Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Saling mengagumi


__ADS_3

"Ya ampun Andhini! kenapa sampai jauh kesasar ke sini?" Erika datang langsung  memeluk Andhini sambil mengamati setiap jengkal tubuh Andhini yang kelihatan masih sempurna karena tadi Erika dengar Andhini mengatakan kalau habis kecelakaan, Erika merasa sedikit ketakutan karena tahu Andhini pernah ada riwayat jatuh dan istirahat cukup lama hingga vakum dengan aktivitas kesehariannya.


"Biasa aja Rika, gue baik-baik saja, malah lebih baik dari kemarin. Kenalkan dokter SpOG baru gue yang mendampingi gue menjalani program lagi, Walau gue jujur semua tak ingin diketahui Mas Radit." jawab Andhini, setelah selesai mereka pelukan dan mempersilahkan Erika duduk dan berkenalan dengan dr Fadli.


Di lobby rumah sakit dengan pemandangan taman dan air mancur seakan berada di hotel memang, atau percis nya di kafe-kafe di ciptakan untuk rehat dari aktivitas, baik sebagai tenaga medis, pasien yang rawat inap juga yang berobat jalan atau sekedar menunggu dan mengantar.


Terasa bukan rumah sakit memang, walau di dalamnya tatap ada yang sakit, merintih, berbaring dan berobat jalan dan juga konsultasi seputar kesehatan.


Erika memandang wajah dr Fadli, muda, tampan dan seorang dokter pula begitu simpatik kelihatannya, Erika menerima uluran tangan di hadapannya.


"Erika …."


"Fadli, sama dari Indonesia." dr Fadli tersenyum sambil mengangguk memandang Erika yang pasang wajah penuh selidik bagi sahabatnya, melirik pada Andhini yang hanya senyum-senyum juga seakan menyimpan sesuatu tanda tanya bagi keduanya.


"Andhini, lo nggak pernah cerita kalau punya teman seorang dokter di sini," tanya Erika merasa penasaran, Andhini hanya senyum menanggapi kepenasaran Erika.


"Kami kenal baru tadi pagi kok, karena ada insiden kecil Aku menabraknya jalanan masih agak gelap, tapi karena kita merasa sama setanah air akhirnya kami ngobrol ke sana kemari, kami kenalan akhirnya Andhini Aku tawarin dan ajak ke rumah sakit tempatku magang dan praktek," dr Fadli memberi sedikit jawaban mendahului Andhini juga memberi keterangan awal mereka kenalan.


"Pantesan lo senang banget kedengarannya, ada seorang pangeran tampan di sini rupanya," sindir Erika tak perduli dr Fadli tertawa kecil mendengar ucapannya.


"Jangan terlalu berasumsi jelek, kami bertemu secara tidak di sengaja. Kalau gue mau tak akan memberitahukan keberadaan gue di sini, ya dok?" ucap Andhini seperti ingin menepis anggapan jelek Erika. Tapi kenapa saat Andhini ucap kata dokter ada binar ceria di wajahnya?


"Oke Nona, Gue tak seperti itu hanya satu tugas gue yang perlu di laporkan semua selesai sesuai jadwal dan besok pembukaan supermarket bisa di laksanakan, Kalau soal pribadi lo asal lo bijaksana dan bahagia gue dukung, tapi jangan ada sesal," ucap Erika mengalihkan.

__ADS_1


"Lo memang bisa di andalkan dalam hal apapun, baiklah kita pulang kalau hati lo sudah tak curiga lagi sama gue!" ucap Andhini bercanda tujuannya.


Dr Fadli mengulurkan tangannya pada Andhini membantu berdiri, walau berdiri dari duduk di kursi bukan pekerjaan susah, kelihatan begitu perhatian sambil melihat kembali betis Andhini yang celananya masih di gulung ke atas kelihatan ada bekas sedikit lecet.


"Gimana kakinya sudah nggak begitu sakit kan?" tanya dr Fadli masih tetap memegang sebelah tangan Andhini.


Andhini menggeleng. Tersenyum menatap dr Fadli.


