
"Kak ada apa semua ini? sepertinya Aku menangkap keganjilan dari semua yang Aku lihat dan saksikan dengan mata kepalaku sendiri," ucap Radit dengan kilat kemarahan di matanya, menatap Radit dengan tak mengerti.
"Aku berpakaian dulu, kamu bikin minum baru kita bicara!" Radit menyuruh Adiknya bikin minuman, maksudnya biar mereka ngobrol sambil minum dan sarapan apa adanya.
Radit tahu Adiknya marah, tahu karakter Rahadian kalau dia anti sama yang namanya poligami, perselingkuhan dan benci dengan pertengkaran, perselisihan bagi prinsipnya hidup ini terlalu indah dan berharga harus diisi dengan segala macam permasalahan yang semua bisa dikendalikan dari diri kita sendiri. Untuk apa semua pertentangan kalau masih bisa di jalani dengan damai?
Rahadian bangkit menuju belakang menghidupkan dispenser dan meracik minuman memilih semua yang serba instan, ada sereal, susu, kopi, teh juga minuman yang sudah sachet yang mix atau original.
Rahadian tak bertanya apapun pada Kakaknya hanya bikin saja minum dari apa yang ada, dan dirinya suka. Dalam pikirannya yang ada di belakang semua bahan minuman ini pasti enak dan semua pernah di cicip Kakaknya jadi di sediakan selalu.
Radit duluan duduk dan menyediakan makanan dari toples, karena melihat nggak ada bahan untuk di hangatkan ke dalam microwave.
Biasanya Andhini selalu menyediakan untuk sekedar sarapan pagi sebelum mereka beraktivitas bekerja dan nanti siang makan di luar.
Hanya ada biscuit di beberapa toples dengan beberapa rasa. Radit lalu membawanya ke meja disimpan di dekat minuman yang terlebih dahulu Rahadian simpan di meja sofa.
Rahadian hanya diam entah dari mana dirinya harus memulai bertanya atau meminta penjelasan dari semua yang telah terjadi di depan matanya bahkan yang barusan saat Kakak iparnya Andhini keluar dengan menangis, semua itu perlu penjelasan Kakaknya apa sebenarnya yang terjadi di sini?
"Aku perlu menjelaskan semuanya padamu Rai," ucap Radit memanggil Rahadian dengan panggilan kesayangan keluarganya. Bapak Ibunya juga memanggil dengan panggilan itu.
__ADS_1
Rahadian masih saja diam mungkin menunggu kata-kata kakaknya selanjutnya.
"Aku sama Andhini sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja, seperti yang kamu lihat sendiri," ucap Radit memulai bicara.
"Tapi kenapa? ada apa sih Kak? Kak Andhini keluar dari rumah sambil menangis! sepertinya semua dugaan ku selama ini benar adanya dan yang Aku lihat kemarin itu apa artinya?"
"Apa yang Kamu duga selama ini Rai? Aku berselingkuh kan? Aku katakan dan Aku yakinkan padamu kalau Aku tidak berselingkuh, tapi sudah menikah dengan Karina, dan Karina sekarang sedang mengandung anakku," ucap Radit tak ingin menyembunyikan statusnya.
"Apa? sudah menikah? Astaghfirullahaladzim, Apa Kakak sadar semua itu menyakiti Kak Andhini? selama ini Kak Andhini tidak ada keterusterangan pada keluarga?
Kalau sampai semua ini sama Ibu akan diusir dan tidak dianggap lagi di keluarga yang pasti orang tua kita akan mencoret Kakak dari ahli waris keluarga besar Subrata, Bapak sama Ibu pasti akan marah besar apakah Kakak tidak sadar Kak Andhini itu siapa? Kak Andhini adalah anak sahabat Bapak perusahaan kita besar karena merger dengan keluarga Suryadilaga! Apa Kakak mengambil keputusan ini sadar tidak? Atas dasar apa Kakak melakukan semua ini?"
Rahadian kelihatan marah besar ternyata Karina yang selama ini dirinya kenal mulai dari lift di rumah makan selalu sendiri ternyata jawabannya ada di depan mata karena adalah istri Kakaknya juga.
"Kakak memang keterlaluan, tak punya hati, sembarangan mengambil tindakan dan keputusan, tidak berpikir jauh Kak Radit tidak berpikir dampaknya terhadap orang tua kita! pokoknya Aku benci Kak Radit sekarang Aku benci dan tidak bangga lagi punya Kakak seperti Kak Radit, yang tadinya Aku begitu mengidolakan atas keberuntungan, keharmonisan rumah tangga atas kepintaran tapi ternyata semuanya salah!" tambah Rai menumpahkan semua kekesalan, kemarahan dan kebencian atas tindakan Kakaknya.
