Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Andhini maafkan Aku


__ADS_3

"Andhini maafkan Aku, semua karena Aku mencintai Kamu. Aku menjadi seperti ini juga karena Kamu sejak awal yang menginginkan Aku menikah siri demi Anak yang kita dambakan, sekarang semuanya telah terlanjur jangan di sesali semuanya kalaupun kamu sekarang hamil, Aku merasa bahagia juga merasa wajar sebagai seorang suami meragukan kamu karena sikap dokter itu terlalu berlebihan terhadap kamu juga penerimaan dirimu dirasa berlebihan juga!" ucap Radit begitu perlahan bicara lain dari biasanya bicara sebelumnya. Memandang wajah Andhini menanti jawaban dan reaksi dari bicaranya.


"Mas boleh banget berprasangka tetapi Aku yakinkan hanya seorang Ibu yang tahu siapa bapak biologisnya, Aku bukan wanita murahan! atau seorang istri yang berkhianat atau juga berselingkuh tetapi Aku tidak bisa meyakinkan Mas dengan kata-kata! oke deal kita tes secara DNA saat bayi ini lahir dengan syarat Aku meminta tetap dalam pemantauan rumah sakit itu. tidak ada kata penawaran dan pertentangan lagi diantara kita hanya ada kesepakatan diantara kita berdua untuk menghapuskan keraguan Mas, walau itu Di rasa begitu menyakitkan dan berlebihan, Aku mengalah untuk meyakinkan keraguan Mas dan untuk membuktikan tuduhan itu mentah dan salah! Aku siap melakukan DNA terhadap anak kita ini nanti!" ucap Andhini sambil menyeka airmatanya.


Keputusan yang berat diambil Andhini saat dirinya tahu mulai hamil diawal awal kehamilannya malahan.


Tak mengapa bagi Andhini Dirinya tahu siapa Mas Radit dan cinta mereka, juga hubungan baik kedua keluarga nggak bisa dipandang enteng. Keluarga Suryadilaga dan keluarga Subrata adalah harga mati keharmonisan anak menantu mereka luar itu adalah sesuatu yang tak bisa di maafkan.


Deg! Radit merasa terpojok dengan pernyataannya dan di sambut Andhini dengan kata kata di luar dugaannya. Sesuatu yang ingin dirinya katakan Andhini telah mengutarakan lebih dulu.


"Andhini, maafkan Aku, mungkin Aku keterlaluan, tapi kamu harus tahu Aku bersikap seperti itu karena rasa cinta yang berlebihan, Aku juga jadi bersikap berlebihan terhadapmu Aku setujui itu tetapi sekali lagi maafkanlah," ucap Radit dengan nada suara tersekat. Ada rasa sakit juga dalam dadanya tapi semua harus clear harus selesai dan menemukan jalan keluar yang mereka sama-sama setuju.


"Aku sudah memaafkan Mas Radit, sejak awal dan apapun yang Mas Radit lakukan selama ini padaku terhadapku, juga tuduhan-tuduhan yang menyakiti itu. Aku terima dengan ikhlas karena Aku tidak bisa memutar waktu mundur walaupun menyesal dengan semua keputusan yang telah Aku ambil sehingga kita terjerumus pada permasalahan sulit seperti ini. Aku hanya ingin tenang dan tafakur diri dengan kehamilan ini mungkin harusnya seperti itu dan semoga ada hikmah dari semua yang kita hadapi sekarang ini," ucap Andhini sambil menyeka airmatanya kembali.


"Andhini, sekali lagi maafkan suamimu ini mungkin telah banyak perlakuan yang menyakiti hatimu Aku hanya ingin memperbaiki diri untuk kedepannya, Apalagi kamu sekarang hamil hanya satu yang Aku minta ampuni semua kesalahan juga atas keraguanku." Radit mengusap Airmata Andhini dan memegang tangannya


"Tak apa Mas, kita pegang janji itu karena Aku juga ingin membuktikan kalau tuduhan itu salah, Aku tidak seperti itu walaupun saat pisah ranjang begitu banyak kesempatan dan Aku juga dalam keadaan marah, kecewa dan gelisah tapi sekali lagi Aku katakan Aku tidak seperti itu! mungkin bagi Mas perlu pembuktian tapi Aku meyakini diriku sendiri dan Anak ini Anak kita," ucapan Andhini begitu menyakiti dirinya, Radit sadar itu tapi ucapan keraguan pada kehamilan istrinya telah terlanjur terucap, apa mau di kata semua sudah terjadi.


