Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Vira dan Rai


__ADS_3

"Vira, Aku kangen banget sama Kamu semalam Aku tidur di rumahsakit datang kabar Karina telah lahiran, kurang lebih tengah malam Aku sudah kepalang ngantuk dan langsung saja tidur setelah mendapatkan kabar itu dan paginya tanpa pamit Aku langsung pulang karena ingin meneruskan tidur tapi karena ingat Kamu akan sendiri juga kangen sama Kamu akhirnya Aku datang juga ke minimarket ini," ucap Rai setelah Vira terlebih dulu membuka rolling door yang tadinya pasti hari ini Vira berpikir akan bekerja sendiri.


"Oh ya? Mbak Karina sudah lahiran? syukurlah semoga cepet sehat kembali normal apa operasi Mas?" jawab Vira sambil melirik Rai yang menuju rak di dekat meja kasir mungkin mau membereskannya.


"Operasi, dan itu juga sempat kritis kata Kak Radit tapi alhamdulilah semua berjalan baik dan lancar anaknya laki-laki." jawab Rai.


"Selamat, Mas punya keponakan sekarang, pasti Pak Radit bahagia ya?" sahut Vira sambil melirik Rai yang tak jauh dati tempatnya berdiri.


"Entah kenapa Aku merasa itu bukan keponakan yang sebenarnya, dan Aku juga tidak terlalu antusias menyambutnya bagiku semua terasa hambar mungkin karena bukan Anak dari Kak Andhini, walaupun pada kenyataannya itu Anak Kak Radit juga tapi Aku merasa canggung saja," ucap Rai jujur dengan suasana hatinya.


Vira hanya tersenyum mendengar jawaban Rai yang tak bisa menyamakan kalau Karina itu adalah istri Kakaknya juga. Tapi itulah prinsipnya seolah memandang Karina lahiran biasa saja.


Vira tahu kalau Rai begitu berprinsip seperti memandang orang termasuk pada Kakaknya sendiri kalau tidak setuju ya begitulah, berani bicara kalau di rasa dirinya kurang setuju dan melenceng dari kelaziman.


Tapi sampai saat ini Vira belum menemukan hal yang aneh di diri Rai seperti mengatur, atau memprotes secara berlebihan, selain Rai memperlihatkan rasa yang berlebihan, dan memandang kagum pada kemandirian dan selalu memuji kecantikannya juga kerja kerasnya selalu jadi sanjungan membuat Vira malu sendiri.


Vira tahu soal Pak Radit dan masalah rumah tangganya, walau tidak tahu banyak jadi tak bermaksud bicara panjang pada Rai hanya menanggapi saja apa yang di sampaikan Rai.


Vira tak menyangka juga kalau Rai akan datang, karena di kira Vira masih di rumah sakit, Vira hanya tersenyum di kulum mendengar ucapan Rai tadi yang baru kemarin mereka bertemu dan berpisah tapi dengan gamblang Rai bicara sudah kangen, lucu memang.


Dengan cekatan Vira membereskan semua kunci yang ada di genggamannya, di simpan pada tempatnya membuka mantelnya dan menyalakan komputer di meja kasir dan semua lampu, juga sedikit menyapu dan mengepel tanpa memperdulikan Rai yang memperhatikannya.


"Vira, pulang kerja Kamu nggak kemana-mana kan? kita tengok Karina sama bayinya nanti gimana?" ucap Rai setelah Vira kelihatan selesai

__ADS_1


dengan semua yang dikerjakannya.


"Boleh, tapi keburu nggak ya?rencana malam ini Aku mau ke kampus mau ada sedikit yang di bicarakan dengan dosenku," ucap Vira memandang Rai seolah meminta pengertiannya.


"Baiklah, kita izin sama Kak Andhini tutupnya jangan terlalu malam jadi Aku bisa antar Kamu dulu baru pergi ke rumah sakit tengok Karina, hanya bentuk perhatian saja dan menghargai Kak Radit walaupun Aku sebenarnya bukan orang yang biasa berbasa basi." Rahadian memberi solusi sendiri pada Vira yang kelihatan bingung membagi waktunya.


