
Erika mengerti sangat sederhana tuntutan Andhini sebenarnya, cuman bagi Radit semua itu susah di realisasikan karena Radit berpikir Karina sekarang lagi butuh perhatiannya, lagu hamil tidak ada seorang yang dekat dengannya setidaknya itu yang jadi pikiran Radit.
"Lo sudah makan belum? gue beliin ya?" tanya Erika menebak saja sepertinya Andhini belum makan.
"Boleh, sekalian sama lo juga ya!"
"Oke."
Erika takut kalau Andhini sampai sakit makanya di tawari makan, Erika tahu apa kesenangannya Andini karena sudah terlalu lama mereka bersama-sama mengerti satu sama lain kesukaan bahkan yang tidak di suka, makanan favorit keduanya.
Erika keluar mau membelikan makanan dulu memang dirinya juga merasa lapar, diingat ingat makan tadi siang sebelum menjemput Andhini. Erika berpikir Andhini mungkin sama sekali belum makan karena dirinya tidak tanya apa tadi siang makan apa nggak, terlalu sibuk ngobrol sama dr Fadli sepertinya lupa makan.
Erika meninggalkan Andhini yang kembali sibuk dengan laptopnya entah apa yang di lihatnya.
Andhini berpikir kalau seandainya Mas Radit tak mencarinya sungguh suatu yang sudah keterlaluan dan dirinya akan memperlihatkan sikap yang sebenarnya, tak terima mungkin akan protes keras dan memberikan sikap gak suka pada Mas Radit atau pisah sementara sekalian itu pilihan Andhini dan tak mau bertemu dulu barang beberapa waktu sampai Mas Radit menyadari kesalahannya dan memperbaiki diri.
Pintu ada yang membuka Andhini mengira Erika sudah balik lagi tak memerlukan waktu lama untuk memilih makanan yang mereka suka.
Andhini tak menyadari siapa yang datang di hadapan meja kerjanya dan menghampiri berdiri di depan mejanya.
"Lo beli makanan apa, kok sebentar banget?" Andhini bicara tapi matanya tak lepas dari layar laptop di depannya.
Raditya memandang Istrinya yang sibuk melihat dan membaca sebuah artikel dari layar laptop, perasaan bersalah ada di dalam hatinya.
Memang pantas Andhini tak mau pulang ke tempat hunian mereka lebih memilih menghabiskan waktu di tempat kerjanya apalagi sekarang tempatnya dibikin nyaman bisa untuk istirahat segala.
"Andhini .... kamu mau makan apa memangnya?" suara berat Radit begitu mengagetkan Andhini mengira sebelumya Erika yang datang habis beli makanan.
__ADS_1
Andhini melirik meneliti wajah dan penampilan Mas Radit yang begitu kucel, juga kumis jambang yang belum cukuran beberapa hari.
Andhini merasa jengah dan malas bicara dengan suami yang ada di hadapannya walaupun kedatangan Mas Radit di nantikan sebagai bentuk masih ada perhatian pada dirinya.
"Sayang sudah makan?" tanya Radit dengan senyuman seakan tiada apa-apa diantara mereka.
Andhini melengos malas bicara, walau tak tahu juga apa yang harus di jawab dari pertanyaan yang di ucapkan suaminya.
Andhini tak menjawab, juga tak memperlihatkan reaksi apa-apa, kembali pandangannya pada monitor walau sudah tak fokus lagi dengan apa yang di lihatnya.
"Dini! Aku bertanya apa kamu dengar?" tanya Radit sedikit membungkuk menurunkan badannya dengan kedua tangan diletakkan di meja di mana Andhini asyik dengan laptop.
Andhini memilih diam walau banyak kata sudah terkumpul di ujung lidahnya.
"Ya ampun, Andhini maafkan salahku, Karina juga salah tapi bicara lah, kalau kamu diam begini bagaimana cara Aku meminta maaf juga bisa memperbaiki diri?" ucap Radit tanpa di pinta telah mengucapkan permintaan maaf.
"Apa dengan cara pergi itu bisa menyelesaikan semuanya? mau kamu itu apa?"
Andhini balik menatap wajah Radit, meneliti dari ujung rambut sampai batas tubuh yang terhalang meja.
