
Rahadian datang ke kondominium Kakaknya bermaksud mengambilkan pakaian Kakak iparnya Andhini dengan membawa kunci cadangan yang diberikan Andhini. Tapi saat mau buka kunci dan masuk pintu tidak dikunci, Rai membuka pintu dengan perlahan ternyata ada Raditya lagi duduk di sofa.
Seperti kaget juga kedatangan Adiknya sore-sore begini ke sini. Radit berusaha tersenyum dan mengangguk.
"Hai Rai! Aku pulang sakit kepala sepertinya perlu merefresh otakku, akhir-akhir ini begitu banyak permasalahan yang membuat Aku tidak fokus dan serba salah, duduklah!" mempersilahkan adiknya dan menyambutnya untuk duduk seperti biasanya.
"Kak Radit ada di rumah?"
"Begitulah, Aku sepertinya mau sakit, jadi Aku pulang untuk istirahat. Minimarket hanya ditunggu Vira."
"Ta kira punya dua istri itu sangat menyenangkan dan begitu bebasnya, ke sana ke mari, saat yang satu marah pergi yang lainnya. Harusnya hidup enjoy tinggal mengatur waktu saja." Rahadian menjawab sambil duduk di sebrang Kakaknya.
"Semua tak semudah yang di bayangkan, pada kenyataannya setelah dijalani begitu rumit tetapi Kakak ipar kamu Andhini tak pernah mengerti kesulitanku! Aku berkonflik dengannya mungkin Dia bercerita padamu?" Radit seolah mengadu dan tetap menyalahkan Andhini di hadapan Rai kalau Andhini tak bisa mengerti keadaan Radit.
"Kenapa Kak Radit malah menyalahkan Kak Andhini? kenapa tidak introspeksi diri masing-masing kembali kepada tujuan awal seperti apa? bukannya Aku sok dewasa tetapi melihat permasalahan ini menurutku begitu sederhana kalau dijalani sesuai perjanjian! Kak Andhini orangnya begitu jelas baik tetapi kenapa karena begitu memanfaatkan situasi ini?" tanya Rai sambil menatap tajam muka Kakaknya yang kelihatan memang capek.
"Maksud Kamu memanfaatkan apa? Aku itu menjalani semuanya apa adanya cuman kesalahanku karena Karina membutuhkan waktu kebersamaan yang lebih banyak dia banyak kebutuhan banyak keluhan itu yang tidak di mengerti Andhini!" jawab Radit seakan menyalahkan adiknya karena mungkin termakan oleh omongan Andini sehingga Radit melihatnya raih menjadi provokasi di antara masalah mereka.
"Itu salahnya! Kakak tidak bisa memenuhi keinginan Kak Andhini soal waktu, apa sih susahnya jadi orang yang konsisten dan taat aturan? bukankah itu demi kebaikan?" Rai seolah balik menyalahkan Kakaknya. Memang dalam pandangannya secara seimbang dan melihat Kakaknya sendiri yang salah dalam hal ini karena tidak adil soal waktu.
__ADS_1
"Aku berusaha, tapi apa daya Karina sedang hamil Anakku, semua orang juga pasti akan berlaku seperti itu saat istri sedang hamil," ucap Radit dengan tetap memberi alasan kehamilan Karina.
"Kenapa Kakak tidak mencari solusi lain dalam hal ini? bukankah Kakak menikahi Karina untuk keutuhan rumah tangga tetapi sekarang pada kenyataannya Kakak malah merusak rumah tangga itu sendiri pokoknya Kakak harus kembali ke perjanjian awal jalani semua apa adanya kalau memang tidak bisa berbuat adil sudahi semuanya sekarang pilih salah satu kaK Andhini atau Karina!" Rai juga kelihatan tak mau kalah dengan pendapatnya.
"Kamu tidak berhak memvonis Aku dan memberi pilihan seperti itu, pilihan ada di tanganku sementara ini Aku juga lagi berpikir sebaiknya langkah apa yang harus Aku jalani," tangkis Raditya seolah Adiknya tahu apa soal urusan rumah tangga.
"Tapi sepertinya Kakak lebih cenderung memilih Karina membiarkan Kak Andhini dalam kesendirian, pisah ranjang rumah tangga seperti apa yang Kakak jalani ini? di manakah rasa cinta Kakak pada Kak Andhini coba pikirkan sekali lagi Kak Andhini rela berkorban tetapi kenapa seakan Karina sama Kak Radit memakan jantung orang yang telah begitu baik? menusuk Kak Andhini dengan begitu menyakitkan?" ejek Rai pada Kakaknya, karena dirinya juga tak suka dengan cara Radit yang seenaknya saja memperlakukan Kak Andhini hanya demi Karina yang tak jelas asal-usulnya.
