
Andhini menatap dr Fadli yang sama lagi memandangnya.
Andhini merasa tak percaya diri dengan statusnya kini, apalagi kalau dr Fadli tahu seperti apa permasalahan rumahtangganya kini.
Rasa minder dengan tatapan mata dr Fadli yang selalu lagi mencuri pandang setiap Andhini meliriknya.
"Kenapa dokter tidak terkejut saat kubilang kalau Aku sudah berumah tangga, dan tahu statusku?" tanya Andhini sambil mendorong gelas minuman ke hadapan dr Fadli.
"Andhini, haruskah Aku kecewa? itu buatku hal biasa. Bagiku untuk berteman tak terbatas siapa orang itu dan statusnya asal nyaman dan nyambung oke saja, satu lagi tak mengganggu privasi masing-masing terutama kamu karena aku seorang yang masih bebas," tutur dr Fadli panjang dan dimengerti maksudnya sama Andhini.
"Baik dokter, senang rasanya berkenalan dengan dokter, walau diawali dengan insiden," Low profil yang di perlihatkan dr Fadli semakin humble saja di mata Andhini.
"Hahaha … itu hanya accident kecil tapi Aku yang paling senang karena Kamu bisa memaafkan Aku," tutur dr Fadli kelihatan juga merasa senang punya satu kenalan baru satu negara yang tak pernah diperkirakan sebelumnya.
"Kalau Aku udah memaafkan dokter gimana?"
"Aku akan berusaha lebih keras lagi!"
Akhirnya mereka tertawa bersama.
"Dokter dengan siapa tinggal di sini?" tanya Andhini merasa ingin tahu.
"Sendiri, tapi ada senior yang lebih dulu berada di sini."
"Kenapa pilih SpOG? Bukankah itu adalah satu pilihan berat bagi seorang lajang?"
__ADS_1
"Nggak ada yang berat buatku Andhini, sepanjang niat kita baik dan itu adalah hal yang akan bermanfaat, walau dianggap sebagian orang spesialis ini adalah aneh, seorang laki-laki menjadi penolong ibu-ibu melahirkan, tapi bagiku adalah menyelamatkan satu generasi penerus kehidupan adalah profesi sejarah yang tiada duanya," tutur dr Fadli begitu pintar kelihatanya di mata Andhini.
"Wow dokter idealis banget, boleh mulai sekarang jadi tempat konsultasi ku?"
"Hahaha … kenapa nggak? mau konsultasi apa? boleh banget Andhini selalu ada diskusi untuk jalan keluar semua permasalahan dengan dr Fadli!" Dr Fadli seperti bangga dengan dirinya. Juga penawaran terbuka yang sangat istimewa tentunya.
Perbincangan selama sarapan begitu lancar mengalir tak terarah bergulir di selingi canda juga tawa. Keduanya sama-sama nyambung dan enak saat mengobrol.
Jelas meninggalkan kesan dan kekaguman di hati keduanya bagi Andhini juga dr Fadli, punya penilaian tersendiri bagi masing-masing.
Keduanya seakan lupa diri dan lupa permasalahan sendiri hingga sampai pada pertanyaan dr Fadli yang menjurus ke arah pribadi Andhini, setelah tahu asal daerah masing masing di Indonesia yang ternyata sama-sama dari Bandung semakin nyambung saja.
Semakin akrab dan merasa seperti bertemu sodara saja, dan obrolan mereka dengan bahasa tanah air menimbulkan lirikan orang lain tak diperdulikan mereka berdua.
"Suamimu juga sama usaha? kenapa jalan masing-masing?" pertanyaan tak terduga dr Fadli membuat Andhini tetap tersenyum.
"Oh, Mas Radit semalam terpaksa keluar dan harus menginap segala di minimarket kami, karena kantor ekspor impor tidak muat menampung barang yang belum diambil sama pelanggannya, sebagai orang yang memakai jasanya dan kiriman produk Indonesia terbanyak terpaksa Mas Radit mengangkut sebagian dengan estafet karena karyawan kantor ekspor impor hanya sampai jam sembilan malam, makanya Aku berangkat pagi banget." Andhini memberi alasan dengan lugas, tapi dr Fadli tahu ada kebohongan di mata Andhini.