"Kalau itu maunya Mas Rai Aku terserah saja, sebenarnya Aku tidak terlalu penting datang ke kampus semua bisa dikerjakan dari rumah tetapi karena kepalang sudah janji saja, dan menengok ke rumah sakit bisa kapan saja atau besoknya menurut Aku," jawab Vira begitu bisa di mengerti Rai.


"Nggak apa Vira Kak Andhini pasti izinin kok, sekali-kali kita pacaran diluar bukan di sini melulu," sahut Rai sambil senyum pada Vira. Vira juga sama tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang putih dan rapi.


Rasa sayang pada Vira yang baru beberapa minggu resmi mereka pacaran di rasa Rai begitu lain dari pandangannya dari perempuan lain, Vira yang cantik dengan tubuh mungilnya berbanding terbalik dengan postur dirinya yang tinggi besar.


Vira kelihatan imut dan menggemaskan juga jarang bicara kalau tidak di mulai duluan, terkadang Rai ingin melihat bibir mungilnya itu bicara apa saja tapi lebih banyak diamnya.


Rai nanti malam mau menemani Vira ke kampus, lalu ke rumah sakit, pasti banyak kesempatan bicara dan dekat dengan Vira, rasanya tak sabar menggenggam tangan halusnya dan memeluk di rintik hujan salju musim ini rasanya pasti asyik dalam bayangan Rai.


Rai merasa kaget mendapatkan pertanyaan Vira dengan tiba-tiba.


"Itu karena Kamu Vira, Aku jadi senyum senyum sendiri nggak jelas begini, dan kamu harus bertanggung jawab," jawan rI


"Lho, kok karena Aku?"


"Kamu yang terus ada di pikiran dan otakku Vira," jawab Rai sambil melepaskan troli barang di tangannya.

__ADS_1


Vira yang ada di samping Rai merasa tersanjung dengan jawaban Rai, maklum Vira baru kali ini pacaran dengan serius di saat sudah dewasa.


"Vira, kapan kamu selesai kuliah? Aku tak sabar pulang bareng dan kita resmikan hubungan ini, bawa ke orangtua kita, Kita tinggal di Indonesia saja mengurus usaha orangtuaku dan kita bisa punya banyak anak nanti." Rai bicara sambil menarik Vira ke dalam pelukannya, hari masih pagi belum ada pengunjung dan pembeli juga Mas Radit yang paling sering mengunjungi ke situ sekedar mengontrol. Suasana memang begitu lengang belum ada yang masuk ke minimarket itu, jadi Rai begitu memanfaatkan kesempatan berdua.


"A - Aku masih kurang lebih satu semester akhir Mas," jawab Vira dengan terbata.


"Tak apa-apa, Aku akan menunggumu dan menemani di sini sampai Kamu lulus," ucap Rai tanpa menyembunyikan rasa yang ada di dalam dadanya.


Vira diam tak tahu apa yang harus di lakukannya, juga saat Rai sedikit merendahkan tubuhnya dan mukanya menjadi berhadapan dengan muka Vira, Rai tanpa persetujuan Vira menyentuh bibir merah jambu itu secara perlahan dan Vira hanya diam saja.


Sejenak mereka menikmati suasana berdua di dalam ruangan itu dengan getaran hati mereka, dan bibir yang ber-pagut. Ada kehangatan yang menjalar di tubuh Vira dan berusaha melepaskan tapi Rai begitu kuat menahannya.


"Mas cukup! nanti ada orang ke sini." Muka Vira kelihatan malu dan sedikit berontak.


"Vira, kenapa sih Kamu tak bisa menikmati barang sebentar saja?" ucap Rai memandang wajah yang merona merah di hadapannya.


"Mas, ini tempat kerja bukan tempat kita pacaran, Aku nggak mau di bilang mesum di sini," ucap Vira sambil mendorong tubuh Rai.


"Oke, maaf Vira, Aku terlalu bahagia mungkin, tapi sedikit saja boleh kali buat obat di hatiku," jawab Rai begitu lucu sambil mengusap pipi Vira.


Vira hanya tertawa mendengar penawaran Rai.


******

__ADS_1


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️



__ADS_2