
"Andhini, maafkan Aku. Aku tak bisa menyakiti kamu ada janji suci dalam pernikahan kita." Radit berusaha meyakinkan Andhini lagi dan lagi atas semua keinginannya yang di rasa Radit begitu berat.
"Tolong Mas, dipikirkan lagi semua permintaanku, itu Aku yang meminta bukan Mas Radit bukan keinginan Mas, Mas tidak menyakiti, Aku tidak memerlukan jawaban sekarang pikirkan dulu pertimbangkan baik buruknya baru kita bicara lagi." Andhini begitu bersikukuh pada pendiriannya karena dirasa itu adalah satu jalan keluar yang paling baik, juga ada hak seorang laki-laki menikah kembali dengan adanya alasan.
Jelas alasan Andhini ingin Mas Radit punya keturunan yang akan menjadi generasi seterusnya, walau itu bukan dari rahimnya.
"Ah Andhini, kenapa kita jadi begini Sayang? Kamu tahu Aku begitu mencintai Kamu Aku tak ingin merubah rasa itu atau membagi rasa itu dengan yang lain terpaksa ataupun tidak Aku hanya ingin kamu yang memiliki Aku," jawab Radit merasa tak akan sanggup.
"Aku juga nggak mau kehilangan kamu Mas, semua ini aku lakukan karena aku juga terlalu mencintai Mas Radit." Andhini mengusap dada suaminya yang mengenakan piyama dengan kancing terbuka.
"Kalau Kamu begitu mencintai Aku kenapa Kamu begitu rela, dan merelakan Aku untuk berbagi?" Radit merangkum muka istrinya dengan mengusap usap kedua pipinya. Memandang dalam mata yang selama ini memberi kedamaian di hatinya.
"Karena ada keikhlasan demi kebahagiaan untuk masa depan kita."
"Baiklah, Aku akan pikirkan dulu semuanya baru kita bicara secara serius Aku harap kamu juga berpikir lebih pakai logika lagi jangan hanya mengikuti emosi sesaat, pikirkan dampak juga baik buruknya bagi keluarga besar kita di Indonesia."
"Makasih Mas Radit Sayang, Aku mencintaimu." Senyum Andhini di rasa Radit begitu menoreh hatinya, bagaimanapun dirinya ingin membahagiakan istrinya tetapi sudah tepatkah melakukan hal seperti yang diinginkan istrinya saat ini?
Radit begitu meragu akan sanggupkah Andhini menjalani semua rencananya? juga dirinya sendiri sanggupkah berpaling dari istri tercintanya?
Mereka berpelukan dengan penuh keharuan seakan tak ingin sesuatu terjadi dalam kehidupan mereka, seakan tak ingin sesuatu merubah perasaan mereka satu sama lain.
Raditya dengan membabi buta menciumi istrinya seakan yang barusan mereka bicarakan adalah suatu mimpi buruk belaka yang semua akan berlalu begitu saja.
Cinta yang selama ini mereka bangun sejak dari awal berpacaran sampai sekarang menikah tak pernah ada permasalahan yang serius. Semua mereka hadapi berdua dengan diskusi dan penuh kasih sayang, tetapi kenapa kali ini begitu banyak masalah yang menghampiri mereka.
Tak ingin Radit kehilangan orang yang paling dirinya sayang, Andhini orang yang juga dicintainya sepenuh hati sebagai yang pertama dan untuk yang terakhir dalam hidupnya kebahagiaan memiliki Andhini adalah satu anugerah dalam kehidupannya ternyata bagi Andhini tak cukup seperti itu.
__ADS_1
Dalam kenyataan dan fakta yang ada tetap menuntut lebih dari sebuah pernikahan dan rumah tangga yakni seorang anak bagaimanapun caranya.
Raditya yang begitu menjaga perasaan Andhini sekarang dihadapkan pada keinginan istrinya yang dirasa Raditya itu akan menyakiti istrinya sendiri, betapa tidak dirinya akan menikah dengan seseorang, sah secara agama, akan menggaulinya akan sanggupkah dirinya menjalani? juga Andhini sendiri benar-benar rela demi seorang anak?
