Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Sejuta pengakuan.


__ADS_3

"Sudahlah Kak, semua sudah terjadi memang seperti ini kenyataannya, tapi Aku punya kenangan Anakku dari Mas Radit mungkin Mas Radit akan ingat kalau ini Anaknya kalaupun Aku tak akan memberikan Anak ini pada mereka," ucap Karina sedikit mengungkapkan keinginan dan alternatif jika semua tak sesuai harapan.


"Jadi Kamu tetap akan mengasuh Anak ini jika mereka tidak memenuhi keinginanmu? Karina, tidak mudah menjadi single parent seorang diri, mengasuh dan membesarkan anak semua akan menghambat karir Kamu, masa depan Kamu dan yang terpenting menghambat Kamu untuk memiliki seorang pengganti Radit! bagaimana Kamu akan bekerja seandainya memiliki Anak? bagaimana Kamu akan membina hubungan dengan seseorang? semua akan menjadi halangan buatmu, pikirkanlah dan fokuslah pikiranmu pada bagaimana caranya supaya suamimu dan Nyonya Andhini bisa mengeluarkan uang untukmu dan Anakmu aman dalam pengasuhan mereka masa depannya jelas akan terjamin dan Kamu dengan bebas sewaktu-waktu bisa menemuinya juga, memanfaatkan Anak mu juga meminta sesuatu pada mantan suamimu yang begitu baik itu, atau kalau masih mau nostalgia beri dia servis memuaskan lalu kuras semua duitnya!" ucap Ros begitu mudah berkata kata, tapi bagi Karina yang menjalani begitu sulit langkah ini untuk di lewati.


Semua kata-kata Ros bikin Karina pening, belum lagi suara telepon berbunyi lagi dan kali ini Ros menyodorkan ponsel itu pada Karina.


Mau tidak mau Karina membaca nama Nyonya Andhini yang tertera terpampang di layar monitor ponselnya.


Karina duduk dan memijit tombol terima dan lama tak kedengaran suara.


Rasa nyeri di perutnya sudah berkurang.


"Halo Rina! Aku tahu kamu itu. Sampai kapan Kamu akan bersikap bodoh seperti ini? kenapa begitu keras kepala apa yang kurang dari Aku selama ini? yang Aku inginkan kita bertemu muka selamatkan Bayi itu apalagi sekarang katanya dalam keadaan sakit dan sehat kan dulu Kamu sendiri sebelum kita bicara untuk lebih lanjut lagi, tetapi kali ini Aku ingin mengabarkan kalau Adikmu di Indonesia sedang sakit Ibu Elyana tidak bisa menghubungimu karena nomor ponsel Kamu selalu berubah, kalau Kamu ingin berdiskusi dan minta saran juga pendapat dariku silahkan menghubungi Aku lagi!" Andhini menutup telepon sebelum Karina sempat berucap apapun.


Andhini merasa puas telah membalas Karina menutup telepon saat dirinya selesai bicara, tapi tak memberi sedikit kesempatan bicara pada Karina.


Andhini teringat pagi itu saat Karina menelepon pada Mas Radit tapi dirinya yang memegang ponsel, saat tahu Andhini yang ikut mendengar dan bicara Karina langsung menutup teleponnya.

__ADS_1


Karina terhenyak tak mampu bicara apapun, sekian lama Adiknya yang dirinya perjuangkan nasibnya sampai menyetujui pernikahan siri dalam perjanjian ini kini sedang sakit, seperti apa sakitnya? separah apa sakitnya? Karina tidak sempat bicara karena yang menyampaikan adalah Nyonya Andhini yang pasti sedang marah pada dirinya.


Karina menangis sejadi-jadinya, apa yang dirinya cari hingga ke negeri orang kalau bukan untuk kebahagiaan dirinya juga Adiknya?


Kalau saja dirinya mengikuti semua perjanjian semestinya mungkin dirinya sekarang dalam masa persiapan akan pulang ke Indonesia, setelah sedikit pulih dan sebentar lagi akan bertemu Adiknya yang sangat di rindukannya lalu menempati rumah baru mereka, menata masa depannya tidak malah terkungkung dalam permasalahan yang entah sampai kapan selesainya.


Seandainya tak ada masukan dari Kak Ros untuk tidak meminta cerai seandainya dirinya tidak jatuh cinta dengan mas Radit seandainya tidak ada tuntutan 4 kali lipat dengan ikhlas dirinya menyerahkan putranya dalam pengawasan dan pengasuhan Nyonya Andhini dan Mas Radit mungkin semua akan baik-baik saja mungkin hidupnya tidak akan sesulit ini.


