Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Malam perpisahan


__ADS_3

Karina merasa hidupnya berubah drastis, seperti dari tiada menjadi ada dan nyata. Keberadaannya di rumah Nyonya Andhini serasa membalikkan kehidupannya.


Kini Karina memiliki rekening tabungan diajarkan Bi Ummah waktu sekalian mereka ke Pasar, sebelum besok mulai kerja kemarin Karina sudah menengok Lila adiknya di Panti yang kelihatan semakin ceria saat Karina mengirim tas sekolah dan menyelipkan uang jajan buat sebulan yang membuat Lila terbelalak menerimanya.


Kebahagiaan pertemuan kemarin di Panti begitu membekas di hati Karina betapa tidak saat Ibu Elyana Karina ajak untuk membeli kacamata begitu bahagia melihat muka orang-orang yang di sayangnya. Bukan masalah harga satu kacamata atau masalah nilainya tetapi satu perhatian lebih dari Karina pada Ibu Elyana juga pada adiknya Lila dan pada semua penghuni Panti Asuhan Amanah lainnya.


Karina serasa jadi idola, dielus-elukan dan di peluk semua penghuni Panti seperti yang baru saja memenangkan satu event lomba penting, ya memang ini juga tak kalah pentingnya, Karina berhasil menaklukan rasa minder nya, tara tak percaya dirinya, rasa rendah diri yang selama ini menutupi kehidupannya, kini dirinya di terima bekerja di perusahaan bonafid dengan gaji awal sudah di sebutkan Pak Budi.


Karina seperti di lahirkan kembali menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya, kepercayaan dirinya mulai tumbuh bangkit perlahan-lahan seraya kepercayaan yang di titipkan Andhini majikannya, tak main-main beban tanggungjawab yang di bebankan Andhini menyuntikkan kepercayaan yang sangat berharga di kehidupan Karina.


Pelukan adiknya Lila dengan linangan air mata kebahagiaan mewarnai perpisahan saat Karina harus berangkat lagi.


Tak ada ketenangan selain Karina melihat senyum yang merekah dan ikhlas melepas dirinya, sungging di wajah Lila saat mereka berpisah dan ada do'a dari mulut mungilnya


'semoga Kakak semakin sukses'


begitu ucap Lila dengan setulus hati.


Semua akan berubah, pakaian yang bagus-bagus, dan yang terpenting Karina merasa punya nyawa kedua yaitu sekarang Karina punya uang yang sewaktu-waktu bisa dirinya pergunakan sesuai kebutuhannya, betapa senangnya hati Karina bekerja tanpa melalui proses yang sulit dan berbelit, dikasih fasilitas untuk tinggal meneruskan di tempatnya kamar kemarin dirinya tinggal yang dirasa seperti kamar mewah bagi Karina, hanya sekedar membantu-bantu membersihkan rumah apa susahnya buat Karina. Itu adalah tanggung jawab dan bakti pada majikannya Nyonya Andhini yang merupakan pekerjaan sangat ringan kesehariannya.


Karina menatap dirinya di cermin dengan pakaian barunya juga wajah yang habis perawatan dan sekantong kosmetik yang di perlukan nya.


Wajahnya semakin kelihatan cantik dari pantulan kaca dengan lampu kamar yang terangnya sedang.


Karina memang cantik dengan wajah unik dan hidung imut, mata hitam dengan alis begitu kentara walau tanpa goresan pencil, pipi yang mulus dengan rahang yang begitu terlihat kokoh menyangga wajah lembutnya, bibir mungil dengan barisan gigi yang gingsul sebelah menambah ayu pemiliknya saat tersenyum, kulit kuning langsat dengan perawakan sedang tapi terlihat sangat langsing.

__ADS_1


Nyonya Andhini memberikan dua tas, dan beberapa pasang sepatu hak pendek, karena belum melihat Karina mengenakan sepatu untuk pergi kerja harus menggunakan sepatu.


Ada banyak sepatu dan tas branded yang sebenarnya belum Andhini pakai, tapi Andini tak memberikan sesuatu yang pernah dirinya pakai jadi lebih baik dan dirasa Andhini memberikan sesuatu yang belum dirinya pakai walaupun menerima Karina tetap Andini ingin menghargai Karina sebagai teman bukan sebagai pekerja yang bekerja di perusahaannya.


