
"Andhini, jadi Kamu batal mengabarkan hamil besar pada orangtua kita?" tanya Radit pada Andhini di kantor pada pagi itu.
"Kenapa Mas masih peduli padaku? bukankan bayi di dalam perutku ini juga Mas ragukan? untuk apa Aku berpura pura? Aku akan jujur pada orangtua kita karena sekarang Aku hamil yang sebenarnya, bukan hamil pura-pura dan hanya menuggu Karina lahiran, saja, tapi ada yang lebih Aku tunggu lahiran Anakku sendiri!" jawab Andhini dengan tegasnya.
"Terus soal Karina bagaimana?" tanya Radit tampak bodoh dengan memberikan pertanyaan seperti itu di hadapan Andhini.
Sekali lagi Radit merasa tak perlu meminta izin memperpanjang masa menikah siri dengan Karina, karena Radit akan tahu jawabannya seperti apa, Pasti Andhini dengan tegas akan menolaknya.
Tapi saat Karina merengek tak ingin di cerai dan malah mau mencari kerja di sini dengan alasan tak mau jauh dengan anaknya dan sewaktu-waktu kangen bisa melihat dan menengoknya semua itu membuat Radit bingung juga.
Mungkin Radit berpikir kalau antara dirinya dengan Karina telah bercerai sedangkan Karina masih berada di Australia dan bekerja di tempat orang lain, suatu saat bertemu akankah dirinya merasa tahan melihat Karina? dan mungkin itu akan menjadi perselingkuhan bagi mereka. Mungkin seperti itu tetapi ada dalam pikiran dan hati kecil Radit ada untungnya juga karena Andhini tak mengizinkan dirinya memperpanjang masa nikah sirinya itu, juga Radit harus sadar semua itu hanya nafsu saja dan memang tidak ada baiknya mengumbar hasrat yang tiada akhir dan puasnya, malah semkin banyak masalah yang ditimbulkannya walau sekarang dirinya menggauli Karina adalah sah sebagai suami istri .
"Aku masih tetap seperti perjanjian awal, tidak kurang tidak lebih, Aku konsekuen dan berpegang tetap pada perjanjian itu, Anak Karina menjadi Anakku walaupun sekarang Aku juga hamil bagiku itu adalah anugerah memiliki Anak dalam setahun 2 Anak, Aku akan amanah memberikan kasih sayang tanpa membeda-bedakan mana Anakku dan Anak Mas Radit dengan Karina," ucap Andhini dengan ketegasan pasti.
Radit diam, yang pasti Andhini tak akan memberikan izin menunda perceraiannya nanti sama Karina, jadi percuma semua itu dibahas pasti Andhini tidak akan mengizinkannya.
"Aku sudah mengabarkan pada orangtuaku sendiri, tapi kalau sama orangtua Mas Radit terserah, apa itu juga akan menunggu bayi ini lahir setelah Mas Radit mendapat kepastian setelah tes DNA nanti?" sahut Andhini dengan tatapan tajam menghujam jantung Radit.
__ADS_1
Terasa Andhini telah memberikan keyakinan, kalau itu Anaknya, tuduhan terlanjur diarahkan, terlanjur diucapkan Raditya tak bisa menariknya kembali dan Andhini pun merasa tertantang untuk meyakinkan suaminya dengan janji yang akan ditepati suatu saat bayi itu lahir, akan menjalani tes dengan kecenderungan Anak siapa sebenarnya. Andhini tidak takut karena merasa benar karena tuduhan selingkuh itu adalah mentah dan hanya mengada-ngada, dirinya tidak berselingkuh dan Andhini tidak melakukan hal di luar etika karena Andhini masih mencintai suaminya dan rumahtangga yang ingin di pertahanannya betapapun beratnya.
"Itu terserah Kamu saja Andhini, kalau itu bagi Kamu tuduhan yang berlebihan Aku minta maaf, semua orang dalam keadaan emosi akan bertindak menurut kata hatinya," ucap Radit seperti kalah sebelum bertanding.
"Minta maaflah pada Anakmu ini, bukan padaku walau sikap Mas Radit telah begitu melukai hatiku!" Andhini menunjuk perutnya, sambil menatap Radit di hadapannya.
Radit bangkit memeluk Andhini dan mengusap perutnya.
"Maafkan Aku Andhini, Aku tak bisa menjadi suami yang baik buat kamu, Aku begitu dilema kini satu sisi Anakku juga dengan Karina dan Kamu tetap yang paling Aku cintai dan paling sering Aku sakiti," ucap Radit dengan suara perlahan.
