Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Insiden


__ADS_3

"Maaf Mas, Aku nggak bisa bawa Bayi Itu pulang sebelum ada pernyataan kesepakatan persetujuan dari Nyonya Andhini, kalau begitu tidak ada yang bisa kita bicarakan lagi di sini Aku akan pulang dulu. Aku stand by di nomor itu dan menunggu perkembangan kabar selanjutnya," ucap Karina sambil bangkit menatap Raditya bergantian sama Rahadian dua adik Kakak itu.


"Astagfirullah Karina! kamu jangan bikin Aku marah ya! Aku sudah berusaha bicara baik-baik, Anak itu juga adalah Anakku! Kamu mengerti tidak?" kemarahan Radit semakin keluar saja di bawa sabar hatinya ternyata tidak bisa akhirnya bangkit dan menghampiri Karina yang duduk di hadapannya di samping Rai.


Radit menangkap tangan Karina dan memegangnya dengan erat.


Raditya merasa terpaksa melakukan ini, memaksa Karina mengikut keinginannya menarik tangannya. Entah ke mana tujuannya mungkin mencari kereta yang akan membawa nya ke tempat Bayi itu berada. Dan memaksa Karina menunjukkan ke arah mana keretanya.


"Mas, Kamu menyakiti Aku!" ucap Karina berusaha melepaskan dan memegang balik tangan Radit.


"Ke arah mana kereta menuju tempat tinggal Kamu itu Hemght ...?" suara berat Radit bercampur dengan kemarahan, Radit masih bisa menahan emosinya masih beruntung segitu masih bisa ditahannya rasanya ingin teriak-teriak meluapkan emosinya seandainya itu bukan di muka publik dan dihadapan ribuan orang.


"Aku nggak tahu! Aku capek mau istirahat perutku sakit Mas!" ujar Karina meringis kesakitan.


Radit berhenti menarik tangan Karina, Radit sadar kalau Karina belum dua minggu habis lahiran dengan cara operasi, jauh di dalam hatinya tetap merasa sayang walau diantara mereka sudah tidak apa-apa lagi.


Dengan nafas tersengal-sengal Radit berhenti menarik tangan Karina dan membiarkan Karina menarik nafas dan dirinya juga sejenak beristirahat, dengan menatap wajah Karina yang kecapekan kemarahan Radit sedikit kendor dan melemah.


Semarah-marahnya hati Radit tetap ada rasa empati, kalau Karina telah memberinya seorang anak bagi hidupnya, selain kehangatan selama mereka terikat pernikahan.

__ADS_1


Rasanya tak ingin Radit terlibat dalam situasi seperti ini seandainya semua masih bisa dibicarakan dan duduk bersama, tapi keras kepala Karina merasa ingin menang sendiri dengan semua permohonannya membuat Radit marah apalagi Anaknya seakan terlantar entah bagaimana kondisinya juga di mana keberadaannya memaksa Radit berbuat sedikit keras dalam bertindak.


Mereka berdiri istirahat dari berjalan, dan Rai juga sama berdiri tak jauh dari mereka menunggu, Ada air mata yang membuat Radit luluh.


"Aku sakit Mas, tolong biarkan Aku pulang...." suara isak Karina sambil memegang perutnya.


"Tidak Karina, kalaupun kamu pulang biar Aku ikut Aku ingin bertemu Bayiku," ucap Radit sambil meraih tangan Karina. Tapi Karina melepaskannya.


"Tolong carikan Aku air minum Mas, rasanya kerongkongan ku kering banget dan perutku sakit banget,'' ucap Karina sambil menatap wajah Radit.


"Baiklah tunggu di sini," sahut Radit tanpa curiga apa-apa. juga tanpa memberitahukan pada Rai yang dalam posisi agak jauh, Radit mencari gerai minuman yang banyak berjejer di dalam stasiun itu.


Tanpa di duga Karina nekad meloncat sedikit lalu menuruni undakan menyebrang beberapa jalur rel ke arah sebrang.


"Kak Radit! Karina kabur!" teriak Rai mengagetkan Radit yang sedang membeli minuman di pinggir-pinggir peron gedung stasiun.


