Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Jeanny


__ADS_3

"Silahkan lo pilih sendiri yang tadi apartemen, dan yang ini kondominium dengan segala fasilitasnya. Masih satu bangunan sama hunian gue kalau lo mau di sini, atau kalau merasa betah mau tinggal terus di hotel dan merasa mampu terserah, gue hanya sekedar menunjukkan dan pilihan ada di tangan lo berdua." ujar Erika sambil melihat-lihat isi ruangan kondominium yang model sama percis miliknya.


"Erika boleh gue melihat perbandingan kondominium yang lain? misalnya gue mau yang kamarnya dua atau yang lebih ruangannya, seandainya suatu saat ada keluarga atau siapa saja gue jadi nggak begitu susah. Gue suka ruangan luas walaupun gue berpikir itu sesuatu yang tak mungkin untuk hidup di sini," sela Andhini sambil melirik pada Radit.


"Oke, tenang aja ada di dekat bangunan yang gue survei untuk usaha lo itu, di situ ada juga kondominium baru boleh lo berdua lihat gue antar ke sana siapa tahu itu yang cocok sepertinya buat lo."


"Iya Rika, sebenarnya bukan gue nggak mau tinggal berdekatan sama lo, gue hanya jaga privasi aja takut gue lagi tanggung main sama Mas Radit lo gedor-gedor pintu gue," ujar Andhini bercanda sama Erika.


"Dasar lo, otak mesum lo berdua!" Andini tertawa, juga Raditya.


"Sebelum lo kenal lingkungan saja, kalau nanti sudah lama dan punya pilihan sendiri atur aja semuanya menurut selera lo, cuman target gue hari ini selain lo berdua lihat untuk hunian, lihat juga yang untuk usaha jadi biar gue sama Tommy merasa tenang kalau gue sudah tunjukkan tempat usahanya, tinggal lo sewa, lo urus izin usahanya apapun mau skin care mau retail apapun yang lo minati silakan mulai di sini, tempatnya Insya Allah strategis masih di jalan protokol besar yang tiap Sabtu Minggu car free day dan untuk hari-hari biasa juga tidak terlalu jalan raya yang jalur kencang banget jadi pedestrian tiap pagi sampai sore bisa selalu melihat dan mampir ke toko lo," tutur Erika berharap sahabatnya bisa satu hati dan cocok dengan pilihannya.


"Kenapa lo sendiri nggak buka usaha sekalian?" tanya Andhini pada Erika.


"Gue bukannya nggak mau, tapi Tommy dalam waktu sekarang merasa anak lebih prioritas. Mungkin nanti kalau sudah anak bisa ditinggalkan dan bersekolah, lo tahu sendiri kekhawatiran gue dua kali lipat lebih terhadap anak di sini dibandingkan di negeri sendiri entah kenapa aku sama Tommy begitu ingin membesarkan anak dan melihat tumbuh kembang Jeanny terlebih dulu." tutur Erika tentang dirinya alasan kenapa belum melangkah memulai usaha atau kerja apapun yang menghasilkan padahal menurut Andhini begitu banyak peluang yang bisa dilakukan sekecil apapun di manapun.


Tak ada kata nganggur bagi seseorang yang berpikir apapun pasti menjadi peluang dan dimanfaatkan sebaik-baiknya.


"Cukup dipahami, semua orang tua mungkin berpikiran seperti itu. Nanti juga akan ada saatnya dan kesempatan buat lo," jawab Radit tentang peluang buat Erika.

__ADS_1


Sepertinya Andhini ingin melihat perbandingan Kondo yang lain atau kurang begitu pas dengan kondominium yang dihuni Erika sama Tommy entah alasan apa Andini hanya ingin melihat perbandingan di bangunan lain kondominium yang akan menjadi huniannya tetapi itu juga bukan harga tetap masih bisa saja berubah, Andhini bukan orang yang rewel tetapi entah dengan alasan apa tak ingin terlalu dekat tinggal bersama Erika.


