
"Aku sudah tak bersama Karina sejak terakhir kali Kamu sama Erika bertemu di hunian kita, Aku sudah mencarikan seorang yang menemani Karina saat malam hari takut ada apa-apa dengan kandungannya, Aku menyadari semuanya semakin dekat saatnya Karina melahirkan semakin dekat pula waktu akan memisahkan kami, seminggu ini Aku juga tidur sendiri," ucap Radit di satu siang saat mengambil pesanan barang yang akan segera di pesan di Indonesia.
Radit duduk di hadapan Andhini yang sejak seminggu yang lalu menyatakan pisah ranjang dan perang dingin.
Andhini diam saja tak berkomentar apapun, lega juga tidak. Mungkin saja Mas Radit bohong hanya sekedar untuk meyakinkan dirinya dan memaklumi semua kesalahannya. Benar juga bisa jadi, mungkin kesadaran telah datang pada dirinya.
"Sayang, kita pulang ke tempat kita Aku telah banyak salah, Aku tak rela melihat Kamu begini, di sini yang di lihat sepanjang siang dan malam hanya pekerjaan yang tak ada selesainya, semua ini untuk apa? tak terpikirkan sebelumnya kenapa tidak dari dulu-dulu kita mencarikan seorang yang menemani Karina saat kita tahu dia sudah hamil?" ucap Radit lagi, sambil mulai memegang pundak Andhini yang masih saja dalam posisinya duduk di meja kerjanya memandangi laptop di hadapannya.
"Andhini, seminggu Aku tak bersamamu hanya sendiri terasa hidupku tak menentu, apa yang kita perjuangkan di sini seakan tiada artinya, kita tidak memeriksakan diri lagi bersama, hanya bekerja dan bekerja saja semua itu terasa sia-sia," ucap Radit meyakinkan Andhini.
Andhini bingung harus ngomong apa, haruskah bertanya kesungguhan hati Mas Radit? kalau tuntutannya selama ini begitu sederhana? atur waktu seadil-adilnya, karena dirinya juga begitu mengerti keadaan masing-masing selama ini.
Andhini, bicaralah Aku telah bicara sama Karina juga jangan menuntut sesuatu di luar perjanjian dan Aku telah menugaskan Adikku Rai kalau sewaktu waktu karena membutuhkan sesuatu mungkin dia bisa memenuhinya dan membantunya dan kini Karina mendekati usia kehamilan 9 bulan bagaimana kesiapan kamu untuk mengabarkan kepada kedua orang tua kita kita harus duduk bersama secara baik-baik dan damai sehingga perjanjian ini berjalan seperti yang kita harapkan." Radit bicara seakan begitu menyesal telah mengabaikan istrinya sendiri tinggal kantornya sendiri.
Baru Andhini melihat wajah suaminya yang kelihatan kini tumbuh brewok mungkin beberapa hari ini belum kerokan.
"Aku selalu terbuka sejak awal juga Mas, bukannya Aku juga betah tinggal di sini sendiri, tapi demi menghindar dari kesalahpahaman diantara kita juga pertengkaran setiap saat yang tidak bisa kita hindari," jawab Andhini dengan muka masih di tekuk, Apa semua ucapan suaminya kali ini bisa dirinya pegang?
"Kita akhiri perpisahan ini, Aku merasa tak sanggup hidup dalam kesalahan besar, Kita pulang sekarang ya?" ucap Radit sambil memeluk Andhini yang di rindukannya.
Andhini tak menolak membiarkan Mas Radit menyusuri muka dan bibirnya sampai mereka merasa lega telah melakukan sesuatu yang mencairkan perasaan diantara keduanya.
"Apa Karina tak ada keluhan apapun?" tanya Andhini saat Mas Radit melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Aku bilang kalau ada keluhan langsung telephon Aku, Nyonya, atau Mas Rahadian, Aku sudah tak bersamanya kalau malam Aku istirahat di kondominium kita, paling hanya pagi Aku melihatnya sebelum pergi dan memastikan dia tak kurang suatu apapun. Kalau malam ada Ibu paruh baya yang tidur di tempatnya sampai pagi dan bantu beres-beres sampai Karina bisa sarapan, baru makan siang di antar Rai."
"Aku telah lama tak membelikan pakaian, kita keluar sore ini yuk Mas, kasihan Karina takut pakaian hamilnya sudah pada sempit dan tidak nyaman lagi."
