
Karina tertegun, tak menyangka sedikitpun Radit akan mengucapkan kata cerai secepat itu, kini dirinya hanya memiliki satu permintaan yang pernah diajukan jadinya.
Sepertinya untuk tetap mempertahankan pernikahan yang diinginkannya tidak akan kesampaian hanya angan-angan lain yang masih ada dalam benak Karina yaitu meminta kompensasi empat kali lipat dari yang sudah di transfer Nyonya Andhini ke rekeningnya di awal pernikahannya dengan suaminya.
Karina diam, hatinya kecewa dan marah, keinginannya tak bersambut seperti harapannya.
Begitu besarnya harapan Karina datang Radit akan memeluknya, mengatakan kangen dan tak ingin berpisah berusaha mempertahankan pernikahan bagaimanapun caranya, dan Karina merasa siap seandainya tetap menjadi istri kedua dengan senjata telah memiliki Anak. Tapi semua berbanding terbalik Radit suaminya malah menjatuhkan talak cerai dan mempertanyakan mau selanjutnya apa?
Karina kecewa dan marah, semua diluar harapannya, kini Radit bukan siapa-siapa lagi baginya hanya Bapak dari putranya yang masih Bayi merah.
Karina balik badan dan berjalan cepat, berniat meninggalkan Radit dan Rai yang masih saja terpaku.
"Karina!"
"Karina, tunggu!" suara Radit memanggil sambil mengejar Karina.
Karina tak sedikitpun berhenti hanya sedikit melirik ke belakang melihat Radit mengejar dengan susah payah karena terhalang lalu lalang orang-orang. Karina semakin cepat juga berkelit menghalangi diri dari halangan orang orang dan menghindari kejaran Radit.
Memang benar Adanya Karina hanya datang sendirian dan akan balik lagi dengan kereta yang sama.
__ADS_1
Semua belum terucapkan Radit, Hanya Rai yang menyayangkan Kakaknya Radit terlalu cepat mengatakan semuanya sehingga Karina tidak sempat berpikir apa-apa selain pergi meninggalkan Radit dengan kekecewaannya.
Rai tak kalah gesit berlari menikung dengan menyebrang jembatan penyebrangan berharap bisa menghadang Karina. Begitu juga Radit terus saja mencari celah diantara jalur hilir mudik orang yang mau naik turun kereta dengan berbagai tujuan.
Radit kehilangan jejak tapi Rai dengan tangkas bisa melihat Karina masih beberapa meter jauh di depannya, Rai hanya perlu memperhatikan ke mana langkah Karina karena Karina akan ada di hadapannya.
Karina kaget di hadapannya Rai menghadang dengan menjulang, Rai menarik tangan Karina dan memegangnya erat walau Karina meronta ingin melepaskan diri, tanpa bicara apapun seperti di film saat adegan penculikan dalam sebuah jebakan yang di rencanakan.
Dengan kencang Rai mengunci pegangannya di lengan Karina. sehingga Karina tak bisa melepaskan diri apalagi mau melarikan diri.
"Rai, lepaskan Aku. Apa-apaan Kamu ini? semua ini urusanku sama Kakakmu bukan berurusan dengan Kamu!" ucap Karina berusaha membela diri.
Tapi Rai tetap saja menarik tangan Karina mencari area yang sedikit lengang dan menghindari kerumunan orang-orang, tak peduli Karina berbicara dengan sedikit menggertak.
Rai baru kali ini melakukan pemaksaan apalagi pada perempuan, menarik paksa Karina ke arah ruang tunggu yang ada tempat duduknya, tangannya meraih ponselnya dan menelephon Kakaknya Radit.
Akhirnya dengan nafas sedikit tersengal Radit datang juga dengan rahang di satukan kelihatan marah dan jengkel.
"Bisa Kamu bicara sejenak sambil duduk? dengarkan dulu apa yang akan Aku sampaikan, semua itu harapan dengan keinginanku dan itu pasti yang terbaik untuk Kamu Karina dan juga untuk Aku juga Andhini terlebih untuk Bayi itu! Kamu mengerti tidak?" Radit sedikit menggertak sambil duduk menghempaskan badannya di hadapan Karina yang duduk di samping Rai.
__ADS_1
Karina diam tak bicara apapun.
