
"Kak Andhini, Aku sudah menemui pengelolaan kondominium ini dan meminta diputarkan semua CCTV yang ada ternyata yang di curigai Ros keluar dari arah pintu barat, terlihat walau samar seseorang menggendong bayi walaupun tidak jelas hanya samar karena di tutupi mantel tebal tapi itu kemungkinan Ros," ucap Rai melaporkan pada Andhini yang sudah ada di huniannya sendiri sedang menuangkan minuman buat Mas Radit.
"Astagfirullah, berarti dia pergi ke arah barat? ke mana kira-kira itu Rai?" tanya Andhini lagi.
"Kemungkinan kita tidak bisa memprediksi walaupun dia keluar dari pintu manapun bisa saja dia pergi ke arah mana juga, kemungkinan Dia keluar dari pintu barat hanya menyiasati saja karena kita selalu keluar dari pintu timur jadi dia beralih ke lift yang lain, naik taksi ke stasiun atau ke bandara sudah lewat, cuman kalau kita melaporkan kepada polisi belum melewati waktu satu kali 24 jam belum bisa diterima tetapi kalau sampai satu kali 24 jam kita belum menerima kabar dan laporan dari Ros berarti kita nyatakan hilang polisi menerima dan melacaknya karena jaringan polisi itu memang di mana-mana kita bisa lebih mudah sebenarnya karena dokumen Ros dengan bayi itu tidak sinkron tapi nggak tahu juga seandainya dokumen-dokumen bayi dan rumah sakit itu dibawa dimanipulasi mungkin bisa saja seperti itu," ucap Rai membuat Andhini takut.
"Aduh Aku jadi pusing Rai, Mas Radit gimana semua ini Kenapa saat kamu tidak berdaya masalah Begitu datang banyak di hadapan kita Mas?" isak Andhini di samping Radit.
"Iya, Aku tidak bertanya sama Karina tentang dokumen Bayi itu, karena belum dikasih nama mungkin belum ada namanya, malah yang Aku tanyakan tadi perlengkapan bayi yang lainnya, sepertinya dibawa semua seperti pakaian, susu kemungkinan juga kalau memang dokumen bayi ada di situ memang satu bundel di situ pasti dibawa juga," Andhini bicara sambil menyeka airmatanya.
"Sesungguhnya Aku ingin meminta maaf padamu Andhini, walaupun ini adalah bukan saat yang tepat untuk meminta maaf dan menyesal, Aku kehilangan kesehatan dan kini kehilangan Anak dan darah daging ku sendiri rasanya ingin marah tetapi pada siapa? cukup penyesalan hanya ada pada diriku dan kejadian ini cukup membuatku terpukul dan memberikan pelajaran hidup yang begitu berharga," ucap Radit mengusap airmatanya juga yang dari tadi mengembang saat Andhini mulai terisak.
"Semua orang akan mengalami pasang surut kehidupan Kak, mungkin kali ini adalah cobaan Kak Radit yang paling terberat. Semoga bisa cepat selesai dan bisa melewatinya." Sedih perasaan Rai juga mendengar penyesalan Kakaknya. Semua maslah silih berganti datang menghampirinya.
Andhini juga menangis lagi melihat Radit mengusap airmatanya, perasaan Andhini merasa semua berawal dari keinginannya yang ingin memiliki Anak lalu menjodohkan suaminya dengan orang yang dipercayanya yaitu Karina, merencanakan pernikahan siri, menjodohkan suaminya sampai suaminya menikah tapi semua tidak berjalan seperti harapan sampai akhirnya kasusnya seperti ini.
Rasa hati Radit mau pergi saja mengejar Ros ke stasiun, ke mana saja yang dirinya bisa tapi Apa daya dirinya tidak berdaya merasa sakit di kakinya masih saja terasa ngilu retak tulang kering di kakinya mungkin masih butuh waktu lama sampai sembuh total.
"Rai panggil Karina biar Dia ada di sini, Aku ingin bicara sama Dia," ucap Andhini pada Rai.
"Baik Kak."
Rai langsung keluar dan menutup pintu.
"Mas, apa yang harus kita lakukan?" tanya Andhini pada Radit yang diam di sisinya.