Hari itu habiskan mereka untuk berkeliling melihat untuk hunian Andhini dan Raditya dan bisa segera pindah mengurus segalanya sampai kepada tempat usaha yang begitu cocok bagi Andhini sama Raditnya untuk memulai membuka usaha dengan ilmu dan pengalaman yang mereka pelajari.


Satu lagi Andhini begitu puas dengan semua yang dicapai hari ini telah melihat semua lokasinya sampai rute ke rumah sakit pun Andhini sudah miliki begitu mudah untuk pencapaian ke rumah sakit sehingga mempermudah dirinya sama suaminya untuk periksa kesehatan, program kehamilan dan lain sebagainya, direncanakan Andhini sama Raditya akan pindah esok hari ke tempat yang sudah cocok dipilihnya yaitu kondominium yang dekat dengan usahanya.


Mereka kembali ke tempat Erika tinggal karena belum pernah bertemu dengan suaminya dan Jeanny.


Keinginan Andhini semakin terpanggil saat melihat putri lucu Erika yang sangat menggemaskan, memberi salam dan sudah fasih bicara walau agak cadel khas anak-anak.


Tommy kerja di perusahaan ekspor impor, kantornya tidak terlalu jauh dari Kondominiumnya, bahkan bisa di bilang cukup dekat. Sedang Erika sementara hanya Ibu rumah tangga sejak kehamilannya dan lanjut mengurus anak sampai sekarang.


Erika asalnya kerja di toko skincare, sampai hamil dan paska melahirkan baru berhenti total.


"Halo Aunty."


"Kamu cantik banget, kamu tuh orang mana sih?" ucap Andhini begitu gemas sambil memeluknya.


Jeanny seakan tahu dan mengerti kalau orang yang ada di hadapannya kenal sama kedua orang tuanya dan begitu sayang pada dirinya, Jeanny sudah punya kepekaan perasaan seperti itu karena sejak dini ditanamkan tidak boleh dekat sama orang yang tidak dikenal.

__ADS_1


"Jeanny orang sini Aunty ..."


Oke Jeanny keren banget sayang, Jeanny orang Austy ya?"


"Iya."


"Cium duku dong pipi Tante baru di kasih oleh-olehnya," ucap Andhini pada Jeanny.


Jeanny menurut saja apa yang di pinta Andhini sambil tersenyum begitu senangnya serasa mendapatkan teman baru.


"Nih Tante kasih Jeanny tas. Sementara Jeanny belum sekolah bisa dipakai jalan-jalan diisiin jajanan ya, buat bekal. Nanti kalau sudah sekolah masih bisa dipakai bisa buat sekolah juga, nah nih cobain pakai tasnya udah ada isinya juga ya ada coklat juga ada makanan lainnya biskuit sama permen semua buat Jeanny."


"Makasih Aunty makasih Uncle."


"Sama-sama Jeanny" jawab Andhini sama Radit berbarengan.


"Oke Jeanny main lagi ya, Mom sama Dad ngobrol dulu." Erika cepat-cepat mengalihkan perhatian Andhini dan tak membiarkan semua angan-angannya kembali mendatangkan kesedihan akan hadirnya seorang anak dalam rumahtangganya, Erika menyuruh Jeanny kecil bermain kembali sebelum Andhini terhipnotis dengan pikirannya sendiri.


Erika tahu Andhini begitu mendamba seorang anak, keinginannya begitu kuat terlihat dari sorot matanya dari perlakuannya terhadap anak kecil sampai dia merelakan segalanya untuk melalui serangkaian tes apapun yang akan dijalaninya demi mencapai tujuan itu.

__ADS_1


Sebelum datang ke Australia ini Radit telah menelepon Erika dengan kondisi istrinya yang seperti itu, Radit meminta pengertian Erika agar membantu Andhini untuk tidak larut dengan semua perasaannya Raditya ingin dilalui secara wajar. Keinginan memang semua juga punya keinginan tetapi harus dilalui dengan hati ikhlas dan lapang dada, usaha untuk menuju ke arah itu mari kita lakukan bersama-sama bahkan pindah tempat tinggal dan usaha juga Raditya begitu mendukungnya hanya untuk satu kebahagiaan buat istrinya.


******


__ADS_2