
Raditya membawa Andhini keluar dan menaiki mobil meninggalkan Erika yang melongo tak mengerti apa itu orang berdamai apa terus diam-diaman?
Sarapan Radit di tangan Erika sudah dibelinya alamat mubazir, Erika tak bertanya apapun. Dalam rumah tangga masalah perselisihan paham marah-marahan dan diam-diaman adalah satu bumbu pemanis dalam rumah tangga itu sendiri. Terkadang semua itu di alaminya sendiri.
"Mas mau kemana? tahu aku lagi sibuk? Lima hari lagi supermarket akan di buka, Aku harus secepatnya menyeleksi semua pelamar pekerjaan yang akan menjadi karyawan kita nggak jelas banget tujuannya ini mau kemana?" sungut Andhini melirik Radit suaminya yang lagi menyetir mobil.
"Aku tak perduli apapun, Aku hanya ingin rumah tanggaku utuh dan kita meneruskan program dan kontrol kita ke rumah sakit, tahu kalau hari ini jadwalnya. Aku harap kamu tidak melupakannya misi kita disini itu untuk apa? Aku ingin program kita berhasil Aku ingin anak dari rumah tangga kita bukan dari orang lain," Jawab Radit membuat Andhini diam.
"Mas! Aku tidak bisa hamil."
"Belum Andhini! Jangan bilang tidak bisa, kamu sama Aku masih muda juga jangan putus asa dulu pastikan suatu saat jika Yang Maha Kuasa mengizinkan semua tak ada yang bisa menolaknya, Tak sulit Sang Pencipta memberi keajaiban pada kita selagi kita berusaha sekarang adalah jadwal kontrol kamu dan Aku, lanjut terapi, Kamu seolah melupakan kepentingan buat diri sendiri jangan merasa puas karena Karina hamil, Aku akan bangga jika anak itu lahir dari rahim kamu."
"Mas, jangan bicara begitu, itu juga anak Mas, Aku saja begitu menyayanginya, menunggunya Aku nggak mau Mas bedakan jika Aku nanti hamil dan punya anak, anak Karina tetap anak Mas Radit juga." sahut Andhini menanggapi ucapan Radit seperti seakan tidak bahagia dengan kenyataan yang seperti ini.
"Jangan paksa Aku untuk berpendapat Andhini, Aku bukan mau melepas tanggung jawab, tapi apa salahnya aku menginginkan anak dari istri sah Aku sendiri?"
"Apa Mas tidak bahagia sekarang punya istri dua dan mau punya Anak dengan kehamilan Karina?"
"Maaf Andhini, bukan masalah bahagia atau bukan, semua itu silahkan kamu nilai sendiri tapi Aku belum sadar sepenuhnya, mungkin karena bukan kamu yang hamil saat ini, tapi seseorang yang baru segalanya dalam kehidupanku."
__ADS_1
"Tapi kita sebentar lagi akan punya anak Mas."
"Tapi bukan Anak buah cinta kita." Tegas Radit tanpa ekspresi. Seperti ingin mengingatkan Andhini kalau selama ini istrinya yang begitu kebelet punya anak, dengan jalan seperti inipun jadi.
"Jangan bicara begitu Mas ditubuh Karina ada darah dagingnya sendiri dan darah daging Mas Radit yang akan menjadi anak kita dan akan Aku anggap sebagai anakku." kilah Andhini meyakinkan suaminya kalau dari Karina juga sama seorang anak.
"Sudahlah, kita kontrol dulu stop jangan bahas apapun hari ini, kepalaku begitu penuh dengan permasalahan. Kamu juga sampai lupa jadwal sendiri."
Andhini diam, mengakui kalau dirinya mulai tenggelam dalam kesibukan seperti awal-awal pernikahan. Masalah pribadinya terabaikan sudah.
Mau tidak mau Andhini mengikuti keinginan suaminya, walau kelihatan semua itu hanya sia-sia bagi Andhini, tapi bagi Radit sepanjang waktu berusaha itu apa salahnya tak ada batas kesabaran untuk satu titik pengharapan.