Radit diam, baik dan perhatiannya Andhini memang tak di ragukan lagi, pada siapapun, padahal Karina adalah seorang yang telah memicu pertengkaran dan konflik antara dirinya dan Andhini, tetapi tanggung jawab Andhini tak lepas begitu saja pada Karina termasuk hal sekecil kecilnya, Karina adalah seseorang yang akan memberinya kebahagiaan seorang Anak dari suaminya yang sangat dirinya cintai.
"Boleh Sayang, apalagi sekarang sudah masuk musim gugur sepertinya pakaian musim ini banyak tersedia dan khususnya disediakan menghadapi musim ini."
"Mas lagi santai kan?"
"Iya kenapa memang?
"Aku tunggu Erika dulu, lagi ke minimarket yang satunya soalnya akan ada Satpam yang di setujui mulai malam ini jadi Erika aja yang membimbing nya nanti."
"Belum, karena kita lambat tak seperti merekrut pegawai supermarket yang lain jadi Satpam terabaikan."
"Jadi, kamu tidur sendiri di sini tak ada yang menjaga di luar?"
"Iya, tapi Aku merasa aman karana satpam umum di komplek pertokoan ini selalu patroli beberapa jam sekali, kenapa Mas begitu khawatir?"
"Aku merasa khawatir juga, tapi semua sudah terlewati, kita keluar sekalian makan ya?" ucap Radit sambil duduk sofa, di mejanya Andhini masih membereskannya semua yang terjadi di mejanya termasuk dari supplier produk yang memberikan sampel untuk bisa dimasukkan dan dijual di supermarket miliknya.
Erika merasa heran saat Andhini pamitan mau pulang dan Mas Radit menjemputnya, juga mau cari pakaian hamil buat Karina takut yang ada sudah tidak muat lagi.
__ADS_1
Andhini begitu susah di tebak isi hatinya terkadang dia begitu keras kepala dengan prinsip yang dipegangnya apalagi kemarahan sedang menguasai dirinya, tapi kelihatan begitu lunak juga dan luluh hatinya seperti sore ini saat Mas Radit penjemputnya mungkin mereka menyatakan damai dan ada satu bahasan yang membuat mereka sama-sama menyadari bahwa itu adalah kesalahan di dalam rumah tangganya mungkin mereka menyatakan permasalahan harus diselesaikan.
Atau kerinduan dan rasa kangen diantara keduanya memangil mereka? padahal menjalani pisah ranjang baru seminggu, tak mudah pasangan suami istri berpisah setelah sekian tahun bersama-sama walaupun banyak masalah menderanya tetap mereka saling merindukan dan mungkin kalaupun di dera masalah begitu banyak saat mereka berdua selalu ada penyelesaian dan kata damai kalau bersama.
Erika hanya geleng-geleng kepala, dan terasa lucu melihatnya.
Andhini hanya senyum saja saat Erika meledeknya, dengan kata 'hati-hati lo nanti hamil!'
Radit membukakan pintu buat Andhini dan setelah memastikan Andhini duduk Radit baru menutupnya dan dirinya berputar lalu masuk di pintu samping.
Ada sorot kerinduan di mata keduanya tapi Andhini tak memperlihatkan semuanya seakan biasa saja, kalau Radit sepertinya tak bisa bohong kalau selama ini begitu memikirkan Istrinya dan bagaimana cara untuk bisa damai membawa Andhini pulang kembali.
Satu yang tak bisa Radit abaikan ada Rahadian adiknya di sini, kalau dibiarkan berlarut-larut mungkin Rahadian akan menyampaikan semua pada orangtuanya, itu kekhawatiran Radit di samping mungkin kesadarannya telah menghampirinya.
Radit meremas tangan Andhini dengan di balas tatapan Andhini yang seakan heran suaminya terlihat ganjen dan banyak tingkah seminggu jarang bertemu hanya siang sekilas saja saat Radit datang meminta pesanan dan Erika memberikan pesanan barang yang di butuhkan untuk memenuhi kebutuhan supermarket nya.
"Mau makan di mana Sayang?" tanya Radit sambil menghidupkan mobilnya.
"Aku mau belanja dulu nanti makan pulangnya, sambil bawain juga buat Karina," sahut Andhini dan Radit hanya mengangkat alisnya
******
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️
__ADS_1