Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Menginap di Supermarket


__ADS_3

"Gue sadar yang gue lakukan tak akan melebihi batas norma dan etika pergaulan, gue hanya pengen tahu reaksi Mas Radit saja kalau gue juga bisa dekat dengan laki-laki lain," jawab Andhini datar saja. Seakan ingin memperlihatkan kalau dirinya juga bisa melakukan apapun.


"Astagfirullah Andhini! itu salah gila di lawan gila lagi? lo manfaatin perasaan dokter itu, lo jangan sadis seperti itu padanya Andhini, kalau dia lo beri harapan bisa-bisa dia juga nekad bagaimana caranya dapatkan lo! apa nggak takut semua malah mendatangkan masalah baru?" semprot Erika menentang apa yang di ucapkan Andhini.


"Dia yang suka sama gue, tapi gue tak bermaksud serius, Dia tahu status gue sudah menikah, gue hanya konsultasi dan memanfaatkan fasilitas yang dia berikan itu aja, masalah dia suka sama gue itu masalahnya." jawab Andhini seakan dirinya bukan yang salah dalam masalah perasaan dr Fadli yang suka pada dirinya.


"Tapi lo bikin supaya Ms Radit sadar kalau lo bisa cari cowok lain itu yang salah Dhini, lo akan jadi orang yang munafik, di satu sisi lo mencintai suami tapi di sisi lain lo manfaatin perasaan dokter itu yang menyimpan harapan sama lo, gue lihat tatapan dia, cara bicara dan saat memandang lo begitu suka sama lo!" tutur Erika tak setuju dengan pandangan Andhini.


"Syukurlah dia suka sama gue!"


"Jangan begitu Andhini, suami lo seperti itu kamu yang mengarahkannya harus nikah sama Karina, kalau bisa dibilang dengan kasar lo sendiri yang memberi perempuan terhadap suami lo itu, tapi kini setelah semua berjalan tak seperti harapan jangan bikin tambah labil suami lo selesaikan satu satu masalah itu," tutur Erika ingin sedikit memberi pengertian kalau yang dilakukan Andini adalah salah bukan saatnya membalaskan sakit hati dan dendam tetapi menyelesaikan masalah dulu satu-satu.


Andhini diam.


"Andhini, sekarang ada masalah baru. Rahadian menangkap basah suami lo di kamar Karina apa lo sudah tahu? harusnya lo sendiri yang memberi pengertian duduk bersama sama Rahadian sebelum jauh salah faham terhadap Kakaknya sendiri." Erika memberitahukan apa yang pasti Andhini belum tahu.


"Apa? Rahadian menangkap basah Mas Radit sama Karina? pantesan Mas Radit cari Aku rupanya Dia pengen di bela di hadapan adiknya?" Andhini seakan berada di posisi yang menang.


"Andhini bukan soal itu, sebenarnya gue jujur tidak suka dengan cara Raditya memperlakukan lo seperti itu sebagai istrinya, seakan lebih pro pada Karina dengan alasan karena sedang hamil, tapi kalau sudah menyangkut salah paham dengan siapapun terlebih ini dengan keluarga semu perlu di luruskan," ujar Erika memberi pengertian.

__ADS_1


"Biar saja Mas Radit yang memberikan pengertian sama Rahadian seperti apa caranya itu terserah dia." ucap Andhini ketus, kelihatan banget kalau Andhini begitu kesal sama suaminya.


"Tapi lo juga harus ikut meluruskan! semua ini masalah kalian berdua! pokoknya jangan berlarut larut kasih pengertian pada Rahadian biar dia mengerti Kalau kakaknya Raditya sudah menikah sama Karina walaupun siri dan sekarang Karina sedang hamil." lanjut tutur Erika berharap Andhini melunak mau kembali sabar dan selesaikan masalah.


"Gue terlanjur sakit hati pada mereka, gue seakan telah kehilangan suami Rika, gue seakan sudah kehilangan yang namanya Mas Radit dari hidup gue, saat ini yang gue rasa sekarang gue bukan siapa-siapa lagi bagi mereka, mereka sudah tidak memperdulikan gue lagi, tidak menghargai adanya gue, mereka berjalan dengan keinginan sendiri tanpa memperdulikan perjanjian yang telah dibuat dan disepakati, ditandatangani bersama, gue merasa jadi orang bodoh yang mengharap belas kasihan mereka akan diberikan hiburan seorang anak," tutur Andhini dengan suara parau menahan sesak dalam hatinya.


"Lalu apa yang lo inginkan sekarang? bubar semuanya? berantakan semua rencana? lo juga mau main gila sekalian? sudah punya dokter tampan yang begitu suka sama lo itu? Andhini! lo tidak harus kehilangan segalanya menurut gue cukup perbaiki. Kalau mengikuti kata sakit hati sejak awal juga gue sudah tekankan pada lo apa lo siap berbagi suami?" tukas Erika dengan segala uneg-unegnya


"Aaaah ... gue pusing banget Rika! pokoknya gue nggak bisa berpikir! terserah maunya Mas Radit gimana, terserah si Karina maunya apa, juga terserah Rahadian memandang Kakaknya atau memandang gue gimanapun dan gue juga mau lakuin apa-apa juga gimana gue saja! gue nggak mau bertemu siapapun!"


Erika diam, bukan saatnya diskusi. Semua serba salah kalau kepala masih panas, Andhini sedang marah tak bisa menerima paham apapun, harus tenang dulu dan dingin dulu baru bisa bicara apa yang terbaik di lakukan.


"Gue nginep di supermarket malam ini!"


Erika menjalankan mobil dengan perlahan tak bicara apapun lagi, sibuk dengan stir dan jalan yang akan di laluinya.


Begitu juga juga Andhini kelihatan begitu lelah, memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya di jok sandaran.


Erika merasa prihatin dengan semua yang Andhini alami, semua permasalahan yang ada begitu menguras pikiran dan perasaannya.

__ADS_1


Suami yang menjadi sandaran utamanya seperti berpaling, dan Adik ipar tempat curahan hatinya juga sekarang tahu masalah yang seharusnya bukan aib tapi mungkin Rahadian sudah keburu punya pandangan negatif sendiri pada Kakaknya, semua perlu penjelasan dalam hal ini Andhini yang harusnya memberi pengertian.


Pantas Andhini merasa nyaman dengan dokter itu yang kelihatan begitu suka sama Andhini, terlihat begitu perhatian dan Andhini menyambutnya juga karena hatinya sedang kosong kasih sayang.


Mobil sampai di halaman supermarket, umbul-umbul sudah terpasang, papan nama supermarket masih di tutup kain, di pintu sudah ada balon dan pita yang masih di ukur-ukur sama pegawainya yang ramai mendandani, Andhini mengucek matanya dan melirik Erika di sampingnya.


"Turun yuk, lo masih bisa istirahat di kantor kalau masih mau istirahat dulu," ucap Erika membuka seat belt.


Andhini mengambil jaket panjangnya, juga tas di sampingnya lalu turun, tanpa di sadari perjalanan yang hanya beberapa menit tadi dirinya sempat ketiduran.


Berjalan dengan tergesa masuk dari pintu samping diikuti Erika Andhini merasa capek tapi senang melihat semua hasil perjuangannya, dan besok semua akan di buka untuk umum.


Andhini merancang dan menata ada kantor dan tempat istirahat sebagai pusat pengendali semua supermarket dan minimarket nya dari sini, Ada meja khusus buat Erika sebagai supervisor atau lebih tepatnya asisten pribadinya.


******


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2