Masih besar harapan Radit Andhini bisa hamil walaupun tidak menempuh jalan seperti ini, tetapi Andhini lebih tidak sabar sehingga kalau tidak dituruti akan menghadirkan permasalahan dan kalau dituruti juga tetap tidak menyurutkan banyak masalah dalam rumahtangganya.
Tak ada pembahasan tentang semalam, Radit yang mengambil jatah Andhini dan menghabiskan malam di tempat Karina, walau Andhini kelihatan masih dongkol Radit telah meminta maaf dan tak akan mengulanginya.
Sampai saat ini Mas Radit masih seperti belum bisa menerima keberadaan Karina walau mereka menikah sudah hampir 4 bulan dan hasil dari pernikahan siri mereka sudah kelihatan yaitu Karina hamil.
Andhini jiga berharap tak ada kelanjutan cinta dan jangan sampai terjadi antara Mas Radit sama Karina setelah semuanya usai, Andhini telah mengantisipasinya serapi mungkin dengan membuat perjanjian sedemikian rupa yang tidak menjadi kerugian dirinya.
__ADS_1
Semua kompensasi akan batal kalau terjadi cinta diantara Mas Radit sama Karina, apalagi bonus rumah dan lain-lainnya, itu salah satu butir perjanjian yang telah di sepakati bersama. Walau semua tak ada pembatalan semua harus berjalan sesuai perjanjian.
Sampai rumah sakit elit Radit turun duluan di susul Andhini yang seperti enggan menjalani test dan terapi juga program kehamilan dan konsultasi kesehatan. Tapi Radit menariknya seperti mengerti kalau Andhini sudah bosan melakukan itu semua.
"Ayo semangat lah, seperti semangatnya kamu mendorong orang lain untuk hamil, Aku akan menebus kesalahanku semalam Aku akan temani kamu kemanapun hari ini," ucap Radit sambil menggandeng tangan Andhini berjalan di lorong rumahsakit,
"Aku tak memintanya, Aku hanya meminta Mas konsekuen dan ikuti semuanya seperti semenjak awal." ucap Andhini agak ketus.
"Aku juga tak meminta persetujuan kamu, Aku ingin rumah tanggaku kembali normal tidak seperti ini, bebas tapi di batasi jujur Aku merasa tak nyaman, sedari awal kamu ciptakan aturan seperti ini malam bersamamu dan siang bersama Karina aku sudah menduga akan ada hal seperti ini," ucap Radit sambil melirik Andhini yang tetap berpandangan ke depan.
"Apa seperti ini yang kamu harapkan dari semua keputusan yang kita ambil? kita tak perduli lagi dengan keharmonisan rumahtangga, lupa niat kita berada jauh di sini, bahkan untuk diri sendiri juga kita lupa tujuan awal, dan sekarang sudah lupa jadwal kontrol program kita." Radit menarik Perlahan tangan Andhini mengajak duduk dulu di bangsal kursi Rumah sakit untuk menyelesaikan obrolan yang sangat pribadi.
Andhini diam memang akhir-akhir ini dirinya begitu sibuk dan lupa segala cuma yang menjadi harapannya kehamilan Karina dan segera menyelesaikan perjanjian.
"Dhini, Aku telah membuktikan kalau Aku bisa menghamili Karina, Tapi tak lantas surut tak perduli padamu dan tak menyalahkan pihak kamu, Kamu tetap istriku yang aku nikahi dengan ketulusan cinta malah Aku semakin yakin kalau kamu juga bisa hamil dan memiliki banyak anak, tapi ada proses yang harus kita jalani, kalau Aku harus jujur aku tidak memerlukan Karina asal kamu sabar Aku yakin kamu juga subur hanya waktunya saja belum ketemu jadi untuk itu jangan lekas putus asa."
Ada kesedihan di hati Andhini, Memang dirinya tidak sabar semua sudah terlanjur terjadi, yang harus di lakukannya sekarang mempersiapkan diri dan mentalnya untuk hal sepertu ini yaitu hal tak terduga yang mungkin akan ada dalam rumah tangganya sejak dirinya mengizinkan dan menyuruh Mas Radit menikahi Karina.
******
__ADS_1
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️