
Mall metropolitan Melbourne Australia terbesar di depan menjulang tinggi. Andhini dan Erika keduanya sama-sama suka mengeksplor dalam berbelanja apapun keinginan mereka sejak mereka duduk di bangku sekolah. Selalu bersama sudah jadi teman dekat dan akrab.
Erika tahu Andhini senang sekali menghabiskan duit untuk kesenangannya yang satu ini terkadang tidak tanggung-tanggung semua yang di beli dan dipilih Erika semua di bayarnya, walaupun Erika tidak berharap untuk ditraktir apalagi sekarang ada hubungan kerja antara dirinya dengan Andhini tetapi kesenangan mereka sama saja. Tapi Andhini semakin menganggap Erika lebih dari sekedar teman lagi, Erika tahu semua urusan rumahtangganya.
"Lo mau beli sesuatu dulu atau hanya sekedar melihat-lihat, atau barangkali sudah lapar kita makan aja dulu?" senggol Erika di lengan Andhini saat mereka masuki pintu utama pusat perbelanjaan itu
"Apa ya? lo sendiri sudah lapar belum Kalau menurut gue mestinya kita lihat-lihat dulu belanja baru setelah selesai kita sambil istirahat sebelum pulang kita makan dulu," sahut Andhini kelihatan agak bingung.
"Oke, kita naik ke lantai atas dan kita akan di manjakan dengan fashion yang mungkin paling di suka semua cewek," tukas Erika sambil menggandeng Andhini.
"Gue mau cari baju buat Karina juga, persiapan kalau dia hamil, mungkin lucu-lucu kali ya pakaian ibu hamil." ucap Andhini spontan begitu saja membuat Erika meliriknya seketika.
Erika sesaat tertegun apa yang diucapkan Andhini terasa kedengaran begitu tulus begitu ikhlas, Andhini mengatakan semua itu semua bukti perhatian yang ditujukan kepada Karina adalah berupa suatu kekuatan yang luar biasa seorang istri pada madunya.
"Nanti lo bisa pilih sendiri."
__ADS_1
Sampai di dalam hati Erika berkata, 'Gue harus dukung semua tujuan Andhini, jangan melemahkan dan mengecilkan harapannya, Andhini telah melakukan pengorbanan yang begitu besar terutama pada dirinya sendiri perasaan dan hatinya.'
"Mas Raditya di belikan juga kan?" tanya Erika.
"Ya iya lah, apalagi dia nggak terlalu banyak bawa baju buat persiapan di musim semi nanti," jawab Andhini seperti biasa saja.
Andhini memiliki segalanya semua yang diinginkan dan diidamkan semua orang, harta dan aset yang berlimpah walaupun tidak bekerja dirinya sama suaminya tidak masalah. Bekerja dan mengelola perusahaan itu hanya sebatas formalitas saja untuk kegiatan sehari-hari yang pada kenyataannya semua sudah tercukupi melebihi dari yang di perkirakan.
Kerajaan bisnis supermarket di seluruh Indonesia Surya Group walau masih atas nama bapaknya Suryadilaga, tetapi Andhini adalah pewaris satu-satunya yang sudah dilibatkan dan di perkenalkan sejak masih zaman sekolah dalam urusan bisnis.
Tapi kini sang pewaris Andhini malah ingin hengkang tinggal di Australia dengan belajar dari bawah tidak di bawah bayang-bayang Surya Group.
Awalnya begitu di tentang semua keluarganya tetapi keinginan kuat mereka akhirnya terlaksana juga dan terbukti belum setahun sudah dua minimarket yang akan dibuka di kota metropolitan Melbourne Australia, yang sebagian besar memasarkan produk dari Indonesia juga produk lokal.
Jiwa usaha Andini seperti sudah mendarah daging sudah menjiwai jiwa orang tuanya yang berbisnis sejak dari zamannya, sekarang Andini juga begitu dominan menguasai manajemen perusahaan orang tuanya walau dari jauh.
__ADS_1
"Dhini, gue merasa lo itu terlalu baik jadi orang, pada orang tua lo, pada suami lo juga pada gue dan madu lo itu si Karina, terkadang gue tak habis pikir dengan semua yang lo korbankan termasuk perasaan lo sendiri demi satu kebahagiaan dan pertahankan rumah tangga." Erika melirik sahabatnya setelah capek belanja dan memilih lalu duduk dan pesan makanan.
"Apa lo bisa melihat kesungguhan gue sekarang? kemana aja lo dari kemarin kemarin?" sahut Andhini sambil senyum.
"Bukan cuma itu Dhini, kok hati lo baik banget begitu mulia, terbuat dari apa hati lo?" tanya Erika setengah serius.
"Rika, ada saatnya kita harus berkorban demi cinta dengan mengorbankan cinta itu sendiri, saat cinta tidak memenuhi harapan yang bisa gue berikan walau cinta sejati tak menuntut pengorbanan tapi kita harus merasa ada yang harus kita relakan untuk cinta. Kenapa tidak kita memberikan kesempatan kepada orang lain untuk masuk di kehidupan kita menyempurnakan rumah tangga ini?"
"Gue tak sanggup melawan kata-kata lo dan semua itu telah lo membuktikan sendiri keikhlasan hati lo begitu luar biasa. Gue salut dan semakin bangga menjadi sahabat lo."
"Gue nggak perlu pujian, gue hanya butuh dukungan. Sebenarnya hati ini juga rapuh Rika, tapi gue berusaha tampil tegar."
"Oke Dhini, cuma tadinya gue pikir apa memang semestinya begitu kebahagiaan cinta harus ditebus dengan pengorbanan dengan mengorbankan diri sendiri?"
"Gue tidak mengatakan seperti itu tetapi ada saatnya pengakuan itu diakui dari dalam hati nurani kita sendiri."
__ADS_1