Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Selalu ada maaf dari Andhini


__ADS_3

Tidur dalam kegelisahan Andhini baru bisa memejamkan matanya menjelang subuh, kontan dari kemarin tak sedikitpun menginjakkan kaki di kantor supermarketnya.


Untung semua ada Erika dan Rai yang begitu bisa dipercaya menangani semuanya menjadikan Andhini tenang berpikir dan menunggu kabar selanjutnya dari Karina akan seperti apa.


Andhini tahu Mas Radit yang tidur dalam pikiran kacau juga hanya memeluknya dari belakang dan entah jam berapa masuk kamar Andhini tak ingat lagi.


Sebenarnya Andhini sudah terjaga tapi rasanya begitu malas untuk bangun, selain Mas Radit masih memeluknya dari belakang terlalu sayang kalau harus membangunkan dengan gerakannya, takutnya baru tidur.


Andhini terus berpikir apa lapor polisi saja biar semuanya selesai, atau menunggu kabar Karina saja menelephon? tapi sampai kapan?


Andhini berkeyakinan kalau hari ini Karina akan menelephon dan menyampaikan keinginannya. Andhini tak bisa berpikir sendiri harus ada sumbangan ide dari Erika juga Rai yang begitu dewasa dalam berpikir tidak sepeti Mas Radit yang terlalu ribet dalam memutuskan sesuatu perkara.


Andhini mengusap tangan kekar suaminya yang telah lama mereka tak bersentuhan secara suami istri, berawal dari kabar kehamilan Andhini dan lanjut ada tuduhan dan keraguan membuat Andhini jaga jarak begitu juga Radit, seakan ada perang dingin antara mereka.


Memasuki hamil ke dua bulan atau akan melewati tri semester awal Radit benar-benar belum menyentuh Andhini, keduanya seperti tak menginginkan, terbebani dengan masalah yang begitu bertumpuk di hadapannya.


Dari kemarin kemarin Radit paling sering tidur di sofa ruang keluarga dan Andhini sendiri di kamar, mereka pergi ke tempat kerja sendiri sendiri walau kadang bareng tapi tetap tak banyak kata.


Terlalu lama Andhini melamun dalam pikirannya sendiri, berusaha menyingkirkan tangan suaminya di atas perutnya secara perlahan berniat mau bangun, tapi Radit menahannya dan berusaha membalikkan badan Andhini jadi berhadapan.


"Dhini, maafkan Aku," ucap Radit dengan nada perlahan. Sorot matanya begitu tajam memandang wajah Andhini dihadapannya.


"Kan Mas Radit sudah meminta maaf dari kemarin juga, kenapa meminta maaf lagi?" ujar Andhini sambil memandang wajah Radit di remang lampu tidur.


"Aku merasa tak cukup hanya permintaan maaf saja, juga sekedar mendengarkan kata maaf Kamu, mintalah apa yang bisa Aku lakukan dan sekiranya Aku bisa. Akan Aku lakuan semua permintaanmu itu mungkin akan membuat tenang hatimu dan Aku meyakini kalau Kamu memaafkanku," ucap Radit. Walau hatinya harap-harap cemas apa kira-kira yang akan dipinta Andhini dan juga dirinya akan mampu melakukannya?


Andhini tersenyum melihat kegelisahan roman muka dan hati suaminya.


"Apa Mas yakin bisa melakukan semua yang Aku minta?" ucap Andhini dengan muka serius.

__ADS_1


Radit bangun memperlihatkan keseriusannya. Duduk bersila di hadapan Andhini yang nasih tidur menyamping.


"Katakan Andhini, Aku akan berusaha selagi Aku mampu dan akan berusaha mewujudkan permintaan Kamu seberat apapun itu," ucap Radit lagi dengan roman harap-harap cemas.


"Belai Anakmu yang ada dalam perutku ini, mintalah maaf padanya bukan padaku, karena seorang istri akan memaafkan sebesar apapun kesalahan suaminya, kalau suaminya sudah meminta maaf, tetapi seorang Anak mungkin tidak. Untuk itu jangan membuat masalah dengan Anak Kita," ucap Andhini jauh dari perkiraan Radit.


Radit tertegun, dengan berlinang air mata Radit mengusap perut Andhini yang masih belum kelihatan membesar, Ada sesak di dalam dada Radit seribu pengakuan salahnya terbentang di hadapannya.


