap dr Fadli begitu mengandung arti bagi Andhini, tapi semua dianggap biasa saja, karena walau Andhini sendiri mengagumi dr Fadli tetap Andhini tak memperlihatkan rasa itu, cukup mengaguminya di dalam hati saja.


Bagi Andhini cukup Mas Radit cinta sejatinya, meskipun sekarang cinta mereka sedang di uji kesetiaannya mungkinkah mereka bisa melewatinya?


"Aku bukan yang sempurna dokter, Aku bisa menjadi sahabat siapa saja, Aku begitu banyak kekurangan, Aku belum bisa hamil itu adalah impianku yang paling di harapkan dalam hidup dan menjalani pernikahan selama ini, berbagai cara secara modern dan tradisional juga canggihnya teknologi sudah dicoba tapi hasilnya belum


kelihatan sampai saat ini." Andhini tersenyum sambil menunduk merasa dirinya jauh dari kata sempurna.


Dr fadli menatap Andhini dan sedikit menggodanya dengan tersenyum penuh kekaguman.


"Aku merasa senang Andhini, serasa Aku berada di tanah air, Aku layak terimakasih padamu atas pertemanan ini, walau ada sesal di hatiku. Apa kamu tahu sesal ku? Kenapa kita tidak bertemu dalam status kita yang sama-sama single!" jujur dr Fadli seakan tak bisa menyembunyikan rasa dalam hatinya.


Walau semua sulit di jangkau dan terlaksana tapi dr Fadli memberikan signal rasa suka spontan pada Andhini. Setidaknya itu yang di rasakannya.


"Dr jangan bilang begitu, seakan kita menyalahkan takdir, di mata kita pertemuan ini salah, tapi dimata Yang Punya Rencana mungkin ini saat yang paling baik, Aku yang harusnya terimakasih telah di kasih harapan, selalu ada kesempatan kalau kita tahu caranya dan mau menjalani juga berusaha lebih keras lagi itu ucapan dr yang akan selalu aku ingat, Aku ingin hamil, dan dr telah menunjukkan tahapan tahapan edukasi dari awal, Aku akan jalani semuanya karena baru kali ini aku begitu semangat menjalani program." Andhini juga sama saling berterimakasih.


"Senang sekali jika Kamu merasa senang Andhini, semoga semua bisa Kamu lewati walau Aku merasa heran kenapa kamu menjalani program di sini tak ingin suamimu tahu?" Penuh selidik dr Fadli seakan memancing Andhini untuk lebih terbuka lagi soal lain didirinya.


"Itu hanya surprise dan keinginanku saja dokter, tak apa-apa, semua akan baik-baik saja," jawab Andhini ada hal yang di sembunyikan dari setiap obrolan mereka.

__ADS_1


"Kalau kamu berminat ikuti program metode terbaru itu banyak yang sukses, Aku senang bisa membatu dan merealisasikan impianmu Andhini, hanya itu harapanku membuat kamu senang Aku juga ikut senang."


"Tapi Aku tak bisa membuat dokter senang, gimana caranya?"


"Melihat senyum kamu aku sudah senang kok."


"Ah, jangan mulai gombal nanti ada yang marah sama Aku!"


"Siapa? nggak bakalan pokoknya lihat saja, Aku orang bebas nggak ada yang menunggu dan di tunggu, nggak ada yang merindu dan di rindu!"


"Boleh tuh pernyataannya, tapi antara percaya dan tidak, masa orang seganteng dokter nggak ada yang deket dan cocok di hati? buka dong lowongan!" Andhini sengaja menggoda.


"Ah, Andhini jangan memujiku nanti Aku bisa terbang, Aku tak mudah jatuh cinta, walau kejatuhan cinta sering hahahaha..." dr Fadli ngakak sendiri.


"Gombal! sok jual mahal!"


*****


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2