"Aku selalu memaafkan Mas Radit, setiap kali hatiku tersakiti, selalu Aku menghibur hatiku sendiri kalau semua itu adalah akibat dari keinginanku yang begitu cepat mengambil keputusan, sehingga tidak terprediksi akhirnya akan seperti ini. Selalu sabar dan ikhlas yang menjadi hiburanku, Aku menekan perasaanku sendiri saat Aku tahu Mas Radit bertengkar denganku dan pergi ke tempat Karina Aku tahu itu, walau Mas tahu tak ada malam bersama Karina, malam adalah milikku. Aku merelakan Mas menikahi Karina tapi bukan untuk tidak adil dan juga bukan untuk menyakitiku," ucap Andhini pelan.
"Andhini, semua yang Aku jalani telah merubah hati dan perasaanku, kemarin kemarin Aku meminta izin memperpanjang pernikahanku barang sebulan dengan Karina, tapi Karina memohon ingin tetap menjadi istriku nanti setelah melahirkan, dan itu pesan yang ingin di sampaikan padamu Andhini," ucap Radit masih bisa bicara seperti itu, karena Karina yang memintanya.
"Apa itu permintaan Karina atau keinginan Mas Radit?" Karina menatap suaminya dengan gigi di satukan terdengar bunyi kuat dari gigi Andhini, emosinya semakin meningkat, tanpa di duga akhirnya keluar juga kata-kata itu.
"Itu Karina yang meminta, Aku hanya menyampaikan saja, semua orang mungkin berhak berusaha dengan perasaannya, seperti Karina itulah mungkin usahanya." jawab Radit kelihatan gelisah juga, tapi semua harus di sampaikan sesuai keinginan Karina.
__ADS_1
"Jangan dulu bicara apapun, selesaikan dulu perjanjian awal, Aku juga tidak sabar menunggu Karina lahiran dan akan melihat sikap Karina dan sikap Mas Radit setelah itu! Aku telah mempersiapkan baby sitter nanti, sampaikan pada Karina jangan berharap lebih dan mengambil kesempatan dari perjanjian itu, karena Aku sendiri kalau tidak terlanjur menginginkan perjanjian itu batal karena Aku tidak tahan dan hampir gila! kalau harus bicara jujur, juga setelah tahu kalian tidak menjalankan semua sesuai perjanjian Itu, Aku masih menghargai pengorbanan awalnya," Radit diam. Semua kata-katanya terjawab begitu tepat dan memojokkan dirinya dan Karina.
Andhini semakin muak dengan semuanya.
"Andhini, sekali lagi Aku minta maaf, atas semua yang tak Aku perkirakan sejak awal," suara Radit seperti biasa begitu mudah meminta maaf.
"Mas jangan minta maaf kalau semua itu akan tetap terulang! kenapa menyentuhku? bukankan semua akan menyamarkan hasil tes DNA nanti? Apa tuduhan itu sekarang mulai di rasa tak beralasan?" suara keras Andhini membuat Radit merasa bersalah dengan pernyataannya.
"Andhini Kamu adalah istriku juga, terkadang kerinduanku tak tertahankan, tapi Kamu kelihatan sibuk dengan pekerjaan Kamu, Aku lama tidak menyentuhmu karena emosi saja, sekali lagi Aku tidak punya niat menyakitimu, Kemarin kemarin itu Aku tegaskan lagi hanya emosi saja. Aku hanya emosi saja karena bingung dan kacau, pikiranku," jawab Radit tanpa rasa salah kelihatannya.
"Aku yang seharusnya introspeksi diri, apa Aku ini masih berarti bagi Mas Radit kini? kemarin kemarin dan setelah tahu Aku hamil Mas selalu menghindar saat Aku sentuh, bahkan pergi ke mana Aku tahu. Kini Mas seolah tanpa rasa salah berusaha menyentuhku, Aku juga tak mau di sentuh kini, silahkan puas-puaskan dulu bersama Karina Aku kini bisa melewatkan bersama calon Anakku," ujar Karina dengan hati yang terluka,.
"Andhini, apapun yang terjadi Aku tak akan menceraikan Kamu, Aku tahu sangsi dari orangtuaku nanti," ucap Radit berpikir juga tentang orangtuanya.
"Kita lihat saja setelah Karina lahiran nanti!" jawab Andhini seolah ingin menutup perdebatan tak bermanfaat itu.
******
__ADS_1
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi karya Author di bawah ini, baca like dan komen membangun ya! 🙏❤️