
Pertikaian yang tiada akhir mengambang begitu saja tanpa penyelesaian. Andhini tidur di kamar dan Raditya tidur di sofa semua kejadian begitu menyesakkan Andhini menguras emosi tenaga dan pikiran juga perasaannya.
Andhini tahu kecurigaan Mas Radit memang sangat beralasan walau pada kenyataannya dirinya tak memberi harapan pada dr Fadli yang jujur menyatakan suka pada dirinya tapi Andhini bukan Anak kecil yang bisa dengan mudah berpaling semudah membalikkan tangan tanpa pertimbangan.
Andhini Akui dr Fadli sempat membuatnya oleng juga saat sendiri, tapi Andhini masih punya batasan dan etika bukan menebar pesona juga sehingga dr Fadli mabuk kepayang itu urusan pribadinya.
Andhini hanya punya keperluan soal urusan konsultasi dan dokter yang menanganinya, selebihnya itu hanya pesona saja yang bisa berkembang atau berhenti karena tangan tak sampai.
Andhini sadar dirinya dengan statusnya dan telah salah telah begitu dekat dengan dokter itu karena banyak keperluan yang mengharuskan saling bertemu, walau tak memberi harapan tapi bagi dr Fadli mungkin bisa menolong Andhini merealisasikan mimpi dan harapan dengan metode nya adalah kebahagiaan.
Andhini tahu dr Fadli menyatakan suka pada dirinya, tapi Andhini sendiri tak bisa apa-apa, dr Fadli juga tahu statusnya bahkan lagi program kehamilan di rumahsakit dirinya praktek. Andhini tak bisa memungkiri kalau dr Fadli begitu simpatik ideal seorang laki-laki, Andhini telah isi seluruh jiwa raganya dengan Mas Radit mungkin cinta sejatinya dan tak tergantikan.
Andhini masih ingin menjaga rumah tangganya dengan orang yang di cintainya, Segala dilakukannya walau saat ini Mas Radit sedang tidak percaya pada dirinya.
Andhini yakin semua bisa di laluinya dengan kesabaran dan meneruskan keikhlasan dengan memaafkan itu mungkin kuncinya.
Namun dalam pikiran Andhini merasa biasa saja dihadapkan pada persoalan dengan suaminya karena Andhini merasa tak punya rasa apapun selain saling butuh sebagai sahabat, masalah perasaan dr Fadli itu urusannya.
Dalam pikiran Andhini kenapa dr Fadli ada di tempat itu juga? apa dia sedang berbelanja sehingga dia melihat dirinya kalau dia mengikuti dirinya? kenapa begitu kebetulan? entahlah.
__ADS_1
Salahnya dr Fadli begitu antusias mungkin karena spontan dan kaget lalu menarik dan memerlukan diri atau mungkin itu adalah yang mewakili perasaannya Andhini tidak tahu itu perasaan dr Fadli sendiri.
Andhini mengerti dan tak bisa membela dr Fadli karena dalam hal ini dr Fadli terlalu memperlihatkan antusias perasaannya tanpa melihat itu di ruang publik dan dikiranya Andhini hanya sendiri ada di tempat itu, tanpa melihat sekeliling dr Fadli ungkapan perasaan begitu saja walaupun Andini memaklumi tetapi suaminya Mas Radit tidak tentunya.
Ponsel andhini yang tanpa suara bergetar pesan dari dr Fadli mungkin dia khawatir melihat betapa marahnya Mas Raditya tadi.
Ketakutan yang sangat beralasan Andhini dalam posisi terpojok karena dr Fadli begitu spontan menghampirinya menjadikan Andhini perlu menjelaskan kalau dirinya datang ke sini bersama suaminya.
"Andhini maafkan Aku, Aku begitu senang dan bahagia saat tanpa sengaja bertemu kamu di tempat perbelanjaan itu, Aku sangat khawatir padamu dan takut terjadi apa-apa padamu di rumah setelah kejadian itu. Apa kamu baik-baik saja? Aku khawatir perlakuan suamimu padamu. Jujur Aku salah tapi itulah perasaanku, hapus pesan ini setelah Kamu baca." Andhini membacanya dan menghapusnya tanpa membalasnya, tapi Andhini yakin dr Fadli sudah tahu kalau Andhini sudah membacanya.
