
Erika sangat prihatin dan sedih menyaksikan kehidupan Andhini sekarang yang seperti itu, tapi Erika tak bisa menyalahkan satu diantara suami istri itu, semua saling punya ego yang menurut Erika terlalu berlebihan terutama Raditya sebagai suami, tak seharusnya memojokkan Andhini dengan tuduhan-tuduhan seakan dirinya paling benar.
Datang dr Fadli menghampiri Erika dan menanyakan kronologi kejadian yang menimpa Andhini hingga sampai pingsan segala.
Terlihat kecemasan di raut mukanya, seperti ada sesal kenapa semua harus terjadi seperti itu, juga mungkin dr Fadli merasa semua ada kontribusi dirinya yang tanpa sengaja mengagetkan Andhini dengan memeluknya di tempat pusat perbelanjaan itu.
Dr Fadli mengerutkan dahinya dan memijit pelipisnya mendengar Erika cerita. Rasa simpati kepada Andhini telah menyita perhatiannya. Hatinya tak bisa dibohongi kalau dirinya begitu terpaut pada satu sosok yang tanpa sengaja dikenalnya di pagi buta itu, saat dirinya olahraga goes mungkin sama-sama tidak fokus baik Andhini ataupun dirinya akhirnya terjadi insiden sepeda menubruk Andhini yang lagi berjalan di remang pagi menjelang siang.
Rasa suka yang tak bisa di realisasikan membuat dr Fadli tetap menjadi seorang pemuja Andhini walau tahu itu salah dan mengerti benar bagaimana status Andhini.
"Sebenarnya walau Andhini adalah pasien di rumah sakit ini tapi Andhini bukan kapasitasku sekarang, karena sudah ditangani dokter umum, semoga saja cepat siuman dan pulih kembali hanya syok saja dan semoga tidak berlanjut," ucap dr Fadli menenangkan Erika.
"Dok, apa semua ada hubungannya dengan kabar gembira yang Andhini terima dari dokter semalam? Maaf Aku dengar di pertengkaran antara Andhini sama suaminya tadi di kantor sebelum Andhini pingsan," ucap Erika penuh harap kalau semua itu benar adanya.
"Ya, Andhini positif hamil walau terdeteksi sangat dini, dan itu harus di jaga begitu ekstra jangan sampai ada beban pikiran dan fisik yang berlebihan, Aku juga sebagai Asisten dokter yang menangani Andhini sangat antusias dan gembira dengan keberhasilan ini, teknologi yang di terapkan hasil teknologi terkini telah berhasil memberi manfaat yang sangat positif dan merangsang seseorang yang tidak begitu subur menjadi hamil dan mengikuti program secara rutin walaupun hanya baru seminggu ataupun dua minggu berjalan," ucap dr Fadli memberi kebahagiaan bagi Erika.
"Alhamdulillah Ya Allah, semoga Andhini sehat dan bayinya juga tumbuh sehat juga."
"Aamiin ..."
__ADS_1
"Maaf dok, ada catatan penting mungkin bagi dokter, karena pertengkaran Andhini tadi pagi bahkan dari semalam sampai pagi itu ada kaitannya dari kejadian kemarin malam di pusat perbelanjaan itu," ucap Erika memancing sikap dr Fadli, ingin tahu bagaimana reaksinya.
"Iya, Aku juga memang salah, bahkan salah besar bersikap seperti itu pada Andhini, Aku merasa dekat dan akrab juga begitu cocok dengan Andhini terkadang tidak sadar melihat status Andhini adalah seorang istri seseorang," ucap dr Fadli sambil melirik ke arah ruangan UGD.
"Dokter, lihatlah Andhini dan selesaikan masalah kesalahpahaman antara dokter, Andhini dan suaminya Raditya jujurlah semuanya, karena Radit melihat ada tuduhan yang mengarah kepada dokter semacam ketidakpercayaan kepada istrinya bahkan meragukan kehamilannya, itu yang membuat Andhini syok dan pingsan," ucap Erika memberikan sedikit saran biar dr Fadli bisa turun tangan karena permasalahan yang ada menyangkut dr Fadli sendiri.
"Aku akan menyesalkan kejadian ini, tak seharusnya Andini sampai seperti sekarang, semua wanita jelas merasa syok karena jujur kami hanya berteman walaupun mungkin kami saling mengagumi tetapi kami sadar diri mungkin tidak ada celah bagi kami untuk menyatukan pesona masing-masing sehingga menjadi satu kenyataan." Dr Fadli seakan begitu jauh berpikir kenapa hatinya harus tertarik pada seseorang yang sudah berstatus istri orang sehingga mendatangkan masalah pada Andhini sendiri.
