Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Pilihan yang berat


__ADS_3

Sampai di ruangan dokter yang menangani Karina dokter itu langsung menyambut Andhini yang sudah menunggu, langsung mempersilahkan Radit sama Andhini duduk.


"Bagaimana kondisi saudara kami dok?" ucap Andhini langsung tanpa menunggu dokter bicara duluan.


"Ibu tenang dulu semua kami tangani dengan profesional, tapi kalau ada kemungkinan lain itu di luar kehendak team kami mohon maaf, makanya dari pihak rumah sakit mengharapkan kerja samanya untuk penanganan operasi darurat ini, juga untuk memudahkan kerja kami dan untuk kenyamanan kedua belah pihak antara pihak rumahsakit dan keluarga kami meminta persetujuan penanganan tentunya.


"Baiklah dok, kita ikuti apa yang terbaik menurut dokter dan lakukan yang terbaik bagi Karina!" ucap Andhini dengan perasaannya sendiri yang tak menentu.


Radit hanya diam menyerahkan semua pada keputusan Andhini, yang dianggap swmua akan bijaksana.


"Begini Pak, Bu, seandainya ada dua pilihan diantara anak dan Ibunya kami serahkan semuanya pada keluarga bila itu sampai pada opsi itu, tapi semoga dalam kasus ini Ibunya kuat dan anaknya bisa selamat," ucapan dokter sudah menyiratkan kalau keluarga di beri pilihan antara anak dan Ibunya yang harus di selamatkan.


"Aku sebagai wakil keluarga tak bisa memberi pilihan antara hidup dan mati dokter, Tapi dokter pasti bisa lebih reel memilih yang lebih bijaksana atas dasar kemanusiaan, tapi kalau tetap di hadapkan pada kenyataan kami harus memilih selamatkan Ibunya! masa depannya masih panjang masih banyak kemungkinan yang bisa Karina raih!" ucapan Andhini begitu bergetar dalam bicaranya.


Radit yang merengkuh pundak Andhini semakin erat merengkuhnya, memberi peringatan bagi Radit sendiri kalau siapapun tidak menutup kemungkinan dalam posisi Karina sekarang ini, seperti membayangkan kondisi Karina yang entah seperti apa sekarang, berusaha saling menguatkan dalam kesadaran yang kini datang pada Radit kalau semua harus dihadapkan pada kenyataan yang begitu sulit. Tapi Andhini tampil sebagai keluarga bagi Karina dengan bertanggung jawab nya.


"Baik Bu kami team dokter menerima semua atas keputusan Ibu dan keluarga, Bu Karina dalam kondisi kritis bisa di bilang, dia tak ada tenaga sama sekali untuk melakukan proses melahirkan satu-satunya cara yaitu operasi, tapi kami team dokter sudah memberi bantuan, dengan tambahan tenaga dari infus dan suntik mengurangi rasa sakitnya juga tadi sempat pingsan yang membuat kami panik," jawab dokter di hadapan Andhini dan Radit juga Rahadian dan Ros yang berdiri lalu lalang menunggu dengan gelisah juga di luar ruangan dokter.


Satu kesadaran pada diri Radit membuat hatinya sakit dengan mendengar pernyataan Andhini yang begitu memikirkan Karina sejauh itu, semua sungguh tak terpikirkan sama Radit sama sekali.

__ADS_1


Ketulusan Andhini begitu tak terbatas, sanggup melawan ego dan kebencian yang selama ini Karina dan suaminya begitu menyebalkan, sekarang dengan sengaja memamerkan kemesraan dan kebahagiaan dengan kehamilannya, Andhini ingat semua itu, apalagi saat Karina berada di tempat tidur pribadinya bersama Radit tentunya dengan alasan Karina menengok Raditya yang sakit, itu alasan saja bagi Andhini. Hampir saja saat itu amarah Andhini tak terbendung lagi tapi dengan kesadaran tinggi Andhini sanggup melewati semua itu dengan kesabarannya.


Apalagi saat bertengkar dan beda faham dengan Radit dengan santainya Radit meninggalkan Andhini dan Andini tahu ke mana suaminya pergi, meninggalkannya seorang diri dan melampiaskan semuanya pada Karina dan itu di waktu harusnya bersama Andhini.