"Karina! Aku bicara langsung seperti itu karena Aku marah, Kamu datang tidak dengan Bayi itu, Kamu hanya mempermainkan Aku dengan semua keinginanmu. Aku juga sama Andhini berhak mempermainkan Kamu kalau seperti ini!" ucap Radit memandang wajah manis yang pernah di telusurinya dengan penuh hasrat.
Karina hanya diam menunduk terlihat masih sedikit capek dari nafasnya yang masih diatur sedemikian rupa.
"Karina, sebenarnya aku tidak bisa marah sama kamu, Kamu itu Ibu dari Anakku, tapi cobalah bicara yang realistis Kami akan mendengar semua keinginanmu, sebaiknya kita jangan bicara di sini ayo kita pulang dulu ajak temanmu itu Ros kembali sama Bayi kita pulang, kita bicara baik-baik Aku akan mengurus segalanya kita bicarakan kembali dari awal Andhini tidak marah hanya kecewa dengan sikap Kamu karena Kamu hanya menyampaikan keinginan tanpa bicara langsung, sekarang ayo ke tempat tinggal Kamu Aku jemput Bayi itu," ucap Rai sambil menatap Karina.
"Mas, permintaanku untuk tidak mau bercerai sama Mas Radit menolaknya, dan kini malah telah menceraikan Aku, di antara kita sekarang hanya ada tali penyambung yaitu Anak, Anak itu tak akan Aku biarkan dalam pengasuhan Mas sama Nyonya Andhini, kecuali permintaanku yang kedua bisa Mas sama Nyonya Andhini bisa di kabulkan," ucap Karina balik menatap Radit seperti menantangnya.
"Rina, semua itu perlu kamu tahu telah Aku sampaikan kepada Andhini permintaanmu itu tetapi Andhini tidak mau menanggapinya sebelum bertatap muka dengan Kamu, jadi maumu sekarang apa? membawa Bayi itu hidup terlantar? dan memanfaatkan dengan menahan Anak sendiri dengan ambisimu itu? pikirkan lagi baik buruknya dan kini Aku sudah mencurigai Ros semua ini pasti ada kaitannya dengan keinginanmu itu karena Aku takut kamu hanya dimanfaatkan sama Dia, di jadikan senjata ujung tombak untuk menekan Aku sama Andhini," ucap Radit berharap Karina bisa mengerti.
"Jangan bawa-bawa Kak Ros Dia begitu baik semua ini tidak ada hubungan dengan Dia, semua yang Aku sampaikan ini keinginanku sendiri demi masa depanku. Mengandung juga melahirkan itu tidak segampang yang Mas pikirkan, melahirkan itu pertarungan antara hidup dan mati dan setelah melahirkan pun ada bekas yang tak akan pernah hilang dari perutku kini, Aku merasa kompensasi yang Nyonya Andhini berikan tidak cukup untuk mengobati semua itu, memang itu berubah setelah Aku jalani setelah ada rasa sayang dan pertalian bathin terhadap anakku," ujar Karina memberi alasan.
"Karina, makanya kita pulang sekarang ayo ke arah mana kereta menuju tempat dimana Bayi itu berada, jangan bicara di hadapanku sama Rai saja, biarlah Andhini sendiri dengar. Lagian bukankah itu semua sudah Kamu sepakati di awal? kenapa bicara sekarang soal penyesalan soal kompensasi yang kurang, Kamu itu tidak berpikir jauh sebelum pernyataan dan perjanjian itu ditandatangani Aku tahu Kamu itu terpengaruh sama orang lain dan Aku juga bukan orang bodoh apalagi Andhini telah memperhitungkan semuanya, bahkan Andhini itu menganggap Kamu sebagai Adik untuk menjalin hubungan baik setelah semua ini karena diantara kita ada Anak yang tidak bisa dilepaskan, apakah Kamu tidak berpikir kebaikan Andhini?" ajak Radit sedikit pelan berharap karina luluh dan mau menerima ajakannya, menjemput Bayi itu pulang.
"Aku tetap pemintaan itu, Aku meminta kompensasi 4 kali lipat dari kompensasi awal Mas, Aku akan menyerahkan Anak itu dan Aku akan pulang ke Indonesia," jawab Karina sedikit menekan.
"Makanya kita pulang saja dulu bawa Bayi Itu, Andhini sudah menyewa babbysitter dan semua perlengkapan di tempat tinggalnya." ucap Rai sambil menatap tajam wajah cantik Karina
__ADS_1
*******
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️