"Aku mau bertanya padamu! kalau kamu ada di posisiku coba bilang apa yang harus Kakakmu ini lakukan? walaupun Aku tidak yakin seorang muda bisa memberi jalan keluar dan solusi rumah tangga yang belum dijalaninya!" tanya Radit membela diri dengan sengitnya dan ujung-ujungnya memojokkan Rai.
"Cari seseorang yang bisa menemani Karina ART lah katakan, biar bisa melayani kebutuhan Karina kalau memang dia tidak bisa mengerjakan apa-apa sendiri, jangan sampai Kak Radit menyesal melihat runtuhnya kehilangan sebuah rumah tangga yang dibangun sejak awal demi seseorang yang datang terlambat di kehidupan Kak Radit!" ucap Rai tanpa di perkirakan, Radit sontak diam baru menyadari kalau Rai begitu dewasa dalam berpikir dan berpendapat.
Suasana menjadi hening, berdua Kakak Adik hanya diam, sampai Rai mengatakan tujuannya datang ke sini.
"Kenapa bukan dia sendiri yang mengambil ke sini?" jawab Radit begitu ketus.
"Aku tidak tahu, pokoknya Aku hanya disuruh karena Aku memutuskan sementara waktu sampai permasalahan Kak Radit sama Karina juga Kak Andhini selesai Aku akan bekerja di sini dan memperpanjang masa liburku, kalau Aku pulang nanti Aku takut bicara pada orang tua, takut keceplosan kalau Kakak punya dua istri, Kak Andhini sekarang sedang hamil dan sebentar lagi akan melahirkan. Bukankah sandiwaranya seperti itu?"
Radit hanya diam mendengar semua ucapan Adiknya.
__ADS_1
"Aku tidak mau mengambilkan pakaian Andhini, silahkan ambil sendiri!" Radit menolak malah mempersilahkan Rai mengambilnya, jelas Rai nggak mau juga karena itu adalah privasi suami istri masuk kamar mereka.
"Kak! bukankah Kalian itu pisah ranjang? coba resapi, rasakan bagaimana rasanya memegang pakaian istri, memasukkan ke dalan koper seakan menyuruh istri sendiri pergi dari tempat tinggalnya yang selama ini hidup bersama penuh cinta kasih, di tempat ini menjalani apa-apa bersama, coba rasakan! Aku sendiri merasa tak sanggup melakukannya!" Rai bicara seperti Marah pada Kaknha
"Aku juga tak bisa mengambilkan pakaian Andhini! suruh dia mengambilnya sendiri! Aku bisa gila dengan semua ini." terngiang ngiang ucapan Adiknya Rai tadi, kenapa dirinya terlalu bodoh tak berpikir seperti itu.
"Cari seseorang yang bisa menemani Karina ART lah katakan, biar bisa melayani kebutuhan Karina kalau memang dia tidak bisa mengerjakan apa-apa sendiri, jangan sampai Kak Radit menyesal melihat runtuhnya kehilangan sebuah rumah tangga yang dibangun sejak awal demi seseorang yang datang terlambat dan tidak di cintai Kakak sebelumnya di kehidupan Kak Radit!"
Semua ucapan Rai seperti panah yang busurnya menembus jantungnya, terasa sakit dan berdarah. Radit merasakan sakitnya hati Andhini, begitu benar ucapan Rai, siapa Karina? kalau dirinya rela melakukan segalanya hanya demi Anak bukankah itu atas kerelaan Andhini?
"Aku tidak bisa mengambilkan pakaian Kak Andhini, Aku tak sanggup mengusir Kakak ipar ku sendiri, lebih baik Kak Radit saja yang ambilkan," tukas Rai di hadapan Kakaknya.
"Jangan memaksa Aku! biar tak diambilkan juga Kalau Andhini sudah merasa butuh mungkin dia akan datang sendiri ke sini, terkadang orang mengambil keputusan tidak bijaksana dalam keadaan panas dan emosi, Apalagi Aku menjadi orang yang selalu disalahkan dalam posisi apapun termasuk tadi, setiap bertemu dengan Andhini hanya cekcok dan berdebat saja, Aku bukan orang yang sabar mungkin juga keputusan pisah ranjang yang Andhini ditawarkan Aku tanpa pikir panjang mengiyakan saja, tetapi kini Aku baru menyadari semua itu juga adalah keputusan salah." Radit seperti menyesali keputusannya sendiri
"Syukur kalau Kak Radit menyesal, datanglah meminta maaf itu bukan hal yang sulit demi memperbaiki semuanya." jawab Rai berusaha memberikan masukkan baik.
"Tapi rasanya begitu sulit, Aku terima saran kamu dulu mencari orang yang bisa menemani Karina, lalu Aku bisa tenang minta maaf pada Andhini."
******
__ADS_1
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️