
"Kak, Ada orang Indonesia nggak mahasisawa cantik yang magang kerja di supermarket Kakak?" tanya Rahadian sambil bersandar memandang Radit Kakaknya.
"Widih bener nih mau cari jodoh di sini?" ledek Radit pada Adiknya. Merasa heran juga kenapa Si Rahadi kok jadi seperti ini, kayak putus asa dengan perjuangan mencari cinta sejatinya.
"Kalau ada kenapa enggak?" jawab Rahadi membuat Radit meliriknya melihat keseriusan Adiknya.
"Tanya Kak Andhini nanti biar sekalian direkomendasikan dalam penerimaan tenaga kerja nanti harus yang belum punya pacar hahahaha…" seloroh Radit berniat menggoda saja.
"Boleh juga!" sahut Rahadi sambil tertawa juga menerima ledekan Kakaknya.
Radit meraih ponselnya sambil memberi kode pada adiknya dan menyuruhnya meminum apa yang dia suguhkan tadi.
Rahadian mengangguk sambil memberi kesempatan kepada Kakaknya untuk menelepon.
"Halo, Sayang. Rahadi sudah di sini sama Aku kalau sudah beres pulang cepat ya, sudah terkejutnya kan tadi?" ucap Radit begitu mesra masih saja memanggil Andhini dengan panggilan Sayang.
Ada rasa iri di hati Rahadian mendengar dan melihat kemesraan yang diperlihatkan Kakak sama Kakak iparnya begitu ingin dirinya mengikuti jejaknya mencintai dan dicintai menjalani rumah tangga dengan pondasi saling cinta.
"Oh, ya syukurlah gimana sudah dapat kamar hotelnya?" jawab Andhini di ujung telepon.
"Sudah, tadi langsung cari, nih orangnya sudah nongol di sini." ucap Radit sambil senyum melirik Adiknya yang lagi mengaduk minuman.
"Udah pada makan belum?"
"Belum, nanti saja kita pesan dari sini," tukas Radit. Radit hanya ingin Andhini cepat pulang hanya ingin tahu strategi apa yang telah dijalankan Andhini yang terpenting ingin segera memberitahu Karina dan sementara merahasiakan semuanya dihadapan Adiknya Rahadian.
"Oke, ya udah sekarang Aku pulang." Andhini memutus sambungan telepon membereskan semua barang-barangnya di masukin ke dalam tas dan lanjut memberi perintah sama Erika yang sebentar lagi juga pulang.
"Rika, baiknya seperti itu untuk sementara waktu ya? jangan buka soal Karina di hadapan Rahadi juga jangan ada pembicaraan tentang Karina di hadapan Rahadi."
"Iya Dhini, memang serapat rapatnya kita simpan rahasia pasti ada aja kebocoran dan hal tak terduga, pokoknya sekarang pulanglah jangan lupa lo pura-pura terkejut bertemu adik ipar lo walau lo sudah tahu duluan." ucap Erika sambil memegang bahu sahabatnya.
"Hadeuuuh … iya ya Rika, ada aja sesuatu yang merusak konsentrasi kita. Gue pulang duluan ya."
"Oke Sayang, hati-hati ya. Tenang saja semua akan baik-baik saja selama Karina masih bisa kita ajak kerjasama, karena di situlah kuncinya dia memegang janji memegang kesepakatan mau menjalaninya menuntaskan perjanjian itu sudah cukup bagi kita Dhini" Erika berusaha menenangkan dan membesarkan hati Andhini.
Andhini mengangguk, kelihatan raut mukanya lelah dan tertekan, bagaimana tidak lelah capek bekerja, juga memikirkan masalah yang sedang di genggamnya, berbagi suami dan mengikhlaskan kebersamaannya terbagi sesuatu yang sangat luar biasa Andhini jalani.
__ADS_1
Berkorban materi mungkin bukan hal yang menjadi bebannya, tapi mengorbankan perasaannya sendiri demi memiliki Anak itulah yang tak bisa semua perempuan lakukan.
Hanya untuk satu tujuan keutuhan rumahtangganya, Menurut Erika Andhini mengambil risiko terberat dalam rumah tangganya.
Berulangkali Erika ingatkan sebelum keputusan diambil dan sebelum semuanya terlanjur dijalani dan selalu diberi masukan resiko yang akan diterima sampai pada kehilangan Mas Radit sendiri karena kemungkinan akan berbalik arah mencintai istri sirinya.
Tapi Andhini dengan keyakinannya yang kuat dengan kesiapan mentalnya yang menurut Erika sangat menyiksa dirinya sendiri sampai saat ini Andhini sanggup menjalani semuanya. Secercah harapan baru menyeruak karena Karina sekarang sudah hamil dan sebentar lagi akan menyerahkan bayinya untuk diasuh sama dirinya dan Mas Radit. Karina akan mengakhiri perjanjian dengan menyerahkan bayi yang dikandungnya dan pulang membawa kompensasi dan juga bonus yang dijanjikan berakhir pula nikah siri selama 6 bulan disambung dengan kehamilan sampai melahirkan.
