Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Saling mengagumi


__ADS_3

"Andhini, Aku senang kamu begitu bersemangat mengikuti program kehamilan yang di adakan di rumahsakit ini. Hanya satu harapanku Kamu bisa mewujudkan semua harapan dan impian untuk menjadi seorang Ibu karena semua itu tiada yang tidak mungkin, sebab kita meminta kepada Yang Maha Kuasa dengan usaha dan berbagai cara secara nyata kita lakukan seperti sekarang ini bagian dari bentuk ikhtiar yang kita lakukan," dr Fadli tersenyum mempersilahkan Andhini duduk di taman setelah selesai melakukan check up terapi pemeriksaan dan segala macam yang berhubungan dengan ginekologi.


Dr Fadli menyimpan dua minuman botol dingin di meja kecil dihadapan Andhini duduk.


Dr Fadli memandang Andhini yang lagi melihat-lihat ponselnya, Tak ada yang kurang dari perempuan cantik ini selain kelihatan tidak bahagia, selebihnya semua sempurna di mata dr Fadli.


"Aku memang harus banyak keluar dari rutinitas demi menghindari kejenuhan dok, sebenarnya masih banyak cara kalau hanya untuk mencari hiburan, tetapi Apa salahnya Aku bisa berdiskusi dengan dokter di sini siapa tahu banyak pencerahan yang bisa kita petik dari pertemuan kita," jawab Andhini sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas branded dan menutupnya


"Hahahaha... Kamu kelihatan serius banget Andhini, memang kita ini mahluk sosial yang perlu orang lain untuk bahagia, kecuali kita bahagia sendiri sakit itu namanya, perlu keluar walaupun bekerja adalah satu kewajiban bahkan ada yang hobi juga, tetapi semua kalau tidak dibatasi akan menjadi berlebihan, ternyata seorang sukses seperti putri Andhini mengalami kejenuhan juga?" tanya dr Fadli sambil tertawa menatap wajah dingin Andhini dan menggodanya biar terlihat aura kecantikannya keluar.


"Apakah dokter jenuh juga menjalani rutinitas sehari-hari hanya bertemu dengan orang-orang itu saja? dan juga pasien sakit, orang yang membutuhkan bantuan seperti Aku?" Andhini balik bertanya pada dr Fadli yang merasa menggodanya.


"Pada dasarnya sama saja Andhini, tetapi kejenuhan diusahakan rubah sendiri menjadi satu semangat karena itu akan menjadi profesi di masa depan dan akan merubah duniaku, Aku senang setiap kali menolong satu generasi lahir ke dunia ini dan berharap merubah dunia menjadi lebih baik," ucap dr Fadli kedengarannya sangat heroik banget.


Kata-kata yang membuat Andhini kagum akan kepribadian dr Fadli, juga dr Fadli semakin kagum dengan humble nya Andhini. Seorang anak konglomerat tanah air tetapi di Australia sini seperti bukan siapa-siapa. Andhini layaknya seperti orang lain dan begitu baik pada siapa saja, padahal kalau dilihat dari latar belakang keluarganya Andhini adalah seorang putri mahkota dari seorang raja bisnis yang begitu terkenal.


Andhini kelihatan biasa saja dalam bergaul dan ngobrol soal apapun, tak sedikitpun memperlihatkan status sosialnya yang sangat tinggi, selain kelebihannya begitu cantik dan dan begitu terawat juga lebih muda dari usianya. Entah karena Andhini belum pernah hamil dan melahirkan sehingga penampilannya selalu saja rapi dan terjaga.


"Wah wah wah ... idealis dan sangat super hero banget, Aku suka mendengarnya," jawab Andhini memamerkan senyum menawannya.


"Biasa saja Andhini, tapi harapan terbesarku adalah bisa mewujudkan impianmu," ucap dr Fadli seperti dengan ikhlas pertemanan mereka hanya jadi persahabatan.


"Semoga dok," ucap Andhini. Walau jauh di dalam hatinya semakin tipis dan buram melihat permasalahan rumahtangganya sendiri yang tak terselesaikan.

__ADS_1


"Pertemuan nanti Aku usahakan observasi menyeluruh di semua bagian kesehatanmu, melihat tingkat kesiapan secara mental dan fisik, tidak melihat sedikit pun kekurangan di dalam dirimu jadi sepertinya Aku merasa penasaran," ucap dr Fadli tak yakin kalau Andhini tidak bisa hamil.