Sejuta seandainya dan penyesalan kini datang terlambat mendatangi Karina yang semua tiada guna.


"Lila, maafkan Kakakmu ini, Ibu maafkan Aku, Aku tidak bisa menjaga titipan Ibu, Aku tidak bisa menjaga satu-satunya amanah Ibu, Aku begitu teledor mungkin Lila Adikku juga merasa Kalau Kakaknya sedang dalam masalah sehingga tautan hati Kami begitu erat dan Lila merasakan semuanya," ratap Karina dalam isak tangisnya. Ros mengerti Karina mendapat kabar kalau Adik satu satunya sedang sakit, mau pulang semua dokumen ada di Nyonya Andhini.


"Ya halo, Rina! Ada apa?" suara Andhini begitu dingin dan datar seakan puas dengan keadaannya kini.


"Nyonya, maafkan Aku ..." ucap Karina terputus oleh sesak di dalam dadanya.


"Akhirnya Kamu menelephon juga, dan butuh Aku! sudahkan Kamu sadar dengan yang telah ku lakukan selama ini? sekarang suamiku baru saja siuman dan lepas dari masa kritis mungkin butuh istirahat berbulan bulan, Aku menganggap Kamu Adikku sendiri sampai suamiku aku percayakan sama Kamu bukan atas kerelaan tapi keterpaksaan karena keadaan! kini apa yang bisa Aku bantu?" suara Andhini bagai busur yang melukai perasaan Karina penuh oleh pengakuan.

__ADS_1


"Emght... tolong beri Aku nomor Ibu Elyana Nyonya," ucap Karina.


"Boleh, tapi bisakah kita bertemu? ada banyak hal yang ingin Aku sampaikan pada mu Rina, apa susahnya bawa Bayi itu pulang Kamu bisa istirahat dengan nyaman di sini setelah sehat boleh menentukan masa depanmu seperti apa, Kamu butuh dokumen pribadimu bukan?" ujar Andhini, kini saatnya siapa yang akan menang dalam masalah ini.


"Baik Nyonya, nanti Aku akan pulang," jawab Karina pendek.


"Rina, Aku tidak bermaksud impas impasan sama Kamu, tapi Aku ingin Kamu itu tahu diri dan sadar dengan keadaanmu saat ini, kalau Kamu sendiri yang menjerumuskan diri pada kesulitan yang Kamu alami saat ini, Erika telah menyewakan baby sitter buat Bayi itu, dan telah mempersiapkan tiket pulang juga surat surat lainnya, Aku sendiri telah mempersiapkan satu unit rumah dan kendaraan di Indonesian tapi semua kini hilang, tuntutanmu terlalu berlebihan dan Kamu kini terlalu sombong Karina!" ucap Andhini di ujung sambungan telephon.


Kepala Karina mendadak pusing, hatinya penuh dengan pengakuan, begitu banyak beban pikiran dalam kepalanya sehingga tak sanggup untuk menjawab apapun yang di ucapkan Nyonya Andhini.


"Rina, Aku masih bisa berlaku baik padamu juga Bayi Kamu dari suamiku, itu adalah bagian dari tanggung jawabku juga walau kini kalian sudah bercerai, walau bukan seperti itu cerai yang Aku harapkan Rina, Aku ingi kalian bercerai baik-baik di hadapanku seperti dulu kalian menikah baik-baik di hadapanku, tidak dalam keadaan Mas Radit marah, tapi semua telah terjadi, itu pilihanmu," ucap Andhini lagi, semua sudah tak sanggup Karina jawab.


Karina mendadak bisu, lidahnya kelu semua kata-kata Nyonya Andhini begitu menusuk hatinya, saat ini rasanya Karina ingi pulang saja bertemu Adiknya dan memeluknya. satu-satunya keluarga saksi perjalan hidupnya.


Karina merasa dirinya serakah, ingin mendapatkan lebih, kini rumah hilang, kendaraan yang di janjikan hilang dan kesempatan meraih mimpi tetap jadi istri kedua hilang sudah, apalagi pulang yang dirinya rindukan semakin yak jelas saja kapan semua itu akan terlaksana dan Mas Radit kini terbaring di rumah sakit, semua terasa sumpek bagu Karina.


*******

__ADS_1


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️



__ADS_2