
"Andhini! semua tak di sengaja, tak seperti kamu perkirakan. Semua tanpa sengaja tadi Karina bertemu Rahadian di jalan habis beli makanan, karena Karina merasa khawatir mendengar Aku sakit di sini. Aku memang sakit, tadinya juga mau istirahat di sini, Karina hanya menengok jangan salahkan dia!" ucap Radit menghadang di hadapan Andhini sama Erika yang masih berdiri di dekat pintu.
Kelihatan banget Radit ingin membela Karina di hadapan Andhini sama Erika walaupun Andhini tahu semua tidak akan terjadi pertemuan mereka di tempat huniannya kalau tidak kedua-duanya saling ingatkan.
"Aku tidak menyalahkan siapapun di sini, Aku malah menyalahkan diriku sendiri. memang mungkin Aku sudah tak pantas lagi datang ke tempat ini!" ucap Andhini sambil berbalik badan lalu keluar.
"Andhini, Aku terima salah, menerima Karina di tempat ini tetapi masa iya orang mau datang menengok Aku halang-halangi?" ucap Radit berusaha membela diri lagi mengatakan apa yang sebenarnya.
"Sudahlah Mas! Aku capek, Aku hanya ingin introspeksi diri apa semua yang kita lakukan ini adalah terbaik untuk masa depan kita atau tidak? mari kita sama-sama berpikir sebenarnya tujuan kita apa, dan untuk apa?" jawab Andhini sambil keluar tak menghiraukan panggilan Radit dan tangannya yang menggapai.
Andhini bergegas jalan berlari kecil dan Adrian berusaha mengejar.
Andhini tak menengok lagi, tak ingin berdebat lagi, semua sudah tak ada artinya lagi, dalam hatinya ingin pergi sejauh mungkin tanpa bisa bertemu dengan Radit suaminya ataupun Karina saat ini.
Erika menguntit keluar juga tanpa bicara sepatah kata pun hanya melihat suguhan pertentangan dan permasalahan sahabatnya Andhini di depan matanya.
Erika merasa semua masalah berpusat pada persoalan suami istri yang sesungguhnya bisa di selesaikan dengan kesadaran keduanya, kalau mau menyelesaikannya, tapi kalau mau menambah parah mungkin juga mudah, semua tinggal memercikkan api setiap waktu pasti membuncah amarah siapapun mau Andhini ataupun Radit.
Sungguh dilema berkepanjangan masalah sahabatnya ini, belum lagi Karina melahirkan pasti akan menyita lebih banyak lagi waktu Radit untuk menemaninya, paska melahirkan kontan pasti kebersamaan sama Andhini yang sejak kemarin sekarang dan selanjutnya semakin tidak ada saja.
Radit berusaha mengejar, tapi Andhini setengah berlari menghindari dan meninggalkan Radit yang masih bicara dan memanggil namanya.
Sepanjang lorong hanya jadi tontonan warga penghuni masing masing ruangan dari penghuni sebagian kondominium yang sudah pada pulang, Andhini dan Radit tak perduli.
__ADS_1
Erika tak bisa mengejar juga, saat Andhini masuk lift duluan dan menutupnya. Akhirnya Erika berdiri depan pintu lift sama Radit dengan nafas sedikit tersengal.
"Rika, Aku sungguh serius tak sengaja semua kejadian ini, bukan Aku yang sengaja mengajak Karina ke sini, Aku hanya bicara sama Kamu karena Aku bicara sama Andhini sudah tak di gubrisnya lagi," ucap Radit bicara sama Erika, karena hanya Erika yang ada di situ.
"Aku melihat tak akan bertemu penyelesaian Mas, semua permasalahan sudah komplek, kenapa sih Mas begitu mempertahankan Karina? bukankah menikahi Karina itu demi rumah tangga Mas Radit sama Andhini terjaga selamanya? tapi sepertinya Aku melihat sekarang permasalahannya sudah beralih, benar yang Andhini katakan Mas Radit sudah tidak memperdulikan Andhini lagi, jadi Aku hanya bertanya satu hal sama Mas Radit mau seperti apa rumah tangga bersama Andhini? itu aja pertanyaan Aku sangat sederhana memang," ucap Erika membuat Radit diam.
