
"Eh, Nyonya. Mas Radit entah ke mana tadi nggak sempat bilang, kelihatan begitu buru-buru." Karina menyambut Andhini dan Erika yang datang ke minimarket yang di kelola Radit sama Karina. Keadaan mini market begitu lengang siang itu.
"Iya Rina, makanya Aku ke sini ada hal yang harus kita bicarakan sangat penting dan kita harus duduk bersama untuk menyelesaikan ada sedikit masalah, juga kita mencari jalan keluarnya bersama-sama," ucap Andhini semakin mengundang pertanyaan dan deg-degan hati Karina.
Andhini menarik tangan Karina ke belakang dan Erika di suruh jaga dulu di depan.
Karina begitu terkejut ada apa sebenarnya? yang terlintas di otaknya hanya kesalahan yang telah dilakukannya tapi kesalahan apa? Karina merasa tak punya salah apa-apa setidaknya itu yang sedikit menenangkan hatinya
"Rina, duduk di sini ada banyak yang harus Aku bicarakan biarin Erika di depan dulu kita bicara dari hati ke hati di sini kamu dalam keadaan sehat kan?" ucap Andhini selanjutnya.
Andhini menatap wajah Karina yang semakin cantik dengan kehamilannya walau perutnya belum kelihatan cuman ada perubahan sedikit di tubuhnya semakin berisi.
"I-Iya Nyonya, ada apa Aku hanya kaget saja." Wajah Karina kelihatan sedikit tegang dan menyimpan tanya yang begitu kuat.
"Ada hal tak terduga sebelumnya, keberadaan kita di sini dan rahasia diantara kita merasa terancam karena dengan tiba-tiba tanpa pemberitahuan sebelumnya adiknya Mas Radit yaitu Rahadian yang dari kemarin-kemarin kuliah di luar negeri sekarang sudah tamat kembali ke Indonesia, mendapatkan kami tidak ada di Indonesia dia merasa heran jadi dia menyusul ke sini sekarang Mas Radit lagi menjemputnya di bandara."
"Oh, ya ampun jadi Aku harus gimana Nyonya?" Karina langsung mengerti posisinya.
"Justru itu Aku sama Mas Radit mau minta maaf kalau keberadaan kamu di sini harus kami sembunyikan dulu, jangan tersinggung juga sakit hati ya ini semua untuk kebaikan karena otomatis pekerjaan kamu juga menjadi berhenti sementara waktu mulai hari ini, kalau ada keperluan apa-apa kamu tinggal menelpon Aku jadi untuk beberapa waktu kamu tinggal di kondominium, semoga kamu bisa mengerti ya." Andhini meminta pengertian Karina sambil memegang tangannya.
"Aku mengerti Nyonya, tapi Aku masih bisa keluar cari angin atau sekedar jalan-jalan atau beli makanan tapi sebagai orang lain yang tak kenal Nyonya sama Tuan? pokoknya tidak ada hubungan sama Nyonya juga Tuan Radit." Karina mengutarakan sedikit keinginannya.
"Oh, boleh saja. Syukur kamu mengerti Aku berharap diantara kita seakan tak kenal satu sama lain, jangan merasa terbuang semua ini hanya sementara waktu saja," tutur Andini.
"Baiklah Nyonya, jangan khawatir Aku akan mentaatinya, satu yang ingin Aku selesaikan yaitu selesai tugasku dalam perjanjian ini," jawab Karina seperti mengeluarkan beban dalam hatinya.
__ADS_1
"Iya Karina, semoga tanpa hambatan apapun lagi setelah ini, oh ya kemarin Aku mendapatkan pesan dari Bu Elyana Ibu Panti kamu, mengabarkan kalau adikmu katanya kelihatan murung setelah sekian lama tidak mendengar kabar dari kamu sejak awal kepergian kamu ke sini, apa benar seperti itu? Kamu belum mengabari apa-apa pada Adikmu?" tanya Andhini sambil meneliti wajah Karina yang menunduk.
"Benar Nyonya, Aku mengganti nomor ponselnya," jawab Karina agak raguragu.
