Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Kangen kebersamaan


__ADS_3

"Mas, jangan sampai orang tua Mas Radit juga orang tuaku datang ke sini selama minimal setahun ini apapun caranya kita harus mencari cara untuk bisa mencegahnya," ucap Andhini sesampainya di hunian mereka.


Andhini menyimpan tas dan membuka sepatunya, juga menanggalkan baju luar menyisakan tank top dan rok span nya.


Tampak tubuh langsingnya begitu terlihat dengan kulit putih mulus terawat tinggi standar bak model metropolitan.


Radit menghampirinya memeluk dari belakang dan mencium rambut Andhini. Terasa lama mereka tak merasakan kebersamaan saat siang hari.


"Iya Sayang, semua akan mengacaukan rencana kita yang sudah ditata sedemikian rupa rapinya." jawab radit begitu dekat di telinga Andhini.


"Pokoknya Aku akan selalu diskusi dengan Erika bagaimana baiknya untuk mencegah dan mengantisipasi hal tak diinginkan terjadi. Karena semuanya telah kejadian Karina telah hamil dan usia 8 bulan kehamilan kalau seandainya kita perlu mengabarkan kepada orang tua nggak usah dikabarin  juga nggak apa-apa kali ya Mas? saat sudah lahir saja kasih tahunya biar Aku mudah mengalihkan alibinya."


"Kita jalani saja dulu Sayang, semoga Karina sehat dan kita bisa ikut menjaganya sampai anak kita lahir nanti."  Radit menutup mulut Andhini dengan jarinya, dan mengelus elus dengan jari jempolnya.


"Mas bahagia?" Andhini menatap Radit dalam jarak inchi.


"Tentu Sayang, tapi kebahagiaan kita harus kita jaga juga dihadapan Karina itu hanya pesanku saja demi menjaga perasaan dia."


"Tapi aku tak bisa menyembunyikan kebahagiaan ini Mas pada akhirnya Aku menyayangi Mas Radit dan juga menyayangi Karina juga," jawab Andhini sambil mengalungkan kedua tangan di leher suaminya.


"Karina hanya punya kita di sini, sudah sepantasnya kita menyayanginya tetapi ada yang harus kita jaga yaitu perasaannya. Aku tidak bisa membayangkan walaupun kehamilan yang baru berusia 6 minggu mungkin ada ikatan batin antara seorang ibu dan anak nanti sesuatu yang belum kita pikirkan selalu membayangi pikiranku Sayang." Radit bicara sambil mengerutkan dahinya.


"Itu naluri Mas, tapi Karina harus siap dengan semuanya anak itu adalah hak kita." Tegas Andhini sambil memeluk Radit seakan tak ingin ada masalah dalam perjanjiannya.


"Nanti saja kita diskusikan semuanya, apa kamu sekarang merindukanku Sayang?"


"Mungkin seperti perasaan Mas saat ini, itulah perasaanku," jawab Andhini sambil memasukkan tangannya ke dalam baju suaminya dan mengelus dada Raditya.

__ADS_1


"Aku serius merindukan kamu Sayang, Aku tak mau membahas yang lain lagi." Radit menatap wajah cantik istrinya sambil senyum.


"Lakukan kapanpun di manapun Mas menginginkannya."


Kata-kata Andhini sejak mereka menikah selalu mengatakan itu saat suaminya meminta dan tak ada kata penolakan dari Andhini membuat mereka tertawa bersama.


"Aku selalu mengingatnya Sayang."


"Aku Nggak!" jawab Andhini sambil melepaskan diri dari pelukan Radit, Andhini menjawab seolah tak mengingatnya membuat Radit mengejarnya dan menangkapnya kembali.


"Aaaaah ... Kamu bohong! Aku nggak percaya."


Masih tetap seperti dulu awal mereka menikah selalu saja mereka bercanda memperlihatkan rasa sayang dan cinta yang tak terbatas diantara keduanya, walau masalah dalam rumah tangganya ada saja menjadi kerikil yang sedikit mengganggu dalam mood kesehariannya.


Kebahagiaan kini di depan mata Andhini sebentar lagi dirinya dalam hitungan bulan akan menimbang seorang anak walaupun itu bukan datang dari rahimnya tapi itu adalah bibit darah daging suaminya sendiri yang sangat dicintainya.


