Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Curhat pada Rai


__ADS_3

Tanpa di sangka sama Andhini Radit balik menatap Andhini sambil berkata dengan dingin.


"Berangkat saja duluan nanti Aku menyusul, Aku masih mau bersama Karina dan calon Anak kami." Deg! ucapan Radit begitu menjatuhkan Andhini di depan Karina, kalau memang Mas Radit masih mau di sini kenapa tidak melarang Aku untuk menengok dan melihat Karina bersamanya?


Andhini merasa serba salah di hadapan suaminya dan Karina, kenapa Mas Radit harus bicara begitu tak sedikitpun Mas Radit menghargainya begitu juga Karina tak melarang suaminya dan membiarkan pergi karena datangnya juga sama Andhini. Sungguh situasi seperti ini begitu menyakitkan hati Andhini.


Terasa kemarahan Andhini mengganjal di hati dan dadanya, jelas suaminya kini telah berubah dari memperlakukan dirinya juga sudah tidak beretika. Tak sopan rasanya mau bersama Karina setengah mengusir dirinya, sakit rasanya dada Andhini.


Mas Radit telah merendahkan dirinya memamerkan kebahagiaannya bersama Karina. Andhini tak menjawab apapun lalu keluar dan menutup pintu dengan kencang dan berjalan tanpa melihat kiri dan kanan.


Aku pastikan akan merahasiakan kehamilanku ini, lihat saja! semoga ada sesal di hati Mas Radit telah memperlakukan dirinya begitu rendah! ada air mata dari sudut bola mata Andhini sampai di dalam lift baru Andhini mengusap airmatanya.


Sesal tinggal hanya sesal semua jauh berjalan tidak seperti harapannya, perjanjian yang dibikin dan ditandatangani semua tinggal perjanjian semuanya tidak berjalan seperti harapannya. Walau Andhini membahas sedetil detilnya isi perjanjian itu.


"Kak Andhini? kok sendiri, Kak Radit ke mana?" suara berat khas Rai saat Andhini keluar dari lift.


Andhini tertegun. Tubuh tunggi tegap menjulang di hadapannya, Andhini menggeleng sambil menyeka sisa air mata di pipinya, Rai melotot merasa tak percaya Andhini menangis lagi.


"Aku semalam dipanggil Kak Radit mungkin mau ada yang dibicarakan entah masalah apa, Aku disuruhnya ke sini pagi-pagi, apa Kak Radit masih ada di atas?" ucap Rahadian sambil mengerutkan dahinya menatap Kakak iparnya.


"Mas Radit masih di atas, tapi di kondominium Karina, sudahlah Rai ayo antar ke kantorku saja temani Kakak," ucap Andhini sambil menarik tangan Rahadian.

__ADS_1


Rai diam sambil berjalan berjejeran dengan Andhini.


"Kak, ada apalagi? bukankah semua sudah selesai dikira Aku Kak Radit sama Kak Andhini mau membicarakan tentang akhir masa perjanjian Mas Radit dan akhir masa nikahnya dengan Karina dan menyuruhku untuk memberitahukan kepada kedua orang tua kalau Kak Andhini sekarang lagi hamil sudah bulannya," ujar Rai seperti itu mungkin yang ada dalam pikirannya kenapa dirinya dipanggil sama kakaknya ke sini.


"Ssssst ... kita bicara sama ngobrolnya sambil sarapan saja Kamu belum sarapan kan? kita cari dimsum kalau nggak roti selai isi hangat apa aja yang kamu suka," jawab Andhini sambil tetap jalan dan Rai berusaha mengimbangi jalan Andhini yang agak santai.


Mereka mampir di salah satu gerai makanan yang pagi-pagi sudah buka karena menyediakan menu sarapan.


Andhini mau pesan makanan roti hangat panggang dengan selai kombinasi dan Rei juga memesan yang sama tetapi minuman mereka yang berbeda.


"Kami bertengkar lagi Rai, tapi bukan soal Karina, semua berawal dari saat Aku kemarin berbelanja Aku bertemu dengan dokter yang menangani program kehamilanku, di situ tanpa sengaja kami bertemu secara antusias dokter itu menyapaku dengan memelukku mungkin saking spontan nya. Jujur Aku katakan di antara kami tidak ada apa-apa kalaupun dokter itu punya perasaan padaku itu urusannya," ucap Andhini memulai ceritanya.