Kontan Radit nggak jadi beli minuman dan kembali ke arah tadi melihat Rai sudah berdiri di tempat Karina sama dirinya berdiri tadi, Radit masih melihat punggung Karina mau menyusul meloncat setelah kereta satu lewat tapi kereta silih berganti datang dari dua arah, Radit hanya mengambil ancang ancang saja dan dalam satu kesempatan Radit loncat juga tapi tersandung tapi beton penghalang pinggir rel, Rai berteriak dengan kencang memanggil nama Kakaknya, seketika orang pada berhenti melihat Radit bersimbah darah dan tangan yang melindungi kepalanya mengaduh kesakitan dengan menekuk sebelah kakinya. Teriakan Rai memanggil Radit yang kesakitan membuat Karina melirik dan tertegun tapi seketika hilang karena Radit di kerumuni orang yang memberikan pertolongan, Radit pingsan dengan luka di kaki tangan dan tubuhnya terbanting dan jatuh begitu keras pada bantalan rel dan terpental jauh dari ketinggian antara peron dan ruang bawah rel.


Rai sekilas melirik Karina yang telah hilang di telah lalu lalang gerombolan orang di stasiun Caulfield hatinya begitu geram tapi yang terpenting adalah kini menolong Kakaknya sendiri yang telah di bawa ke ruang dalam gedung oleh tim keamanan stasiun.

__ADS_1


Loncatan Radit sepertinya tidak sampai pada sasaran yang ditujunya, sehingga mental menabrak tiang pancang dan tubuhnya terbanting dengan sendirinya jatuh dalam keadaan tidak siap menimpa berbagai macam material di bawah sana termasuk bantalan rel.


Rai mengikuti jejak petugas yang menggotong membawa blangkar, sudah jauh ketinggalan tapi masih terlihat karena petugas semua berpakaian orange, Hatinya begitu tak tenang apa yang menimpa Kakaknya itu karena emosi sehingga semua tindakannya tanpa perhitungan.


Menghubungi Kak Andhini atau memastikan dulu keadaan Kakaknya? semua berperang di dalam hati dan perasaan Rai saat ini, Apa yang sebaiknya yang harus dilakukan kalau menghubungi Kak Andhini pasti akan ditanya keadaan Kak Radit, jadi Rai memastikan dulu keadaan Kakaknya bila mungkin langsung dibawa ke rumah sakit terdekat untuk tindakan awal.


Rai menangis hilang rasa malunya dan lupa kalau dirinya seorang laki-laki melihat kakak satu-satunya pingsan dengan luka yang tidak begitu terlihat di kakinya tapi darah begitu banyak sampai ke kemejanya juga mantel tebalnya.


Sepertinya ada benturan juga di kepala sehingga menyebabkan Radit pingsan setelah sesaat sempat mengaduh menahan rasa sakit yang menimpanya.


Rai menyeka airmatanya dan langsung berkonsultasi dengan petugas yang sedang memeriksa luka dan membalut sementara biar darah tidak terlalu banyak keluar dari betis dan bagian paha Radit. Celana jeans-nya panjangnya terpaksa di guntung untuk memudahkan penanganan dan mengontrol juga mengecek lukanya.


Keputusannya Radit di bawa ke rumah sakit terdekat dengan mobil ambulan setelah pertolongan pertama di stasiun dan di beri bantuan nafas lewat oksigen juga infusan.


Rai sama seorang petugas stasiun menemani dalam mobil ambulan dan Radit langsung dirujuk ke ruang UGD.


Kenapa Kak Radit belus sadar? apa benturan itu begitu kuat? sejuta oertanyaan Rai begitu banyak tak terjawab, padahal untuk loncatan seorang laki-laki itu sangat terjangkau, tapi kemungkinan Kak Radit memakai celana jeans sehingga arah tujuan pijakan kakinya tidak tepat sasaran jadi jatuh pada parit dan bantalan kereta yang berbatu.


Rai menimbang-nimbang ponselnya kapan saat yang tepat menghubungi Kak Andhini sekarang atau nanti kalau Kak Radit sudah siuman dari pingsannya?

__ADS_1


******


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️


__ADS_2