Karina mencoba sepatu yang begitu bagus apalagi habis dirinya lap jadi seperti baru lagi, yang sebenarnya memang baru hanya lama tak di sentuh dan menjadi penghuni rak sepatu yang begitu berjubel, juga tas yang kelihatan belum di pakai Nyonya sama sekali sekalian Karina pakai dengan pakaian barunya.


Begitu serasi, Karina mematut diri di depan cermin sambil senyum-senyum sendiri.


'Ibu, anakmu sudah besar dan besok akan mulai kerja, semoga Ibu senang melihat Rina dari jauh sana, Aku pastikan Lila akan terus sekolah. Kerja yang sesungguhnya adalah mulai besok, semoga ini jalanku Ibu, jalan perubahan hidupku, akan aku gunakan setiap rupiah yang aku dapatkan untuk hal yang bermanfaat.'


Karina terpekur di depan cermin sambil mengamati pakaian barunya, sepatu dan tas juga kerudungnya yang melekat di tubuhnya, semua itu dulu hanya merupakan impiannya, tapi kini semua itu nyata adanya.


tok tok tok


Karina kaget luar biasa kenapa sudah malam begini masih ada yang mengetuk pintu, apa Nyonya membutuhkan sesuatu?


"Suster Rina, sudah tidur belum? kita di panggil Nyonya mungkin banyak pesan sebelum besok keberangkatan Nyonya sama Tuan." Suara khas Bi Ummah dari luar kamar Karina.


"Belum Bi, ya sebentar lagi aku keluar habis sholat."


"Iya, Bibi tunggu di taman sama Pak Satpam dan Pak Kebun," sahut Bi Ummah dari luar.


Karina dengan cepat mengganti pakaiannya dan keluar menghampiri Bi Ummah yang sedang ngobrol di samping rumah dengan Pak Satpam dan Pak kebun.


"Ada apa Bi?"

__ADS_1


"Nyonya memanggil kita semua, mungkin akan ada pesan karena besok mau berangkat," ucap Bi Ummah sambil berdiri berjalan duluan masuk ke rumah besar itu.


Karina dan Pak satpam juga Pak kebun mengikutinya di belakang.


Tampak Nyonya Andhini dan Tuan Radit duduk di meja makan masih menikmati entah cemilan entah apa, seperti biasa Bi Ummah, Karina, Pak Satpam dan Pak kebun duduk di sofa sebrang meja makan.


"Kami semua sudah di sini Nyonya," ucap Bi Ummah mewakili yang lainnya.


"Iya Bi, perlu aku sampaikan hanya sekedar menegaskan kembali, buat Bi Ummah, Pak Satpam dan Pak kebun Alhamdulillah dan InsyaAllah aku sama suamiku besok jadi berangkat ke Australia sekitar jam tujuh dari rumah ke Bandara, semua yang kerja di sini tak ada yang di keluarkan malah akan menambah satu anggota yaitu suster Karina yang sekarang sudah tak merawat aku lagi karena mulai besok akan bekerja di perusahaan."


"Iya Nyonya."


Untuk menjaga rumah seperti biasa saja tak ada sedikitpun perbedaan dan perubahan, tak ada kamar yang aku kunci karena semua agar bisa dibersihkan, aku ingin suatu saat datang dan pulang ke sini tetap seperti ini."


"Baik Nyonya."


"Gaji kalian semua tetap akan diterima pada waktunya, mungkin bedanya hanya tak ada aku sama suamiku di sini itu aja, kalian tetap pada tanggungjawab masing-masing, dan Karina mungkin bisa membantu Bi Ummah beres-beres di sini sebelum berangkat kerja dan sepulang dari bekerja."


"Iya Nyonya, InsyaAllah saya akan menjalankan semuanya."


"Mungkin itu saja, intinya saling bantu dan saling mengingatkan dan saling menjaga satu sama lain, terutama kalau minggu Bi Ummah pulang aku menitipkan Karina pada Pak Satpam, barangkali ada pertanyaan dan yang mau di sampaikan silahkan."


Semua pada diam tak ada yang menjawab sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Aku tetap memantau kalian walau dari jauh, jadi tanggungjawab pada pekerjaan itu yang terpenting. Kalau sudah tak ada yang disampaikan lagi boleh kembali beristirahat."

__ADS_1


Andhini memandang Karina yang semakin cantik saja, merasa senang melihatnya, dan satu rencana ada dalam hatinya.


*****


__ADS_2