Demi cinta dan kebahagiaan juga keutuhan rumah tangganya Andhini rela berkorban untuk hal yang satu ini yaitu demi memiliki anak tak sedikit uang dikeluarkan demi memenuhi keinginannya. Bagi Andini apalah artinya uang semua bisa dicari semua aset dan perusahaannya masih berjalan.


Cinta menenggelamkan keduanya dalam pelukan perayaan cinta kasih suami istri dalam kerinduan yang di padukan.


Tak ada sedikitpun halangan yang merintang bagi cinta mereka semua bisa di selesaikan satu kata harus bahagia dan saling menghargai satu sama lain.


Jauh dalam bayangan Andhini mungkin seperti ini saat Mas Radit bersama Karina istri sirinya, terkadang merubah keinginan yang menggebu menjadi kendor, tapi Andhini berusaha sekuat dan kemampuannya menepis semua itu dengan mengalihkan pada kesibukan siang hari yang dijalaninya.


Rasa cemburu dan tak rela Andhini selalu di hibur dengan akan hadirnya anak diantara mereka, dan semua itu butuh proses panjang kesabaran dan keikhlasannya dalam berbagi suami.


Saat seperti inilah saat berdua dengan suaminya Andhini melepaskan segala gundah hatinya, memeluknya dan menenggelamkan kepala dan mukanya dalam dalam di dada suaminya.

__ADS_1


"Sepertinya Kamu kangen banget Sayang?" bisik Radit di telinga Andhini.


"Mas, hampir dua bulan Aku tak bisa memeluk kamu saat siang, kita di sibukkan dengan semua pekerjaan, jujur Aku wanita biasa yang punya rasa begitu sensitif. Aku tak bisa membayangkan Mas selalu bersama Karina setiap hari, mungkin di sela sela kesibukan atau sebelum beraktivitas atau juga sesudah pulang kerja mampir dulu ke kamarnya Mas sama Karina selalu bersama, di situ Aku merasa jadi orang bodoh dengan keputusanku sendiri."


"Aku juga sama Sayang, saat Aku bersama Karina melakukan kewajiban suami istri, tapi rasa dan ingatan bersalah padamu tak bisa Aku hapuskan, seakan Aku ini penghianat cinta dan kesetiaan."


Ya Allah, Mas Radit mungkin begini rasanya menjadi wanita yang punya madu, tak ada yang seutuhnya ikhlas, walau bagaimanapun Aku mengalihkan menganggap Karina sebagai adikku menganggap Mas Radit seakan pergi kerja saja, tetapi bayangan dan ingatan kebersamaan suami istri Mas sama Karina begitu menyiksaku."


"Maafkan Aku Sayang, Aku tak bisa menolak keinginanmu karena aku terlalu mencintaimu dan mengharuskan Aku seperti ini."


Andhini menangis di pelukan Radit, beban selama ini baru tumpah saat ini, ternyata Andhini istrinya yang kelihatan begitu tegar pada kenyataannya begitu rapuh dihadapkan pada kenyataan seperti ini.


"Maafkan juga Aku Mas, Aku yang egois dengan keinginan ternyata diantara kita bertiga semuanya begitu tersiksa. Aku, Mas Radit sama Karina pasti merasakan rasa bersalah dan sakit yang sama."


"Sudahlah Sayang, semua sudah terlanjur kita akan memiliki anak dan kita persiapkan diri kita juga menghadapi kehamilan Karina saat sudah besar nanti, kuatkan mentalnya juga diri kita sebagai calon orangtua."


"Iya, Mas, Aku mencintai Mas Radit."


"Sama Sayang, kamu segalanya bagiku Andhini."


Setelah bertangisan berdua, berpelukan dalam ciuman kerinduan yang teramat sangat.


Pencapaian kepuasan mereka rasakan kembali di siang menuju sore, Radit mengusap peluh di kening Andhini dan mengecup pipinya yang masih berkeringat.


Mereka berpelukan kembali di bawah selimut, hanya nafas yang tersengal dan belum teratur yang mereka rasakan.


******

__ADS_1


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi karya di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️



__ADS_2