"Kamu boleh marah juga benci padaku tapi Kamu harus tahu kalau keputusannya Aku ambil itu adalah atas dasar cinta dan demi keutuhan rumah tangga kami, semua ini adalah rencana Kakak ipar mu Andhini yang menginginkan semua ini, percaya ataupun tidak kamu harus mendengar semua cerita dari awal, baru mungkin akan mengerti semuanya." ucap Radit jawaban menyangkal mengejutkan Rai, Radit seolah malah menimpakan masalah pada Andhini.
"Ah! mustahil seorang istri akan mengizinkan suami yang dicintainya berpaling kepada wanita lain mengizinkan suaminya berbagi terbukti dengan Kak Andhini pergi tadi pagi keluar dari rumah dengan bercucuran air mata apa semua itu artinya?"
__ADS_1
"Rai! kalau melihat permasalahan hanya sepotong dan hanya setengah tidak akan dipahami, suka tidak suka kamu orang kesekian yang akan tahu rahasia Rumah tanggaku di sini dan selama ini. Hari ini juga Aku akan membuka semuanya dihadapan mu, Aku merasa bersyukur kamu menangkap basah Aku saat di hunian Karina karena ada jalan untuk berterus terang biar semuanya tidak menjadi salah paham." tutur Radit lagi.
Rahadian masih jauh untuk mengerti apa yang di ucapkan dan kata-kata yang keluar dari mulut Kakaknya. Semua itu bagi Rai hanya kamuflase dan menutupi kesalahan, tapi Rai juga siap sebagai orang dewasa yang mungkin bisa menerima alasan atau apapun dan bisa mendengarkan semua penjelasan demi sebuah kebenaran.
"Kamu tahu, Kami sudah menikah kurang lebih 5 tahun dan sekarang menginjak kepada tahun ke-6 pernikahan kami, tapi sampai saat ini Andhini belum memperlihatkan tanda-tanda kehamilan, sebenarnya Aku sendiri bukan orang yang mempermasalahkan semua itu kami menjalani rumah tangga dengan bahagia penuh cinta seperti yang kamu lihat harmonis dalam pandangan orang, tapi di dalamnya selama ini Andhini selalu gelisah dan menuntut entah kepada siapa..." perlahan Radit mulai membuka tabir.
Rahadian menatap raut muka Kakaknya yang selama ini tak ada cela di hadapannya selalu jadi contoh dalam segala hal selalu dicontohkan sama orang tuanya untuk hal-hal yang baik.
Sekarang di pandangan mata Rai sendiri Kakaknya sebagai seorang yang salah besar dan lebih jauhnya sebagai pesakitan yang tidak layak dicontoh dan sepantasnya diberi hukuman atas semua keputusan dan perbuatan yang salah.
"Andhini menginginkan seorang anak demi nama baik di keluarganya, demi orangtuanya dan demi kelangsungan generasi keluarga besar Suryadilaga keluarga Andhini, kami seperti marathon melakukan konsultasi pengobatan, check, kontrol terapi dan lain lain pokoknya segala macam medis yang mengarah ke situ telah kami lakukan tetapi hasilnya sampai saat ini nihil hasil!" Radit bicara seperti menggambarkan perasaan Andhini dan dirinya.
Rai mencerna sedikit demi sedikit apa yang diucapkan Kakaknya entah itu kebenaran atau alasan saja, tetapi Rai mulai membuka hati untuk bisa menerima dan membuka hati mulai mengerti apa yang dikatakan Kakaknya.
"Berawal dari mulai obrolan iseng Andhini sama temannya, terbersit ide dan menyuruh Aku menikah siri dengan seseorang dan Andhini sendiri yang memilihkan seseorang itu untuk Aku nikahi. Saat itu Aku juga menentangnya karena bukan penyelesaian tetapi permasalahan baru yang akan kami dapatkan. Benar saja sampai saat ini hanya masalah yang kami dapatkan!" tutur Radit seperti melepaskan anak panah begitu jauh membawa beban berat dalam hatinya.
Rahadian terhenyak, lesu duduk di sofa mendengarkan penuturan Kakaknya menatap kosong gelas yang sudah dingin berisi minuman yang belum disentuh.
******
__ADS_1
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️