"Kenapa? Kamu sepertinya bukan orang yang bisa mengabaikan Adikmu, malah Aku pikir kamu orang yang gigih memperjuangkan nasib dan masa depan adikmu sendiri, sampai rela berkorban dan bekerja apapun bukan?" selidik Andhini menatap meneliti wajah Karina.
"Ada hal pribadi yang menggangguku dengan nomor ponsel sebelumnya."
"Apa maksudnya? kalau ganti ya kasih tahu gantinya sama Ibu Elyana biar kamu tetap bisa komunikasi sama adikmu. Bukankah adikmu juga adalah motivasi buat semangat hidup kamu dan tetap jadi alasan kamu berada di sini juga semangat berjuang menatap masa depan yang lebih baik."
"Iya, Aku belum sempat mengabari, tapi selebihnya masalah pribadiku semasa kerja di kantor perusahaan Nyonya di Indonesia."
"Ada apa Karina? kalau Aku boleh tahu jujurlah, siapa tahu Aku bisa memberi solusi."
"Oh alah, ya ampun Karina itu toh masalahnya? itu adalah pilihanmu, kamu yang berhak memutuskan, hanya untuk Adikmu tolong sekedar mendengar suaramu atau kirim pesan kalau kamu baik-baik saja sempatkanlah." Saran Andhini pada Karina.
"Baik Nyonya, Aku jadi kepikiran mungkin nanti malam biar aku menghubungi Ibu Elyana."
"Ya sudah, sekarang kamu pulang dan bisa istirahat, boleh belanja apapun yang kamu butuhkan. Apa mau di antar Aku atau Erika?"
"Aku bisa sendiri Nyonya, biarin sambil jalan-jalan nggak begitu jauh kok." tolak Karina karena merasa kuat hanya pulang sendiri yang tak jauh dari tempatnya bekerja.
"Kamu yakin nggak diantar?"
"Nggak usah Nyonya, Aku mau jalan kaki sambil menikmati suasana musim gugur dengan angin semilir sejuk."
__ADS_1
"Ya sudah, hati-hati ya. Kamu masih menyimpan nomor telephon ku kan?" tanya Andhini lagi.
"Iya Nyonya, nanti Aku kirim juga nomor baruku." tutur Karina sambil berkemas memasukkan ponsel dan yang lainnya ke tas selempangnya.
Andhini hanya memperhatikan semua gerak gerik Karina, dan Karina juga tak banyak bicara lagi menyalami Andhini lalu keluar dari ruangan itu.
Karina masih kelihatan gesit dan cekatan selain tubuhnya mulai ada perubahan semakin berisi.
Karina melewati meja kasir yang di duduki Erika biasanya di situ Karina bekerja dan beraktivitas.
Erika tak banyak cakap saat Karina berpamitan hanya tersenyum dan mengangguk, sejak pertemuan pertama Erika sama Karina jujur Erika tak begitu suka sama Karina entah kenapa seperti ada sesuatu di diri Karina, seperti penuh dengan kebohongan dan tuntutan.
Sebagai teman dekat dan teman lama Andhini Erika pernah menyampaikan pendapatnya itu di hadapan Andhini kalau Andhini sama Radit harus berhati-hati lagi dengan sikap Karina yang seakan ada sesuatu keganjilan yang Erika tanggap dari sikap dan mata Karina.
Tapi semua itu dibantah oleh Andhini kalau Karina orangnya tulus dan ikhlas makanya dirinya percaya dan yakin karena bisa memegang teguh perjanjian memegang amanat dirinya dan suaminya juga.
menjaga kandungannya sampai pada akhirnya lahir dan dirinya yang akan mengasuh.
Erika tetap pada pendiriannya kalau Karina menyimpan sesuatu niat yang entah seperti apa kalau dijabarkan sulit untuk diungkapkan makanya Andhini tidak percaya dan tetapi yakin pada pendiriannya dan penilaiannya sendiri kalau Karina bisa setia dengan perjanjian itu karena termotivasi oleh imbalan yang telah dirinya terima dan bonus akan diberikan selanjutnya pasca melahirkan dan menuntaskan tugasnya yaitu sebuah rumah sebagai bonus tambahan.
******
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi karya di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️
__ADS_1