"Sudahlah Sayang, itu bagian dari proses sebuah perjalanan dan cerita yang harus kita lalui." Andhini berusaha tersenyum saat Radit mengusap airmatanya. Terlihat kini senyum di wajah Andhini begitu di paksakan.

__ADS_1


"Aku ingin Mas tidak menyesal nanti kalau saat pembuktian, semua berpihak padaku satu pintaku iringi perkembangan tumbuh kembang kehamilanku karena seumur hidup mungkin kita tidak akan mengalaminya lagi." Pinta Andhini sebagai bentuk tanggungjawab pada suaminya walau meragukan dirinya dan kehamilannya itu.


"Baiklah Sayang, kalau kamu merasa nyaman di rumahsakit itu Aku akan mengantar setiap kamu kontrol dan memantau terus perkembangan anak kita, mungkin saat yang kita tunggu kini waktunya."


Andhini mengangguk saat Radit memeluknya, tak ada kenyamanan selain dalam pelukan dan kungkungan orang yang dicintai betapapun di tengah badai permasalahan yang tetap mengiringi perjalanan mereka.


Rasa sakit dengan tuduhan sampai Andhini ingin membuktikan dengan test gen yang di miliki buah hati mereka yang masih di dalam perutnya, Andhini mau tidak mau harus menekan perasaannya sendiri untuk meredakan pertentangan di antara dirinya dan suaminya. Memaafkan dan mengikuti apa yang terbaik itu pilihan Andhini karena dirinya layak mendapat ketenangan walaupun dalam hatinya tetap ada ganjalan yang begitu mengganggu.


Itu pilihan dan itu yang terbaik di jalani Andhini saat ini.


"Apa akan mengabarkan sekarang pada orangtua kita tentang kehamilanmu ini Sayang?" sela Radit sambil mengusap lengan Andhini.


"Baiklah, kalau itu pilihanmu."


Radit memeluk Andhini yang dirasa kini lain di hatinya, mungkin karena keraguan itu, tapi Andhini seolah tiada beban karena mungkin dirinya merasa bukan seperti apa yang di ragukan dan di tuduhkan suaminya.


Sekian lama mereka tak bertemu menjalani kesibukan dan saat Andhini menyatakan pisah ranjang nyaris Andhini tidak bersentuhan, begitu juga Radit sama saja sejak Karina ada yang menemani hampir Radit juga tidak menyentuhnya.


Diantara mereka saling sangka, Andhini mengira Radit selalu bersama Karina, sedang Radit juga mengira Andhini selalu bersama dokter itu, karena Radit tahu nggak mungkin Andhini tidur sendirian di kantornya pasti tak akan berani. Mungkin Andhini tidur di hotel atau di tempat lain mencari teman.

__ADS_1


Dan saat pisah ranjang mungkin dirasa orang akan biasa saja karena ada istri lain yang menanti, tapi Radit seakan merasa bersalah dan malah mencari orang yang menemani Karina tak pernah mendatangi Karina kalau malam hari.


Hasrat laki-lakinya memang begitu memanggil Radit, tapi semua seakan bertentangan dengan keraguan yang dirinya ciptakan sendiri.


Andhini membiarkan, seakan dirinya juga biasa saja, merasa sebal dengan keegoisan suaminya dan tuduhan yang di tujukan pada dirinya yang tidak mendasar itu.


Saat mau menyentuh Andhini terlihat ada keraguan di perilaku Radit itu bisa dipahami Andhini. Tak mengapa sampai pada akhirnya suaminya sendiri yang memulai menginginkannya.


Radit pura-pura apa saja, mau mandi atau mau minum, atau merasa gerah juga alasan lainnya saat Andhini menyentuhnya.


'Biar dia jual mahal! seberapa mampu menghindar?'


Andhini membiarkan Radit berkelakuan begitu seakan tak butuh dirinya, Andhini juga sangat menjaga kehamilannya.


******


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi karya Author di bawah ini, baca like dan komen membangun ya! 🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2