"Kebetulan saat itu Aku sedang berbelanja dengan Mas Radit, Mas Radit menunggu di cafe di samping pusat perbelanjaan itu. Mungkin Mas Radit melihat kejadian itu, permasalahan dimulai dari situ dia menuduh Aku berselingkuh dan berkhianat. Kami bertengkar hebat sampai rumah dan klimaksnya kami tidur terpisah dia mempertontonkan kemesraan dan kebahagiaan dengan Karina di hadapanku pagi ini Rai, saat Aku bersama Mas Radit melihat dan menengok keadaan Karina dan dia merendahkan Aku di hadapan Karina Aku yang datang bersama Mas Radit ke situ disuruh pergi sendiri dengan alasan ingin bersama Karina dan bersama calon bayi mereka."


"Kurang ajar tuh orang! sedikit juga tak menghargai istri sendiri, biar Aku susul ke atas dan Aku tinju mukanya Kak!" ucap Rai ikut emosi.


"Jangan Rai, biarkanlah mereka. Aku yang lagi butuh support dan bahagia Aku kasih tahu kamu duluan kalau Aku sekarang berhasil menjalani program kehamilan Aku sekarang positif hamil dan Mas Radit belum Aku kasih tahu sama sekali, Aku merasa Mas Radit begitu marah padaku. Aku merasa semua ini adalah mimpi Rai," ucap Andhini tersenyum sambil berlinang airmata.


"Ya ampuuuuun... Kak Andhini? benarkah itu? Alhamdulillah semua do'a terbaik Kakak, semoga sehat dan benar adanya Kakak hamil."


Mereka berpelukan, Rai mengusap-usap punggung Andhini sambil sama-sama bahagia.

__ADS_1


"Hebat ya! Kakak dan Adik ipar bisa se-akrab itu curhat lalu pelukan di ruang publik seperti ini, apa karena ini berada di Australia sehingga kalian sudah tidak punya adat ketimuran lagi? Haruskan Aku semakin tidak percaya padamu Andhini?" suara Radit telah membuyarkan perayaan kebahagiaan Andhini sama Rai, mereka melepaskan pelukan dan duduk kembali.


"Atas dasar apa kalian bisa seperti itu? kalian hanya sebatas Kakak dan Adik ipar tidak ada hak untuk saling bersentuhan apapun alasannya, kalian bisa menikah dan berhak untuk saling tertarik tetapi itu adalah kesalahan!" ucap Radit dengan sorot mata marah, tubuhnya menjulang di hadapan Andhini dan Rai.


"Kak, kami hanya berbagi kebahagiaan," jawab Rai sambil mempersilahkan Kakaknya duduk di hadapannya.


"Kebahagiaan apa yang kalian bagi dan bicarakan? kalian bahagia melihat rumahtangga ku begini? Aku tahu kalau Kamu itu punya rasa sama Kakak ipar mu sendiri Rai! Aku tahu itu tetapi Aku berusaha seolah tidak tahu dan tidak mengerti demi menjaga perasaan semua orang!" ucap radit seakan mencemooh alasan yang dikemukakan Rahadian.


"Kak! walau Aku akui Aku suka sama Kak Andhini tapi sebatas kagum atas segala yang dimiliki Kak Andhini terutama kemandirian, ketegaran, kesabaran, keikhlasan kedewasaan dan kebaikannya kalau soal fisik semua orang juga punya fisik yang bahkan lebih cantik dari Kak Andhini! hanya itu, selebihnya Aku ingin menjaganya sebagai Kakak ipar ku sendiri walau Aku harus menekan perasaanku sendiri. Aku tidak suka melihat Kak Andhini diperlakukan secara tidak adil sama Kak Radit! Apalagi sekarang semenjak Kakak menikah siri dengan Karina dan kini hamil, semakin mengabaikan saja Kak Andhini tak ada rasa keadilan," ucap Rai merasa punya senjata untuk memberikan seandainya Radit masih menyerang dengan kata-katanya.


"Rupanya kamu juga pantas di curigai Rai! sebegitu membela Kakak ipar mu itu? aneh sekali memang," ucap Radit sambil menghempaskan tubuhnya di kursi depan Rai Adiknya


"Aneh memang, karena Kakak ipar ku sendiri merasa tidak punya tempat untuk sandaran lagi, hanya untuk sekedar mencurahkan keluh kesah, Apa itu salah haruskah mengadu pada orang lain?" timpal Rai begitu kesal pada Radit


"Sudah! sudah! semua karena Aku, begini salah begitu salah semua di curigai sedang Mas Radit sendiri seakan tak perduli lagi padaku! Datang bertengkar dan berselisih paham tak ada sedikit juga pengertian!"


******


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi karya Author di bawah ini, baca like dan komen membangun ya! 🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2