
Rahadian datang lalu duduk di samping Erika.
Seakan melupakan kejadian tadi saat acara berlangsung, sedikit Andhini salah tingkah Erika tidak tahu yang sebenarnya tapi Andhini berusaha bersikap biasa saja.
"Rai, tolong ambilkan pakaian Kakak barang beberapa potong di kondominium masukkan koper nanti kalau kamu masih capek dan baru datang istirahat saja dulu, sementara Kakak banyak kerjaan jadi tinggal di sini dulu!" ucap Andhini menatap wajah Rai di hadapannya.
Rahadian melongo seperti tak percaya, mungkin ini konflik yang sebenarnya telah terjadi.
Sangat di sayangkan memang.
Berjuta pertanyaan Rahadian bergulung di dalam benaknya, apa sebenarnya yang terjadi dengan rumah tangga Kakaknya sementara barusan dirinya mengantar Kakak ipar satunya lagi Karina yang sedang hamil ke kondominium nya.
Kelihatan Karina tidak banyak cakap selama perjalanan Rai mengantarnya, merasa antipati dan merubah image juga pandangan kagum, suka terhadap Karina menjadi kebencian yang tidak beralasan.
Bagi Rai Karina tak lebih seorang parasit yang menyusup ke dalam rumah tangga Kakaknya, menjadikan benang kusut permasalahan di dalam rumah tangga Radit dan Andhini.
Mengacak-acak tatanan bangunan rumah tangga yang kokoh selama ini terbangun dengan pondasi cinta yang Rahadian juga tahu keduanya saling cinta.
Rai tak habis pikir dengan pola pikir Kakaknya Andhini kenapa memilih jalan seperti ini? kenapa memaksakan diri ingin memiliki anak? masih banyak cara tidak dengan menyakiti diri sendiri seperti ini, begitu banyak orang terlantar dan tak terpenuhi kebutuhan hidupnya yang memerlukan bimbingan dan kasih sayang dengan pola asuh yang benar semuanya akan menyayangi bahkan bisa melebihi sebagai anak sendiri.
__ADS_1
Cara berpikir praktis Rahadian memang begitu ingin disampaikan pada Andhini, tetapi apa daya rumah tangga Kakaknya sudah berantakan seperti ini seperti tidak ada kerelaan di hati Rai. Andhini yang notabene orang yang dirinya suka tetapi terhalang hubungan suami istri bersama Kakaknya sendiri tadinya Rai begitu bahagia melihat Andhini bahagia, tetapi kini Rai seakan berontak pada keadaan saat melihat Andhini di kecewakan Kakaknya sendiri .
"Kak Andhini yakin mau tinggal di sini? kenapa? apa itu kesepakatan antara Kak Radit sama Kak Andhini sendiri?" Rahadian bertanya dengan mimik serius dan menatap muka Andhini dan Erika yang duduk diam juga di situ.
"Aku lagi nggak mau bertemu Kakakmu lagi! minimal sampai Karina lahiran, malah Aku tidak banyak berharap lagi semua kembali normal walaupun semua telah berakhir. Aku tidak yakin Mas Radit sama Karina akan menepati janjinya sesuai perjanjian mereka akan bisa cerai setelah Karina melahirkan, dan menyerahkan bayinya dalam pengasuhan melihat gelagat seperti ini Aku menjadi pesimis dan itu sesuatu yang tidak Ku perkirakan sebelumnya." Andhini seakan membuka tabir yang selama ini dirinya simpan dengan rapi, tapi sedikit banyak Rai telah tahu permasalahan yang terjadi dari Mas Radit boleh kemungkinan tidak sejelas apa yang Kakak iparnya beberkan di hadapannya.
"Kak Andhini! apa ini emang yang terbaik? kenapa Kak Andhini tidak optimis semua akan baik-baik saja kalau Karina sudah lahiran? bukankah dalam hal ini Kak Andhini yang punya peranan? Aku orang pertama yang merasa tidak bahagia melihat ketidak kebahagiaan Kak Andhini bersama Kak Radit, yang jelas Aku sebagai salah satu keluarga merasa ter-khianati," jawab Rai merasa ikut merasakan apa yang Andhini rasakan saat ini.