"Aku yang harusnya berkata maunya Mas Apa? kenapa kalau Aku sudah keluar dari hunian kita baru memperdulikan Aku? bertanya sudah makan kenapa baru sekarang? kenapa Mas tak bertanya malam tadi sudah makan? kemana Mas malam tadi dan malam sebelumnya? kemana Mas selama dua malam kemarin? apa sudah tak menganggap Aku ada?" jawab Andhini sekali menjawab membuat Radit diam.
"Andhini, Aku minta pengertian kamu, Karina sedang hamil dia dalam kondisi labil perlu teman sekedar ngobrol atau mendengar keluhannya," jawab Radit membela diri.
"Aku memang belum merasakan hamil seperti Karina, tapi semua itu bukan alasan keluar dari perjanjian, bukan alasan Mas Radit tak memperdulikan Aku, apa Aku juga tak butuh seseorang sebagai teman ngobrol? apa Aku juga bukan orang labil karena tidak hamil? apa Aku juga nggak punya keluhan karena tidak hamil? Mas punya waktu selama siang bersama dia! kenapa masih mencuri waktu untuk kebersamaan kita? Aku yang merancang semuanya kalian bisa bersama itu karena karena keikhlasan hatiku, kalau memang kalian sudah tidak bisa berkomitmen dengan janji itu terserah! Aku kembalikan semuanya Aku bisa berjalan sendiri!"
"Andhini, sabar. Itu semua salah faham Aku bukan bermaksud tak memperdulikan kamu, Aku merindukan kamu selalu, kita sekarang dalam situasi rumit tolong mengerti."
__ADS_1
"Aku merasa sudah tak dianggap ada, Aku yang menginginkan anak tapi sekarang Aku malah seperti seorang pengemis di hadapan Mas sama Karina! Kalian tak menghargai Aku lagi! pokoknya Aku benci kalian!"
"Astaghfirullahaladzim, Andhini Aku tak begitu Karina juga tak begitu, itu hanya kesalahan kecil kami minta maaf, dan kedepannya akan Aku perbaiki seperti semula lagi. Tolong maafkan Aku untuk yang selalu kita pulang sekarang ya."
"Aku sakit hati dengan perlakuan Mas, Aku nggak mau pulang Aku tidur menginap di sini! pulanglah hatiku masih belum bisa menerima semuanya."
"Dhini, jangan begitu semua akan baik-baik saja, tolong maafkan Aku, Ayo kita pulang sekarang tak baik tidur si sini seperti tak ada tempat istirahat lain kita bicara baik-baik, bukankah sebentar lagi semua usai kamu bisa punya Anak yang kamu dambakan."
"Aku telah salah, memilih jalan seperti ini. Ternyata Aku tidak setegar dan seikhlas yang Aku pikirkan sejak awal apalagi sekarang di tambah dengan tidak konsekuen kalian dalam menjalankan perjanjian itu, pokoknya Aku kecewa."
"Andhini sudahlah jangan bahas penyesalan sekarang yang kita hadapi adalah kenyataan tak akan ada habisnya kalau kita berpikir ke belakang, kita perbaiki ke depan bersama-sama Aku meminta maaf juga minta maaf untuk Karina."
Andhini diam datang Erika yang menahan langkahnya saat tahu Mas Radit sudah datang tak ingin mengganggu perdebatan mereka.
"Kita pulang sekarang ya? Aku akan perbaiki semuanya, tapi tolong maafkan juga Karina dalam hal ini."
"Kenapa Mas selalu meminta maaf untuk Karina? sedang dia sendiri belum pernah meminta maaf padaku atas semua tindakannya, kenapa dia tak mengingatkan Mas kalau bukan saatnya bersama Mas? seakan semua itu biasa saja malah kelihatan bangga mencuri waktu yang bukan miliknya!"
"Andhini kamu perlu memaafkan dia karena dia adalah Ibu dari anak kita nanti, semua itu tak bisa di pungkiri selamanya kita akan ada ikatan bersama dia."
"Tapi bukan untuk bersama Mas selamanya, ingat ikatan kalian akan berakhir kurang dari empat bulan lagi."
"Aku mengerti Andhini, sudah sekarang kita pulang, kamu nggak ganti baju sejak pagi berangkat. Ayolah jangan begitu semua akan baik-baik saja."
*****
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️
__ADS_1