Menyesakkan memang kelakuan mereka, semua sungguh tak Andhini perkirakan sebelumnya.


Ketegaran Andhini, kesabaran, keikhlasan dan kebaikannya pada Karina memang tak terbatas, selama ini Radit hanya menilai Andhini hanya mengatur dan banyak aturan saja padahal semua itu demi ketentraman mereka dan rumahtangganya.


Andhini mengatur demi kedamaian, sedang Radit sama Karina dengan seenaknya bebas tanpa batas dan aturan sehingga Andhini banyak komplain tapi dianggap Radit sama Karina Andhini banyak mengatur.


Dokter mengerti apa yang di ucapkan Andhini tadi sebagai wakil dari keluarga lalu menyodorkan kertas untuk di tandatangani.


Selesai sudah lalu dokter itu mengajak bersalaman dan mempersilahkan Andhini juga Radit menunggu di luar dan berdo'a hanya itu yang bisa dilakukan setiap orang dalam masalah apapun.


Hujan tips salju di luar sana menambah dingin hati Andhini walau Radit begitu dekat memeluknya. Diam tak ada yang bersuara Andhini merapatkan dengkulnya duduk di pojok ruang tunggu dengan pemanas yang menyala.


Hatinya penuh dengan bayangan pertama kali Karina datang ke rumahnya diantar sopir Yayasan, bekerja sebagai perawat dengan cekatan, dan Andhini pun jatuh hati hingga menawarkan pekerjaan di perusahaannya keluarganya selepas Andhini sembuh dan di titipkan pada Pak Budi yang pegang perusahaan kepercayaan keluarganya.


Karina sangat gembira dan kerja dengan baik, sampai Andhini punya keinginan menjodohkan suaminya sendiri dan akhirnya menikah siri dengan perjanjian dan kompensasi yang menggiurkan bagi Karina berawal dari baiknya karakter Karina saat itu Andhini percaya.

__ADS_1


Seiring berjalannya waktu tingkah Karina semakin menyebalkan saja apalagi setelah hamil di tambah tingkah suaminya yang seakan Karina juga adalah tanggung jawab dan kewajibannya, klop saja mereka sebagai dua makhluk mereka bertingkah semaunya berdua. Mas Radit dan Karina menjadi dua pribadi yang sangat bikin Andhini kesal dibuatnya.


Andhini melirik Ros perempuan pilihan suaminya yang dipercaya menemani Karina, ada keliaran di matanya , Andhini seorang pimpinan di perusahaan keluarganya, juga di perusahaan rintisannya sangat paham dengan karakter seseorang dan intuisi tinggi terhadap siapapun melihat dari sudut mata tingkah laku sepertinya Ros memberikan pengaruh jelek juga terhadap Karina selama mereka bersama-sama, tetapi Andhini tidak lantas menuduh tanpa bukti dan saksi setiap tuduhan ada kemungkinan benar dan tidak tetapi Andhini melihat ada kecenderungan itu.


Setiap Andhini tatap Ros selalu memalingkan mukanya entah kenapa, dan itu berkali kali Andhini pergoki, terkadang sedang menatap Andhini dengan tajam lalu saat Andhini tatap balik Ris seperti pura-pura tak melihat.


"Sayang, tidurlah di sini Aku khawatir dengan kesehatan Kamu," Andhini membuka matanya dalam posisi bersandar di sandaran kursi dan sebagian tubuhnya disangga Radit.


Baru kali ini Radit memperlihatkan rasa khawatir lagi pada Andini entah itu sebenarnya atau hanya karena ada kekhawatiran yang lain juga?


Radit menatap istrinya yang kedinginan di ruangan Itu dengan menekukkan tubuhnya dan menaikkan kakinya, Rai juga terlihat meringkuk di kursi panjang tapi terlihat tidur. Ros masih terjaga sedang melihat-lihat ponselnya dari tadi.


"Jam berapa Mas ini?" jawab Andhini sambil sedikit bangkit dan duduk tegak di kursi ruang tunggu itu.


"Jam sebelas malam, operasi sudah hampir dua jam, tapi belum menunjukan ada tanda-tanda kabar," ucap Radit sambil menggenggam jemari Andhini, terkadang menciumnya.


******


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2