"Andhini sebenarnya ada perkembangan dari hasil test kemarin lusa itu entah kamu percaya atau tidak dan Aku juga perlu memastikan kalau test urine yang waktu itu kulakukan hasilnya sudah ada dan positif, walaupun mungkin tidak tepat Aku menyampaikan kabar ini saat sekarang ini, tapi karena kebahagiaan jadi Aku kabarkan juga." pesan singkat selanjutnya dari dr Fadli
Andhini tak menjawab juga pesan itu hanya membacanya tapi tak menghapusnya.
"Andhini, mungkin keajaiban dan sesuatu yang ada dalam doa-doamu sekarang waktunya datang kamu adalah satu dari beberapa orang yang berhasil dalam program kami sebagai penerapan dari teknologi terbaru dan kami berharap dari pihak rumah sakit dan dokter yang menangani perkembangan karena dari sekian yang berhasil hamil dalam program ini termasuk kamu yang sama-sama lama menunggu kehamilan sampai bertahun-tahun."
Andhini akhirnya tertegun juga, membaca semuanya, sayang dirinya tak menyediakan testpack di rumah, Andhini melihat suaminya tidur di sofa dengan sesekali gelisah dan lantai yang berantakan, Andhini mengusap perutnya seakan semuanya tidak yakin.
Andhini tak ingin memberitahukan semuanya pada Mas Radit takut salah paham dan dr Fadli hanya memberikan lelucon juga prank yang sekarang lagi musim, juga takutnya hanya sekedar untuk memberikan hiburan pada dirinya.
__ADS_1
Andhini berpikir apa semua ini mimpi? tapi mungkinkah orang se-profesional dr Fadli masih bisa bercanda dalam situasi dan dalam hal memberikan kabar seperti ini?
Andhini menitipkan Air mata di ujung tempat tidur dirinya duduk, merefresh otaknya yang akhir-akhir ini penuh dengan permasalahan.
Akankah Mas Radit bahagia dengan kabar ini? pasti! karena ini yang di harapkan dari sebuah pernikahan dan rumah tangga. Begitu juga keluarganya dan mungkin Andhini akan merubah strateginya seandainya benar dirinya hamil Andhini tidak akan berbohong kepada kedua orang tuanya bahkan Andhini akan jujur setelah nanti Karina melahirkan kalau Anak pertamanya adalah Anak suaminya dengan yang lain.
Andhini tetap akan mengasuh anak itu dan menyayanginya sebagaimana Anaknya sendiri. Tak akan ada batasan anak siapa anak siapa yang pasti itu adalah anak suaminya, darah daging Mas Radit sendiri.
Berulang kali Andhini membaca bahkan di eja satu kata demi kata kalimat demi kalimat yang dikirimkan dr Fadli yang menyatakan dirinya hamil.
Semua jelas kalau itu adalah kabar bahagia, foto hasil testpack dan analisa laboratorium yang dikirimkan melalui foto screenshot tetap membuat Andhini tidak yakin yang pasti dalam hatinya ingin segera siang dan mendatangi dr Fadli bersama suaminya dan mendengar kabar itu bukan hanya dari pesan singkat di ponsel tapi langsung dari dan mulut dr Fadli sendiri.
Andhini berharap dirinya langsung mual dan muntah muntah, biar ada alasan Mas Radit bisa bertanya dan membawanya ke dokter, tapi perutnya seakan biasa biasa saja belum mengenal perubahan itu seperti yang dikatakan orang seperti pengalaman orang yang selalu banyak dibicarakan.
Andhini tersenyum mungkinkah ini adalah hasil penyatuan saat Mas radit marah pagi itu?
******
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi karya Author di bawah ini, baca like dan komen membangun ya! 🙏❤️
__ADS_1