Radit tak mampu menjawab, bahtera rumah tangganya sampai saat ini telah hampir karam, tak mampu menahan ombak dan gelombang dan cuaca yang menderanya.
"Coba Mas pikir dengan hati yang tenang jangan emosi dulu, Mas Radit menikah sama Karina atas izin dan restu keikhlasan Andhini tapi kenapa sekarang Mas begitu menyakiti hatinya? begitu menusuk hatinya tak memberi waktu kepada Andhini untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang suami, tanggung jawab waktu yang seharusnya Mas lakukan dengan adil, perasaan Andhini tidak menuntut apapun!" ujar Erika setengah Emosi berdiri di depan lift menatap Radit.
"Aku itu hanya memberikan waktu sedikit lebih buat Karina karena Dia sedang hamil Rika! kenapa semua begitu dibesar-besarkan?" ucap Radit tetap merasa itu wajar baginya.
"Mas, pokoknya Andhini menginginkan seperti itu, dan Mas Radit maunya seperti itu jadi kapan semua itu selesai? berlakulah Adil, tapi kalau merasa tak mampu buang istri siri itu! jangan salahkan Andhini kalau berpaling seperti Mas Radit yang telah menyia-nyiakan nya demi seorang Anak dari seseorang yang tidak jelas seperti Karina!" ucap Erika sambil memijit tombol lift.
Erika menarik kembali tangannya, dan menatap tajam muka Radit.
"Ya, memang semua dari ide Aku yang hanya bercanda sama Andhini soal menyuruh berbagi suami demi seorang anak, lalu semua Andhini coba dengan mengorbankan perasaanya sendiri, sepertinya ada yang salah Andhini memilih seorang Karina yang kenyataannya sekarang seperti ini. Andhini dan Aku telah salah besar, mengangkat derajat Karina sendiri dari seorang yang bukan apa-apa lalu Andhini mensejajarkan Karina menjadi sama seperti dirinya, memberi fasilitas, kompensasi bahkan bonus, seorang pelayan memang harusnya melayani, bukan sebagai seorang istri!"
Erika menunjuk dada Radit seperti mewakili sakit hati Andhini.
Radit mengatupkan giginya, menahan marah.
Seperti tak rela kalau Karina yang mengandung Anaknya kini di rendahkan.
__ADS_1
"Berkaca dulu, introspeksi diri, lalu minta maaf sama istrimu dan berdoa semoga Andhini istrimu memberikan maaf buat Mas Radit juga Karina!" ucap Erika sambil masuk ke lift yang terbuka. Membiarkan Radit sendiri masih dengan emosinya.
Semua orang menyalahkan dirinya, semua orang memandangnya salah, Apa memang semua tindakanku tak ada benarnya?
Radit berjalan ke arah hunian Karina dengan langkah panjang, tanpa mengetuk pintu Radit membuka pintu lalu berdiri di tengah tengah pintu memandang Karina yang sedang membereskan tempat tidurnya.
Karina menghentikan kegiatannya dan menyambut Radit dengan senyuman khasnya, lupa semua yang baru saja terjadi di tempat tinggal Radit, dengan Nyonya Andhini juga Erika.
"Karina, sebaiknya Aku seperti apa baiknya menurut kamu?" tanya Radit sambil duduk di sofa.
"Mas, Aku tidak tahu Aku menerima saja apapun yang Mas Radit putuskan, tapi setidaknya Aku ingin tetap bersama sampai Anak ini lahir." ucap Karina sambil duduk di samping Radit dengan menunduk.
"Baiklah, jika itu permintaanmu. Kita akan menyelesaikan kontrak dan perjanjian ini sampai tuntas. Aku akan mencarikan seseorang yang menemanimu saat Aku tidak bisa bersamamu, yang akan melayani saat kandungan mu semakin besar." jawab Radit seperti berkomitmen dengan Karina.
"Mas Radit memang mau ke mana?" tanya Karina berusaha mancing Radit bicara jujur.
"Aku tak akan kemana-mana, hanya demi menjaga kamu saja saat Aku tak ada bersamamu, mungkin Aku akan sibuk kerja atau lagi menjemput barang yang dikirim ekspedisi," jawab Radit berusaha menyembunyikan semua masalah dengan Andhini.
******
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️
__ADS_1