Limpahan harta kekayaan materi dan gelimang harta benda tak membuat Andhini bahagia. Satu yang diinginkan menimbang anak kalau tidak dari rahimnya harus ada dari garis keturunan suaminya, tak ada jalan lain selain merelakan suaminya Radit menikahi Karina secara siri.
Andhini keluar supermarket yang belum buka itu menyetop taksi dan masuk sambil menyebutkan satu alamat kondominium nya.
******
"Ada angin apa rupanya yang membawa Adiknya ke sini Mas?" canda Andhini sambil menyalami Rahadian yang tersenyum masih saja mengagumi kakak iparnya sampai saat ini. Cantiknya, pintarnya, juga ramah dan baik hatinya.
"Angin Arjuna mencari cinta kelihatannya Sayang, tapi entahlah kelihatan dia mau mengajukan lamaran di supermarket yang mau di buka itu." seloroh Radit selalu tetap saja saling ledek saat ketemu di manapun.
"Ah, masa masih mau melamar? bukankah saatnya ada seseorang yang dilamar?" jawab Andhini menjawab
Ih, semua pada sentimen, ya sudah besok Aku angkat koper pokoknya." Rahadian pura-pura merajuk membuat Radit sama Andhini tertawa.
"Begitu dong beri Aku kesempatan untuk bisa mengeksplor kemampuan dan menebar pesona seorang Rahadian."
"Satu syarat jangan jadikan kesempatan dalam kesempitan, sudah deal bantu Aku besok ya!"
"Siap Kak Andhini paling baik dan paling cantik."
" Satu lagi kalau ada maunya jangan suka merayu, karena Aku sudah punya yang paling ganteng yang satu ini, Ya sudah kita rayakan makan bersama pertemuan kita ini, mau di mana?" Andhini terkekeh sendiri di sambut Radit yang meraih pinggangnya.
"Diluar lah, cari yang paling enak dan paling nyaman tempatnya," jawab Rahadi sambil mengusap kepala Andhini.
"Oke, habis maghrib kita makan malam di restoran yang dekat saja tapi tak kalah rasa dan tempatnya." Andhini menimpali
Andhini masuk kamar disusul Radit meninggalkan Rahadian yang duduk sambil minum dan menyetel TV.
"Mas, gimana ini?"
__ADS_1
"Tenang saja Sayang, semua akan baik-baik saja, Kamu sudah bicara sama Karina?" tanya Radit sambil memeluk Andhini yang kelihatan tak tenang.
"Sudah, pokoknya sampai waktu tak ditentukan Karina kita sembunyikan tidak bekerja, tidak ada pembicaraan tentang Karina diantara kita, walaupun bertemu tak sengaja seandainya ada Rahadian kita akan menganggap seakan tidak kenal." jawaban Andhini meyakinkan suaminya.
"Bagus, semua otomatis akan saling mengerti, syukur juga kalau Karina bisa lebih mengerti."
"Mas, tapi kita akan mengurangi menengok Karina, gimana?"
"Dia akan mengerti, kita masih bisa meneleponnya kapanpun kita mau hanya sekedar bertanya keadaannya, nanti kamu bisa sempatkan tengok siang gantian sama Aku."
"Ya sudah."
Sebenarnya ada baiknya bagi Andhini, Radit bisa mengurangi frekuensi pertemuannya dengan Karina. Walau tak akan lepas sepenuhnya tapi harus dimulai, biar Karina bisa bersantai.
Mungkin malah Mas Radit ingin menikmati saat saat kehamilan istrinya dan memanjakannya, tak bisa dipungkiri seorang istri akan sangat manja dan dimanja itu yang di rasa Andhini begitu mengganggu di masa-masa kehamilan Karina.
Hanya sementara waktu! Itu yang membuat Andini tenang dan tegar kembali karena dirinya belum pernah merasakan bagaimana rasanya jadi seorang Ibu hamil.
Selain dirinya Mas Radit sebagai suami harus tetap menjenguk dan menemani Karina memastikan kalau Karina baik-baik saja.
"Sayang apapun yang terjadi Kita harus tetap jalani terapi dan kontrol ke rumah sakit jangan disibukkan dengan kegiatan yang lain dan pekerjaan, kapan jadwalnya?" Radit mengecup bibir Andhini dengan sayang.
"Nanti Aku lihat lagi, tapi Mas jangan nempel Aku terus dong, nanti keterusan malu sama yang di luar adik Mas tuh di cariin pasangan sana kasihan."
"Aku lupa Sayang, hehehe … biasanya, "Lakukan kapanpun Mas mau di manapun dan kapanpun'
"Iya kalau nggak ada orang di sini, kan ada adiknya Mas gimana ini? sebentar lagi malam Sayang sabar, Aku juga kangen banget."
"Tuh kan Kamu yang memulai?"
Radit tertawa menarik tangan istrinya perlahan dan memepetnya ke tepi tempat tidur. Saling berpandangan dalam posisi duduk.
Andhini memeluk suaminya seakan ingin melepaskan beban yabg begitu berat di dadanya begitu banyak hal tak terungkap dalam hatinya menyisakan ganjalan yang selalu mengganggu pikirannya setiap saat.
******
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi karya di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️
__ADS_1