"Kenapa nggak ikut? Bukankah asyik bisa saling memahami pekerjaan walau hanya menemani? Suatu saat Aku punya istri akan Aku ajak kalau praktek, biar istriku bisa melihat juga merasakan dan mau ikut ke duniaku biar jadi lebih mencintai profesi Aku selain untuk lebih menanamkan rasa saling menghargai," ujar dr Fadli menyanggah alasan Andhini.
"Aku merasa lelah dokter, setelah berkutat dengan penataan di dalam supermarket dan penerimaan karyawan baru di supermarket yang akan dibuka beberapa hari lagi, takut staminaku ambruk jadi Aku ingin istirahat dan Mas Radit mengijinkannya."
"Sangat romantis kelihatan suamimu Andhini, boleh Aku kenalan dan datang di pembukaan supermarket kamu nanti?"
"Oh, boleh banget dokter, sekalian bawa temanmu se-kompi biar bisa memborong semua produk Indonesia kalau memang sudah kangen dengan segala macam yang didatangkan langsung dari Indonesia."
__ADS_1
"Dengan senang hati Andhini, Insya Allah Aku datang, tapi takkan bawa teman dulu, takut temanku nanti mengagumimu seperti Aku yang kagum dengan kesuksesan Kamu di sini," tutur dr Fadli kedengaran ucapannya itu bukan bercanda.
Andhini merona merah pipinya, merasa dirinya juga mengagumi kepintaran dr Fadli.
Andhini sadar diri siapa dirinya dan statusnya kini, sebatas kagum dan menjadi sahabat itu mungkin tak jadi masalah, sepanjang saling menjaga etika ketimuran di manapun mereka berada.
"Maaf Andhini, apa kalian berumahtangga sudah mau enam tahun belum memiliki buah hati, itu tidak mengganggu rumahtangga mu?"
Akhirnya sampai juga pada pertanyaan itu, itu sudah Andhini duga sebelumnya. Mereka akan sampai pada pertanyaan itu hanya waktu yang menentukan kapan dan di pertemuan mana, di obrolan awal pun dokter Fadli sudah mengutarakan pertanyaan itu.
"Itu salah satu alasan kenapa kami ada di sini itu jawabannya."
"Andhini, kenapa sejak awal kita ngobrol selalu nyambung? atau memang kita di takdir kan untuk menjadi sahabat baik? di mana kamu menjalani program kehamilan? terapi dan konsultasi cek rutin?"
Andhini menyebutkan satu Rumah Sakit terkenal di metropolitan Melbourne Australia.
"Astagfirullah, itu kan tempat Aku mendalami ilmu yang di tunjuk kampus kuliah di sini, Aku menjadi Asisten dr SpOG J!"
"Tapi aku sudah lelah dokter, sampai saat ini belum menunjukkan hasil yang memuaskan walaupun secara medis, hasil semua pemeriksaan dan keilmuan tidak ada kendala dalam rumah tanggaku. Aku sehat suamiku sehat cuman kami dari keluarga yang kurang banyak memiliki anak Aku hanya seorang anak tunggal dan suamiku dua bersaudara," keluh Andhini memperlihat muram di wajahnya dan itu dimaklumi oleh dr Fadli.
Usaha sekeras apapun, secanggih apapun teknologi yang menangani kita kalau Yang Maha Kuasa sebelum ridho belum menentukan itu rezeki untuk kita, tidak akan bisa kita raih, tetapi Aku hanya bisa mendorong dengan semangat motivasi perbanyaklah berdo'a, perbanyaklah bersyukur dan bershodaqoh dengan ikhlas karena kita tidak tahu do'a mana yang akan dikabulkan suatu saat nanti, hanya do'a yang akan mengubah dan menjawab keinginan setelah kita menjalankan ikhtiar."
Andhini serasa lapang hatinya laksana mendapatkan siraman dalam panas kepala dan hatinya yang bergolak dengan semua permasalahan yang ada dalam rumah tangganya.
*******
__ADS_1
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️