Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Bimbang


__ADS_3

Andhini mengetuk pintu kamar Karina dan lama tak dibuka, Akhirnya Karina muncul sudah berganti pakaian.


"Kamu nggak apa-apa kan Rina?"


"Oh, nggak Nyonya. Aku baik-baik saja," jawab Karina sambil membetulkan pakaiannya.


"Mari, Aku tunjukkan kamarmu," ucap Andhini sambil meneliti muka Karina yang menunduk.


"Aku di sini saja Nyonya, nggak apa-apa." sanggah Karina menatap wajah Andhini.


"Mulailah adaptasi dengan keadaanmu Karina, Aku menghargaimu seperti Aku menghargai diriku sendiri. Tolong jangan menolak ku semua fasilitas yang akan Kamu terima itu bagian dari perjanjian Kamu sendiri, kalau kamu menolak berarti sama saja dengan bertolak belakang dengan apa yang kamu tanda tangani kita bicara di dalam soal transfer sebagai bukti keseriusanku, ikut Aku!" Terdengar seperti perintah yang tidak bisa ditolak atau disanggah dengan alasan apapun akhirnya Karina mengikuti Andhini ke dalam ruangan rumah.


Andhini menatap Karina dengan lembut, "Bikinkan Mas Radit minum dulu Rina," ucap Andhini saat melihat Karina hanya berdiri.


"Sama Nyonya juga?"


"Tidak usah kalau mau Aku bikin sendiri, seperti biasa kan Mas?" tanya Andhini pada Raditya di dekat pintu masuk kamarnya.


"Hemgh …." Radit hanya mengiyakan dengan suara pendek dan anggukan sambil matanya tetap pada ponselnya.


Andhini masuk kamarnya dan Karina berjalan ke belakang menuju dapur.


Radit menghela nafas dalam-dalam, kenapa dirinya dihadapkan pada kenyataan seperti ini? Begitu dilema dan serba salah walau dirasa tidak dalam tekanan istrinya, memang tak ada jalan lain selain dirinya harus mencoba dengan wanita lain setelah dengan Andhini istrinya sampai saat ini belum menunjukkan hasil.


Yang Radit belum sepenuhnya terima kenapa Andhini begitu rela? Apa perasaan cintanya masih untukku?


Apa Aku akan tega tidur dengan wanita lain di dekat dia berada?


Terkadang semua serba aneh, keinginan Andhini istrinya terasa begitu aneh tetapi bagi Raditya sebagai laki-laki menikahi seorang perempuan lain atas izin istrinya adalah satu tantangan juga walaupun perempuan itu adalah rekomendasi dari istrinya sendiri atas pilihan istrinya sendiri atas seleksi istrinya sendiri.

__ADS_1


Seperti sekarang ini Radit begitu tak bisa bersikap harusnya seperti apa? tidur bersama Karina yang baru saja dinikahinya? atau tetap bersama Andhini istrinya?


Memiliki istri dua jauh di dalam pikiran Raditya begitu sulit menjalaninya apalagi sekarang dirinya Andhini dan juga Karina masih berada di Indonesia sepertinya Andhini menginginkan aturan itu akan berlaku saat mereka sudah di Australia.


Sedangkan mereka di Indonesia masih punya waktu dua hari dua malam lagi. Bagaimana Radit akan menjalani semuanya dan semua itu akan Radit kembalikan kepada istrinya seperti apa keinginannya.


Andhini menemani Karina membawa semua pakaiannya ke dalam ke kamarnya, seperti keinginan Andhini dirinya tak ingin memberi jarak antara dirinya sama Karina, Andhini memposisikan Mas Radit adalah suami bersama mereka harus akrab dan bisa bisa bicara dan bergaul layaknya seorang suami istri walaupun dalam batas waktu yang ditentukan.


Andhini sudah matang dalam berpikir dan mengambil keputusan, mempersiapkan diri dan mentalnya juga menghadapi situasi dan saat seperti ini akan datang dalam rumahtangganya. Siap mengubur rasa cemburunya rasa sakit hatinya dan semua rasa kehilangan Mas Radit dari sisinya saat mereka akan bersama.