Apa selesai semuanya dengan menikah kembali? bagi Raditya di rasa itu masalah baru yang akan di mulai dalam rumah tangganya, Radit merasa semua tak akan semulus seperti yang di banyangkan Istrinya.
Semakin membayangkan semua situasi yang tidak diinginkannya, Raditya dengan tangan kekarnya menarik tubuh Andhini. Sekali tarik badan istrinya wajah mereka begitu tak berjarak lagi Radit mengungkungnya dengan penuh emosi dan gairah.
"Aku akan memberimu kepuasan setiap waktu, agar kamu bisa berpikir mengurungkan niat kamu menyuruh Aku menikahi perempuan lain, sehingga kamu mengingatnya dan tak merelakan Aku di pelukan perempuan lain."
"Ma-Mas." Mulut Andhini tak bisa menjawab dan berkata-kata, keburu mulut suaminya membungkam dengan ciuman panasnya.
Raditya semakin menggebu mencium leher dan bibir Andhini dengan tanpa begitu menghiraukan Andhini yang mau bicara entah apa. Radit tak perduli saat ini hanya ingin memuaskan dirinya dan istrinya.
"Mas, pelan dong."
"Mas, bisa lebih lembut sedikit? itu menyakiti Aku Sayang."
Dengan rakus Radit menjelajah muka, leher dan dada istrinya, Andhini merasa takut ini kemarahan yang baru dirinya lihat dan rasakan selama ini.
Belum pernah Mas Radit berlaku kasar seperti ini mencium dengan kasar bahkan menggigit bibirnya, menjelajah dengan liarnya seperti ingin mencari kepuasan atau memberi kepuasan.
Seakan ingin membuktikan keperkasaannya Radit membuka dan melempar semua yang menutupi tubuh istrinya, dan menyergapnya seketika tak melepaskan dan memberi kesempatan Andhini memberi perlawanan.
Memacu hasrat dengan rasa emosi memang punya sensasi lain di rasa Andhini, suaminya begitu kuat dan perkasa, Andhini begitu takut kehilangan semuanya. Namun hasrat memiliki anak begitu kuat di hatinya.
"Mas!"
__ADS_1
Radit tak menjawab sibuk dengan nafas memburu, sesekali mencium leher dan menjelajah liar wajah cantik istrinya yang sesekali menggelinjang sambil meremas segala yang bisa di gapainya.
"Apa kamu akan rela kehilangan momen ini? apa kamu rela membayangkan Aku melakukan ini dengan perempuan lain?" suara parau Radit di sela pacuannya.
Ada air mata di pelupuk mata Andhini mulai mengembang, setetes air mata hangat jatuh di mukanya, airmata suaminya yang tak ingin berbagi.
Keinginan yang ingin di raih mungkin tak akan seindah dalam bayangan, Banyak hal yang tidak di perkirakan se-rapi mungkin rencana kita pasti ada saja kekurangannya.
"Tolong jangan ucapkan itu Mas, Kamu tahu perasaanku. tapi demi masa depan kita demi orangtua kita juga demi harapan kebahagiaan, Aku akan berusaha menerima," ucap Andhini lirih.
"Baik, siang besok kita bicara serius, Aku ikuti keinginanmu asal demi kebahagiaan jika itu cara kamu merasa tak ada jalan lain lagi."
"Mas?"
"Hemght ...."
Radit berusaha menuntaskan semuanya, desa*an Andhini dan pegangan di kedua tangan suaminya sesekali usapan ke dada dan muka begitu membangkitkan gairah Radit.
Erangan panjang saat puncak kenikmatan keduanya capai menyisakan peluh yang membasahi tubuh keduanya, beradu pandang dalam nafas yang tersengal dengan tangan saling belai lalu mereka berpelukan.
Begitu lama mereka berpelukan berdua merasa tak ingin melepaskan tak ingin merelakan harus ada orang lain di antara mereka.
Malam semakin sunyi walau di luar begitu hangat, di bulan musim panas yang akan mereka lalui dalam pergantian musim yang baru mereka jalani.
"Mas?"
"Ssssst ... besok kita bicara, sekarang istirahat tidurlah!"
__ADS_1
*****