Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Pertama kali di Melbourne


__ADS_3

Erika memeluk Andhini dan menyalami Radit, Andhini mengantar Erika sampai pintu lalu meninggalkan Andhini sama Raditya berdua di kamar Hotel itu.


Awalnya Radit sama Dhini saling pandang dalam suasana hati hanya dirinya yang merasakan, terasa sepi rasa hati Andhini begitu jauh perasaannya melayang pada tanah air dan kampung halamannya yang selama ini dirinya tinggali dengan kesibukan dan aktivitas sehari-harinya.


"Mas, kok kita jadi begini? aku jadi sedih deh," ucap Andhini sambil mengusap linangan airmatanya, dan menghambur ke pelukan suaminya.


"Ssst ... sedih kenapa? kan ada aku jangan terlalu bawa perasaan, kita lalui setiap waktu di sini dengan kebahagiaan, bukankah semua ini keinginan kamu sayang?" ucap Radit perlahan sambil mengusap kepala istrinya, membawanya duduk di sisi tempat tidur


"Tapi aku merasa bersalah banget sama Ibu juga Bapak, saat aku bersikeras tak ingin diantar karena aku tak akan tega melihat wajah-wajah sedih mereka, aku ingin mereka menjemput kita suatu saat kita datang dengan kebahagiaan. Pertama kali aku pergi sekali pergi begitu jauh Mas, jadi perasaannya seperti apa berpisah dengan orangtua," isak Andhini.


"Sudahlah sayang, jangan mengumbar kesedihan, semua aku ikuti keinginan kamu tak mau diantar kedua orang tua kita dengan alasan kesedihan, kita mulai semua di sini dengan awal yang sangat bahagia, bahagiakan lah hatimu karena hatiku juga akan bahagia," ujar Raditya memeluk Andhini dengan perasaan kasih yang terdalam.


Andhini mengangguk penuh pengharapan, semoga akan ada satu keajaiban yang akan mereka raih di sini entah seperti apa. Yang pasti kebahagiaan akan dirinya dan suaminya jemput kebahagiaan seperti apapun.


Andhini merasa dirinya tak boleh cengeng harus siap menghadapi situasi dan kondisi apapun hanya ada Radit suaminya dan Erika teman dekatnya, hanya itu saudara yang Andhini miliki di sini.


"Setiap waktu aku ingin memberimu kebahagiaan sayang, kalau kamu sedih aku yang pertama merasa bersalah, kita raih bersama kebahagiaan itu di manapun kita berada, aku ingin selalu melihat senyum di bibirmu karena itu adalah semangat buat hidupku."


"Mas, tapi seandainya aku masih belum bisa memberikan Mas anak, biarkan aku bahagia dengan memiliki Mas selamanya," tutur Andhini dengan isi hati sulit Radit tebak.

__ADS_1


"Kenapa kamu selalu bicara begitu sayang, hidup aku adalah milikmu, aku tidak akan mempermasalahkan yang bukan kesalahan kamu, please jangan bicara lagi seperti itu. Keberadaan kita di sini adalah untuk satu ikhtiar, tapi seandainya kita sudah maksimalkan usaha kita, sudah berdoa sesuai kemampuan kita dan segala macam yang wajib kita usahakan tetapi hasilnya masih belum kelihatan, justru di situ ujian baru dimulai, jangan berlebihan kamu tahu aku begitu mencintai kamu, kita mulai usaha kita di tempat baru ini gimana?"


Raditya mencium kening Andhini, perlahan turun agak ke bawah mencium hidung mancung Andhini dan akhirnya berhenti di bibir mungil itu.


Tak ada hiburan lain selain pernyataan cinta kasih mereka yang selalu mereka nyatakan dan perlihatkan satu sama lain.


Itulah pelipur hati kala sedih, dan obat gundah kala suasana hati tak nyaman dan perasaan sedang galau.


Kebahagiaan suami istri memang seperti itu, selalu di rayakan dengan perayaan kasih sayang menuju puncak, itulah kebahagiaan yang nyata dan di nyatakan dengan kasih sayang saling memberi dan menerima.