"Hemght!" Erika batuk kecil percis nya berdehem. Ada rasa senang melihat binar bahagia dari pancaran warna muka Andhini, tapi bukan seperti ini yang diharapkan Erika, Ingin Andhini bahagia dengan rumahtangganya, bukan dengan seseorang yang mempesonanya saat Andhini telah berstatus seorang istri.


Andhini dan dr Fadli hanya tertawa kecil mendengar batuk-batuk kecil Erika yang mengingatkannya, Andhini seperti kelihatan tanpa beban sambil melepaskan tangan dari pegangan dr Fadli, menyadari tangannya masih berpegangan.


"Baik dok, Aku pulang dulu, jangan lupa besok hadir di pembukaan supermarket ya, bawa teman terutama dari Indonesia, ada ruang istimewa buat dokter, juga ada diskon yang sayang buat di lewatkan."


Erika melihat semua itu sesuatu yang sangat berbahaya, apalagi intensif mereka selalu bertemu entah seperti apa jalan pikiran Andhini menciptakan masalah di atas masalahnya sendiri.


Kekhawatiran Erika memang sangat beralasan dan Andhini telah menciptakan masalahnya sendiri walaupun di awal serapi mungkin mereka bikin, mereka buat, dan mereka rancang, tetapi pada kenyataan akhirnya semua melenceng dari perkiraan. Raditya seakan lupa diri dengan keadaan dirinya apalagi semenjak Karina hamil Andhini merasa tersisih dan mendapatkan Mas Radit kini sudah lain, Erika selalu mendengar keluhan-keluhan dari Andhini Mas Radit kini tak memperdulikannya.


Tapi bukan satu alasan bagi Andhini untuk mencari pelampiasan mencari teman lain, mencari seorang pria lain sudah masalahnya kini bertumpuk semakin menumpuk saja setelah dirinya membuat masalah baru seperti itu, sementara pikiran Erika fokus pada penyelesaian masalah Andhini sama Karina dan Mas Radit juga kedatangan Rahadian yang sedikit mengacaukan semuanya.


Dengan diantar tatapan sulit di artikan dari dr Fadli, Erika menarik tangan Andhini masuk mobil di parkiran, setelah mereka berjalan bersisian sepanjang taman rumah sakit itu, tapi Andhini masih saja memandang dr Fadli yang sama lekat menatap Andhini dari jarak hanya pintu mobil penghalangnya.


"Andhini, terimakasih telah bersamaku sehari ini," ucap dr Fadli saat Andhini akan menutup kaca.

__ADS_1


Andhini menyimpan tangan kanan di dadanya sambil tersenyum, dan Erika menjalankan mobilnya tidak dengan perlahan, tapi seakan ingin memisahkan Andhini dari dokter itu.


"Bawa mobilnya kenapa emosi? kalau lo nggak suka jemput gue tadi juga gue bilang nggak usah jemput! gue bisa jalan sendiri nggak pulang juga nggak apa-apa gue nggak ada yang cariin!"


"Lo sadar nggak sih yang lo lakuin itu salah? lo pikir gue anak kecil yang tidak melihat lo sama dokter itu saling menebar pesona dan berbagi suka?"


"Lalu salahnya gue di mana? nggak boleh gue senang? harus menerima apa adanya diperlakukan bagaimanapun juga apa gue tidak berhak bahagia?"


Ciiiiiiiit .... jedud!


Mobil di bawa ke tempat tak ramai Erika ke pinggirkan dan di rem sekaligus sehingga Andhini hampir tersungkur ke depan kalau tidak memakai seat belt.


"Dhini! bukan gue sok alim tapi semua itu demi kebaikan lo, coba jangan bermain api dengan dokter itu, itu salah Andhini! sekarang lo masih istri Raditya sedang semua masalah yang terjadi adalah masalah dari ide lo yang sok idealis rela di madu! tapi sekarang lo seperti ingin memperlihatkan sakit hati lo yang selama ini lo rasakan."


Andhini diam, di akuinya kalau selama ini Andhini sakit hati oleh perlakuan Raditya


"Mau lo sekarang apa? memang nggak ada yang melarang lo mau main sama siapa, mau mencintai siapa tetapi lo jangan tinggalkan masalah yang sedang membelit lo sekarang, lo boleh saling mengagumi tapi lo jangan coba memberi harapan."


*****


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2