Tak adil bagi Andhini tak memberi kesempatan pada Mas Radit dan Karina kalau tidak merasakan malam pertama mereka, bukankah itu yang selama ini andi diharapkan dari rencananya Biar mereka bisa bergaul menjadi suami istri dan bisa menghasilkan buah dari hubungan mereka.


"Rina kita duduk dulu di sini yuk!" ajak Andhini setelah Karina memindahkan pakaiannya ke lemari di dalam kamar depan lantai bawah.


Karina manut duduk di satu sofa yang terpisah.


Radit menyimpan ponselnya dan mengusap rambut Andhini.


"Aku begitu mengagumi keberanian Kamu Sayang, Dari kemarin-kemarin Aku sengaja tidak banyak bicara karena Aku hanya ingin menguji semua yang kamu harapkan dan yang kamu inginkan itu benar adanya? dan ternyata semua keinginan kamu itu begitu kuat, Aku menghargai pengorbanan kamu dan Aku sebagai suami juga laki-laki tidak ada yang bisa Aku lakukan selain mengikuti dan menjalani semuanya yang telah menjadi tanggung jawabku Aku memiliki dua istri semua harus Aku jaga."


"Makasih Mas."


"Karina, Kamu bisa memanggilku sesuka senyaman hati kamu."


"B-baik Tuan."


"Rina, sekarang Aku transfer ke rekening Kamu sebesar 1M, malam ini Aku akan meminum satu pil tidur, Mas Radit sama Rina biar bisa lebih akrab lagi. Aku ingin istirahat dalam tidurku, bangunkan Aku saat pagi setelah kalian berdua bangun duluan," ucap Andhini sambil membuka satu tablet pil tidur dan langsung meminumnya di hadapan Radit dan Karina.


"Andhini!"

__ADS_1


"Nyonya."


"Kamu tidak usah seperti ini Sayang, Aku hanya akan menjalani semuanya biasa saja."


"Lakukan dengan Karina Mas, Aku akan senang kalau Mas telah melakukannya, tapi malam selanjutnya hanya milik Aku, Mas bisa bebas siang Mas akan ada Karina yang menemani."


Andhini sedikit sempoyongan mau berdiri masuk ke kamarnya reaksi obat tidur begitu cepat merasuki syaraf dan pembuluh darahnya Andhini langsung begitu kelihatan ngantuk.


Raditya menangkap pinggang istrinya lalu memapah Andhini menaiki tangga dan masuk ke kamar meninggalkan Karina yang masih duduk bengong sendiri di kursi ruang keluarga rumah besar itu, lalu Karina masuk ke kamarnya yang di peruntukkan buat dirinya.


Andhini memang tak main-main dengan keinginannya, sampai rela mengalihkan pikirannya sendiri dengan meminum obat tidur. Biar suaminya bisa menikmati malam pertamanya bersama Karina.


Seperti tubuh yang tak bertenaga sampai kamar Andhini seperti di lemparkan dan tak bergerak lagi pulas dalam pengaruh obat tidur.


Raditya menatap dan menciumi wajah Istrinya yang sedang tidur, hatinya begitu tak tega dan begitu sesak dalam dadanya.


Lama Radit termenung memandang istrinya yang tidur dalam nafas yang begitu teratur.


'Sayang, Aku begitu mencintai Kamu, tapi kenapa Kamu menyodorkan semua ini ke hadapanku? Aku tahu kamu tak rela, sama seperti perempuan lainnya tak mau berbagi, tapi atas nama cinta dan harapan yang begitu besar Aku akan Berusaha menjalaninya, walau berat Aku rasakan.'


Radit malah berbaring di samping Andhini yang telah pulas sambil memeluknya. Namun kantuk tak kunjung datang sibuk dengan pikiran kacaunya.


'Haruskah Aku melakukan semuanya sekarang? Akh... Aku begitu tak akan bisa berkhianat, tapi Andhini begitu menginginkan semua segera terjadi, tapi Aku begitu dilema!'


Perdebatan di hati Radit tak kunjung usai dan tak menemukan satu keputusan, Akhirnya Radit bangun berganti pakaian dengan pakaian tidur.


Melongok ke arah Andhini yang masih tidur pulas dalam posisi semula, Radit membuka pintu kamar lalu keluar menutupnya kembali dan menuruni tangga dengan perlahan juga.


******

__ADS_1


__ADS_2