Hanya satu keraguannya kenapa Andhini ke sana kemari hanya sendiri saja, saat acara kemarin pun dia menjalani sendiri yang seharusnya semua ini dijalani bersama seseorang yang sama-sama menginginkan Anak yaitu seorang suami.


"Sepertinya Aku terlalu sering mendengar ucapan dari dokter yang menanganiku seperti itu, oke oke saja Aku ikuti semuanya Aku keluar sebagai refreshing dari rutinitas," sahut Andhini seakan semua itu hanya satu kewajiban saja yang di jalaninya, dan alasan utama berada di Australia ini.


"Semangat dong, seperti Aku yang sangat semangat melihat keberhasilan setiap perjuangan dan bisa berbagi kebahagiaan dengan siapa saja," ujar dr Fadli sambil meminum minumannya.


Sampai saat ini belum terucap keganjilan satu pertanyaan yang belum terucap soal kemana suaminya, menjadi satu misteri bagi dr Fadli, sesibuk apapun seorang suami pasti akan mengerti kalau soal keinginan bersama masalah anak dan keturunan, tapi Andhini kelihatan santai melenggang sendiri ke mana-mana.


Walau dr Fadli pernah bertanya tapi jawaban masih tetap abu-abu dan Andhini beralasan dengan jawabannya.


Satu yang di yakini dr Fadli kalau Andhini mengikuti program kehamilan pasti ada suaminya.


"Dok, memang Aku kelihatan tidak semangat? Aku sangat senang dan bahagia bukankah itu kunci yang harus seorang usahakan yang ikut program itu mesti bahagia?" tanya Andhini seperti memperlihatkan kalau dirinya bahagia.


"Karena dokter telah begitu membesarkan hatiku, m telah memberiku kebahagiaan, telah memberiku waktu dan telah menjadikan diriku sebagai sahabat baik, Aku ajak dokter keluar hari ini bisa? hanya makan saja." Andhini mengucapkan semua itu dengan pengharapan, tapi kelihatan serius juga.


"Wah, baru kali ini Aku ada yang ngajak, dengan senang hati Andhini tapi ada yang harus Aku selesaikan dulu, hanya sepuluh menit bisa tunggu kan?" jawab dr Fadli membuat Andhini tersenyum dan mengangguk.


Dr Fadli berdiri dan kembali ke ruangannya sebagai tenaga asisten di Dr SpOG terkenal di rumahsakit itu, mungkin hanya pamitan atau sekedar izin keluar.


Andhini menyetir mobilnya tanpa tujuan, hanya ingin mengobrol dan menghabiskan waktunya sehingga tak terpikirkan soal suaminya, soal Karina dan semua permasalahan juga kesibukan usahanya.

__ADS_1


"Apa dokter punya tempat makan yang enak di sini?" tanya Andhini sambil melirik dr Fadli di sampingnya.


"Jujur walau Aku tinggal lebih lama di sini dari Kamu Andhini Aku jarang keluar, Aku hanya ingin cepat menyelesaikan semua studiku dan kembali ke Indonesia dengan gelar kelayakan yang kubawa, dan sisa hari-hariku sibuk di rumah sakit ini membantu dosenku yang praktek di sini, jadi Aku tak punya referensi apa-apa." de Fadli tertawa kecil seakan merasa tak gaul.


"Jadi kita ke mana aja?"


"Ke mana aja!"


"Baiklah, sebenarnya Aku juga hanya mengira-ngira saja kalau ada tempat yang cocok untuk makan dan ngobrol kita berhenti di situ," sahut Andhini melambatkan kendaraannya.


"Andhini, apa kita akan di pandang salah jalan bersama seperti ini?" tanya dr Fadli di samping Andhini.


"Mungkin ya dan tidak, ya kalau kita sendiri menghianati diri sendiri, dan tidak kalau kita merasa ini tak salah!"


"Jawaban yang membuat Aku tenang."


"Karena Aku yang mengajak dokter, itu menurutku tak salah, tapi kalau Aku diajak dokter itu mungkin salah." Andhini begitu bisa berkelit.


"Sulit di bedakan!"


"Hehehehe..." kekeh Andhini, seakan melupakan problem rumahtangganya.


******

__ADS_1


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️



__ADS_2