Tak ada kata capek setelah menempuh perjalanan delapan jam kurang lebih tanpa transit, Andhini sama Raditya menyambut sore di Melbourne di musim semi, semilir angin dingin menambah begitu serasi dan romantisnya cinta kasih mereka, seperti menemukan kembali gairah yang selama ini kendor. Radit begitu bersemangat menjadi idola yang di puja istrinya memperlihatkan kemesraannya.


Seperti bulan madu yang telah lama mereka nikmati di awal pernikahan mereka. Raditya akan begitu total memberikan perhatian dan kasih sayang pada istrinya mulai kini.


"Mas, Alhamdulilah cuacanya lagi enak banget, musim semi di awal Januari begini terasa tiupan angin begitu dingin menyentuh kulit saat kita tadi di luar Hotel."


"Jangan khawatir sayang, apapun musim yang kita lalui di sini, tapi di tempat tidur kita akan selalu ada kehangatan," ujar Radit mulai membuka satu persatu kemeja istrinya dengan nakalnya mulai menjelajah area istimewa istrinya.


Andhini tersenyum sambil mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya, siap menerima sentuhan selanjutnya.

__ADS_1


Berdua memacu kebahagiaan dengan di selingi cumbu, cium belai sayang juga ucapan cinta yang tak ada habisnya, perayaan cinta pertama kali di lalui Andhini dan Radit di kota metropolitan Melbourne Australia, terasa menyenangkan buat keduanya.


Terasa menjalani bulan madu saja padahal mereka ingin merealisasikan keinginan setelah beribu kali bulan madu mereka lalui, Radit begitu mendukung keinginan istrinya melakukan program kehamilan dan checkup kesehatan di rumah sakit R Hospital yang kata Erika begitu terkenal dan dekat dari tempat Kondominium nya nanti.


Mengingat semua itu tumbuh kembali harapan Raditya dan Andhini setelah sekian lama mereka menjalani program kehamilan di negara nya sendiri, tetapi mereka tidak membuahkan hasil sampai pada akhirnya Andhini bosan sendiri bolak-balik ke rumah sakit menjalani program bayi ini itu disuntik berkali-kali dengan satu harapan yang dinantinya akan segera datang tetapi bukan putus asa yang dijalani Andhini hingga pergi dan datang di negara Australia ini tetapi hanya keinginan untuk lebih memaksimalkan lagi usaha mereka, seandainya menjalani terapi dan program kehamilan di negeri ini apa salahnya semua fasilitas ada dimiliki dan suaminya pun begitu mendukungnya.


"Semangat sekali sayang," ucap Andhini sambil mencium sebelah lengan kekar suaminya,


"Iya dong suasana baru dengan semangat baru, aku jadi kangen terus sama kamu sayang." Radit berhenti memacu dirinya menenggelamkan muka dan kepalanya di dada istrinya mencari kehangatan dengan nafas begitu tak teratur.


"Ih Mas Radit jadi kolokan gitu." Andhini merasa geli suaminya begitu senang berlama-lama di tempat itu.


"Kamu tahu aku nggak bisa hidup tanpa kamu, walau kedengarannya gombal dan tak masuk akal, aku merasa nikmat dan nyaman berada di dekat kamu," sahut Radit begitu halus memainkan belahan dada istrinya, menciumnya, melu**tnya, dan tak bosan meremasnya perlahan hingga terdengar lenguhan dan rintihan istrinya yang semakin menggugah gairahnya.


Mereka menuntaskan permainan pembuka di tempat baru mereka, menikmati setiap sentuhan yang keduanya lakukan, ******* Andhini dan erangan panjang Radit melepaskan kenikmatan puncak mereka.


Berakhir dengan pelukan dan usapan keringat di kening Andhini, Radit menciumnya sekali lagi sambil berbisik sayang.


"Kamu tak akan terganti sayang."

__ADS_1


Andhini mengangguk sambil tersenyum kembali memeluk suaminya dalam kenyamanan.


__ADS_2