"Lapor polisi tak ada pilihan lain, Kita serahkan semuanya," Andhini diam sama Radit juga diam kembali mungkin berpikir lagi baiknya bagaimana.
__ADS_1
Pintu di ketuk, masuk Rai diikuti Karina yang agak ragu masuk ke tempat hunian Andhini dan Radit.
"Duduk Rina, kita juga bukan tidak mengusahakan tapi terhalang waktu kalau besok tidak ada kabar baru Kita lapor polisi saja." ucap Andhini sambil menatap wajah Karina yang sembab.
Kak Ros barusan sudah menelepon, pas Mas Rai datang menjawab salam Ros menutup teleponnya, tapi Aku sempat bicara, Dia mengaku yang bertanggung jawab pada Bayiku saat ini Kak Ros meminta tebusan uang karena dianggap Aku yang tidak setuju dengan tuntutan awal pada Nyonya," jawab Karina sedikit ragu menyampaikan apa yang dibicarakan tadi sama Ros.
"Kenapa jadi begitu Karina? benar-benar mengambil keuntungan dan memanfaatkan ini orang!" Andhini kelihatan marah merasa dipermainkan sama temannya Karina.
Karina diam hanya menyeka airmatanya.
"Berapa yang dia minta? dimana dia sekarang berada?"
"1 M Nyonya, kalau tempatnya Aku belum tahu, Bayiku sakit lagi katanya, waktu di bawa juga dalam keadaan panas aku khawatir banget apalagi musim lagi dingin begini, semoga Kak Ros masih punya hati padaku," ucap Karina berharap.
"Apa yang dia bawa selain Bayi Itu?"
"Telephon sekarang, minta nomor rekeningnya!" Andhini berdiri dan menatap Karina.
Karina melirik Rai dan Rai mengangguk.
Karina menyambungkan ponselnya pada nomor Ros semua berharap-harap cemas.
"Ya Kak Ros, Kalau mau tebusan Kak Ros harus bicara sama Nyonya Andhini bagaimana?"
"Bicaralah!"
Andini menarik telepon di tangan Karina dan langsung bicara.
__ADS_1
"Kirim nomor rekeningmu Ros! dan sebutkan di mana Bayi Itu? apa Dia baik-baik saja?"
"Dasar orang kaya bodoh! kenapa tidak dari kemarin kalau kalian memang menginginkan Bayi ini? kenapa seakan Bayi ini tak berharga? apa salahnya Kami menuntut uang lebih?" ucap Ros membuat Andhini murka.
"Hai brengsek! semua jadi kacau gara-gara ide gila Kamu brengsek! kirim rekeningmu sebelum Aku berubah pikiran dan polisi menangkap Kamu dengan mudah!"
"Silahkan lapor polisi, tapi nyawa Bayi ini tinggal satu jentik jariku saja lewat semuanya!"
"Kak Ros! jangan bicara begitu, ini Aku Karina, Aku akan menyerahkan uangku dan kode pin nya tapi Bayiku jangan sampai kenapa-kenapa." Karina merebut ponsel dari tangan Andhini.
"Bagus Karina, berdoalah, karena bayimu sekarang lagi sakit, Kamu sama bodohnya sama mantan suamimu juga Nyonya Kamu itu, Aku berusaha membawa ke klinik tapi terpaksa kedinginan di jalan!" Andhini mengatupkan rahangnya karena begitu marah.
"Kak Ros! apa salahku? tolong beritahu Aku ada di mana? biar Aku yang ke situ," rintih Karina begitu menyayat memohon pada Ros.
"Siapkan saja uang sekarang nanti Aku kirim nomor rekeningnya, hanya 1 M itu adalah bagianku saja dari kompensasi yang di tuntut Kamu Karina!"
"Kak Ros tunggu dulu, di mana itu apa dekat dengan tempat tinggal kita waktu itu, karena Aku tidak tahu jalannya," ucap Karina sedikit mancing.
"Ya tapi tidak percis!"
Ros seperti keceplosan mengatakan tempat keberadaannya sepertinya semua itu bisa di jadikan petunjuk.
******
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️
__ADS_1