Entah harus bahagia ataupun sedih yang pasti Rai merasa jauh di dalam lubuk hatinya masih tersimpan perasaan suka pada Kakak iparnya sendiri walaupun itu di luar kelaziman.
"Itu pilihanku Rai, sepetinya Aku tak akan sanggup tiap hari di hadapkan dengan pertentangan dan beda pendapat karena Mas Radit kukuh dengan pendiriannya ingin memberikan waktu lebih dan perhatian lebih kepada Karina bahkan saat Aku sodorkan opsi memilih, Aku apa dia Mas Radit memilih Karina. Sedang Aku juga sama seorang istri yang butuh segalanya merasa tak terima dengan perlakuan dan sikap Mas Radit yang seperti itu," ucap Andhini merasa tidak membela diri, tetapi Andini rasa dirinya menempatkan sesuatu itu pada tempatnya, ingin semuanya bisa menjalani perjanjian dengan perasaan nyaman tanpa kecurangan.
"Ya, begitulah kalaupun pilihannya semua harus berakhir Aku ikhlas dengan semuanya. Semua ide gagasan sampai terjadinya perjanjian ini memang datangnya dari Aku Rai, tapi semua demi cinta dan rumahtangga yang ingin lebih baik tapi kenyataannya semua malah berantakan." Ucapan Andhini seperti pisau tajam yang merobek kesetiaannya sendiri.
"Apa langkah Kak Andhini selanjutnya masa hanya menunggu saja? tidak ada action atau apapun untuk membuat mereka kapok dan jera sehingga kembali kepada perjanjian awal?" tanya Rai begitu kesal pada Kakaknya sendiri.
"Kalau kamu punya ide Aku mungkin masih bisa menerima dan pertimbangkan, tetapi Aku sekarang malas berpikir yang akhirnya pada ujung-ujungnya balik lagi kepada kehamilan Karina sebagai alasan, Aku tak berdaya, Karina yang perlu perhatian lebih itu kemauan Mas Radit atau mungkin perasaan mereka berkembang menjadi mungkin cinta yang sebenarnya itu yang tidak Aku juga perkirakan." tukas Andhini sungguh semua terjadi di luar perkiraannya.
"Bagaimana kalau mereka ancam semua Aku bocorkan pada orangtua kita di Indonesia?" Rai memberikan pandangan yang Andhini sendiri tak terpikirkan.
__ADS_1
"Oh, Aku tak mau Rai, Aku merasa belum siap kabar ini sampai kepada kedua orang tuaku, Aku masih bisa berharap semua baik kembali dan masih ada waktu seandainya Mas Radit mau memperbaiki diri. Sebenarnya Aku juga bisa bermain lebih gila dengan siapa saja kalau Aku mau!" ucap Andhini sambil memandang muka Rai yang lagi serius bicara.
Deg! hati Rai merasa deg-degan, mungkin kali ini saat yang tepat dirinya datang dan masuk di konflik rumah tangga Kakaknya sendiri walaupun rasa itu telah lama terpendam tetapi tetap ada menyisakan harap yang mengambang tak bertepi.
"Sudahlah Rai, besok Antar Kakak ke rumahsakit teman Kakak di selatan Melbourne, Kakak ingin menuntaskan terapi mungkin hanya untuk kesehatan dan kebugaran saja." Andhini menawarkan Rai untuk mengantarkan dirinya menyelesaikan semua terapi dengan dr Fadli.
"Baik Kak, semoga jalan ini bisa membuat Kak Andhini merasa tenang." ucap Rai merasa senang merasa di butuhkan dan diajak Andhini jalan besok.
"Rai, kamu sekarang akan jadi orang yang paling Kakak butuhkan, dan yang akan paling banyak di minta bantuan setelah Erika, sudahlah Kamu tinggal saja di sini liburannya jadi kerja sama Kakak ya!" Ucapan Andhini terakhir membuat Rai mengangguk mantap
Deg! kedua kalinya Rai merasa Andhini mengerti perasaannya.
Tapi Andhini kelihatan tenang saja saat bicara begitu.
******
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️
__ADS_1