Semakin sesak saja dada Radit saat Andhini mengharapkan hanya belaian darinya, sungguh selama ini kemana aja dirinya? Sibuk dengan kehamilan Karina, padahal yang seharusnya sama harus di jaga adalah buah cintanya dengan Andhini bukan Anak perjanjian dengan Karina walau Andhini tak akan membedakannya.


Andhini meraih tangan Radit dan menciumnya lalu mereka ber-tangisan dalam suasana gelisah.


"Maafkan Aku Andhini, maafkan Aku," ucap Radit dengan tersengal.


Andhini hanya mengusap airmatanya yang meleleh tanpa diundang, membasahi bantal tempatnya berbaring.


Radit membantunya menghapus air mata itu yang datang lagi datang lagi, "Andhini Aku minta maaf, biarlah Aku memelukmu selama mungkin," ucap Radit seperti belum puas meminta maaf dan yakin Andhini memaafkannya. Tapi kata maaf saja mungkin Radit merasa belum cukup dibandingkan dengan kesalahannya yang begitu banyak, melenceng jauh dari perjanjian yang begitu menyakitkan di hati Andhini, juga atas kesalahan lain yang Radit ciptakan tanpa sadar selama Radit menikahi Karina.


Andhini mengusap kepala suaminya yang berada di perutnya, Radit mengusap kembali perut Andhini dan menciuminya.


Andhini menarik tangan Radit mensejajarkan dengan dirinya dan mereka tiduran berhadapan.


"Maafkan Aku Andhini."


"Aku memaafkan Mas, Aku juga bersalah telah memberi Mas peluang terjadinya semua ini, sudahlah kita hadapi masalah yang ada bersama."


"Terimakasih Sayang, Kamu terlalu sempurna walau telah banyak Aku kecewakan."


Ada senyum di bibir Andhini, senyum yang selama ini selalu memberinya kedamaian hingga Radit baru sadar kalau senyum itu begitu di rindukannya.

__ADS_1


Begitu lama Radit tak menyentuh bibir itu, dan tak kuasa kalau tidak menyentuhnya dengan lembut.


"Sayang, Aku merindukanmu. Kini Aku pulang kembali hanya satu jangan beri Aku kesempatan lagi untuk berpaling pada siapapun karena Aku tak bisa dan harus jujur Kamu adalah cinta sejatiku."


Suasana pagi begitu sunyi apalagi di luar begitu dingin, tapi di ranjang dan di balik selimut Andhini dan Radit begitu hangat, mereka menikmati kerinduan mereka yang lama tak berpadu, suasana baru dalam kedamaian begitu terasa walau masalah belum selesai.


Bagi Andhini kalau di hadapi bersama masalah sebesar apapun mereka akan terlewati dengan mudah, bahu membahu menghadapinya semua akan terasa begitu mudah dan berdua akan lebih baik.


Berdua terlelap kembali setelah saling melepaskan kerinduan dalam kehangatan, Andhini mengusap perutnya di susul tangan Radit ikut mengusapnya.


Rrrrrrrrd


Rrrrrrrrd


Rrrrrrrrd


Getar ponsel Andhini mengagetkan kegiatan yang sangat mengasyikan mereka.


"Mas coba lihat siapa? Aku belum pakai baju." Andhini menggoyangkan lengan Radit.


"Sama Aku juga, tapi biar Kamu tiduran aja Aku yang ambil ponselnya," Radit bangun dengan tergesa, Andhini hanya tersenyum melihat tubuh kekar suaminya yang hanya mengenakan underwear saja bangun dan berjalan ke arah meja rias di mana ponsel sedang di charge di sana.


'Suamiku telah kembali' gumam Andhini sedikit menarik selimut yang di pakai menutupi dadanya.


Begitu tak rela kehilangan, dan pasti akan di perjuangkan juga di pertahankan, karena Andhini tak mampu kalau harus jauh apalagi berpisah dari ciuman lembut, belai sayang, pelukan hangat juga nafas yang begitu khas memburu tak beraturan di dekat wajahnya.


Mereka kini telah saling memiliki lagi, juga saling menyadari kalau kehilangan itu begitu menyakitkan dan kerinduan begitu membuat keduanya hilang arah tujuan.


******

__ADS_1


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️



__ADS_2