Masalah perasaan itu masalah hati, tak ada yang bisa menolak menghalangi dan mengalihkan semuanya, semua orang bebas jatuh cinta dan kadang cinta itu sendiri buta benar adanya, terkadang perasaan tak terkendali menimbulkan masalah bagi kedua belah pihak.
Dr Fadli masuk dan menghampiri dokter juga perawat yang lagi menangani Andhini, kelihatan Andhini mulai siuman tapi kelihatan masih begitu pusing dan tak fokus.
Terlihat dokter sama suster itu mengangguk mengerti dan mempersilakan dokter Fadli untuk bicara sama Andhini yang kelihatan masih memejamkan mata.
Radit menjelaskan kalau Andhini pingsan mungkin ada kaitannya dengan kehamilannya di masa-masa awal, walau belum terjadi perubahan hormon yang begitu berarti tapi tidak menutup kemungkinan sesuatu yang perlu dijaga harus disampaikan pada Andhini setelah nanti agak pulih tentunya.
Radit melihat wajah cantik lemah dengan infus dan selang pernafasan, sosok Andhini yang akhir-akhir ini banyak menyita perhatiannya, kadang dr Fadli berpikir dan menolak kata hatinya, kenapa dirinya harus jatuh cinta pada sosok Andhini yang ditemui dan berkenalan begitu tak sengaja, sosok Andhini di matanya begitu mempesona, dan menggoda di tiap pertemuan mereka.
Dr Fadli mengerti kegalauan dan kegelisahan Andhini, mungkin ciuman dan pelukan mereka saat itu adalah pernyataan dari puncak masalah Andhini sendiri yang buntu penyelesaian, tapi dr Fadli merasa itu adalah hal yang tak bisa di lupakannya.
__ADS_1
Dr Fadli memegang kening Andhini dan Andhini membuka matanya. Sesaat mereka berpandangan tanpa satu katapun yang terucap dari bibir mereka.
Radit yang menyadari keadaan langsung mengatupkan rahangnya sambil berdiri menghampiri Andhini dan mengambil tangan Andhini di sebrang dr Fadli berada, menggenggam dan mencium tangan Andhini lalu mencium sebelah keningnya.
"Kalau sudah segeran kita pulang saja, bila mungkin harus di rawat Aku pastikan pindah Rumahsakit!" ucap Radit dengan nada dingin.
"Aku dr SpOG yang menangani Andhini, Kami tidak melarang siapapun mau melanjutkan di sini atau di manapun itu adalah hak pribadi masing-masing pasien, tetapi alangkah lebih baiknya karena Ibu Andhini program di sini awalnya dan kini sudah berhasil hanya menyarankan saja akan lebih baik observasi penelitian dan pengawasan lanjutan kehamilan ke depannya di sini, itu hanya saran saja. Di sini karena Ibu Andhini adalah satu dari sekian banyak orang yang telah berhasil dalam metode pengembangan teknologi terapi program kehamilan di rumah sakit ini yang berhasil hamil dengan waktu tercepat." ucap dr Fadli di hadapan Andhini juga Radit ada dokter umum juga seorang perawat.
"Dokter, jadi Aku ini benar hamil?" tanya Andhini masih belum percaya.
"Iya Bu Andhini, jika Bu Andhini sama suaminya memerlukan data, semua ada bisa dicek nanti tapi sekarang hanya menyampaikan kabar gembira ini semoga menjadi penyemangat bagi Ibu Andhini dan mungkin akan menjadi kehati-hatian dalam melakukan tindakan apapun baik Ibu Andhini juga suaminya, karena ada yang harus di jaga secara prioritas yaitu janin yang mulai berkembang di rahim Bu Andhini." ucap dr Fadli sambil menatap Andhini.
"Apapun itu selesaikan dulu semuanya kita pindah rumah sakit setelah ini," jawab Radit tetap pada pendiriannya.
"Itu semua hak masing-masing, hanya kami mungkin tak bisa memantau perkembangan Bu Andhini lagi." Ucapan dr Fadli tak membuat Radit berubah. Merasa semua jadi ancaman kalau Andhini harus tetap berhubungan dengan dokter sialan ini dan rumah sakit ini.
******
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi karya Author di bawah ini, baca like dan komen membangun ya! 🙏❤️
__ADS_1