Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Damai dalam dingin


__ADS_3

"Siapa Mas?" tanya Andhini sambil memperhatikan tubuh kekar suaminya yang begitu ideal seorang laki-laki, Radit tanpa pakaian hanya memakai sedikit penutup tengahnya, berdiri di dekat meja rias di remang lampu tidur.


"Erika Sayang, ternyata sudah siang ini, mau bicara nggak?" jawab Radit memandang istrinya yang masih bergulung selimut di tempat tidur.


"Bawa ponselnya sini, takut ada yang penting," sahut Andhini sambil bangkit duduk bangun dari tidurannya dan tetap menutupi dadanya dengan selimut dengan satu tangannya menerima ponsel dari suaminya.


Radit memberikan ponsel dalam panggilan masih berlangsung dari Erika.


Radit kembali tiduran dan memasukkan tangannya mengusap kembali perut Andhini yang lagi duduk.


"Ya Rika, ada apa?" suara Andhini kedengaran malas.


"Harusnya gue yang tanya ada apa? ke kantor nggak hari ini?


nggak kasih kabar apapun pada gue apa lo baik-baik saja? gue yang khawatir semalaman takut lo kenapa-kenapa, masalah lo dan rumah tangga lo membuat gue nggak bisa tidur!" ucap Erika langsung bicara apa adanya.


Semalam Erika bingung terus saja berdiskusi dengan suaminya sampai malam apa yang seharusnya dilakukan tapi tidak menghasilkan poin yang dianggap lebih baik karena semua itu balik lagi kepada keinginan Karina seperti apa yang akan disampaikan pada Radit dan Andhini.


"Gue baik-baik saja, merasa malas untuk hari ini, gue istirahat satu hari lagi ya?" jawab Andhini sambil menguap.


"Nggak apa-apa terserah lo saja, tapi suamimu ke kantor kan? banyak banget pesanan yang sudah di rekap dan stok banyak yang kurang untuk beberapa minggu ke depan," ucap Erika merasa maklum kalau Andhini merasa malas, hamil muda memang maunya tiduran apalagi di temani suami, sudah pasti seprai nggak pernah rapi lagi.


"Mas Radit nggak tahu mau ke kantor apa nggak, kemungkinan nggak. Kita lagi menunggu kabar dari Karina dan ingin segera menuntaskan semuanya menyelesaikan permasalahan satu persatu sehingga tidak menimbulkan kegelisahan pada semua orang," ucap Andhini sambil menahan tangan Radit yang merambah ke sana ke mari.


"Kok kemungkinan? apa lo nggak tanya suami lo? ke kantor apa tidak? bukankah lo satu tempat tinggal gimana sih lo?" tanya Erika seperti kedengaran menyindir.


"Kemungkinan nggak karena gue masih di tempat tidur! begitu juga Mas Radit terlalu dingin mau buka selimut," jawab Andhini sambil kaget melihat jam dinding perasaan begitu cepat waktu berjalan sudah jam sepuluh lagi di kira baru jam tujuh pagi.


"Oh, alah Nona! masih di tempat tidur? jangan jangan lo lagi tanggung sama suami lo, cuma gue ingatkan hati-hati main saat usia kandungan masih rawan, bisa juga lo berdua main di tengah masalah yang belum tuntas?" ucap Erika seperti tak habis pikir dengan Andhini juga Radit, sebentar berantem sebentar damai sebentar lagi cekcok dan sebentar lagi bermesraan, bahkan sebentar Andhini berpikir ingin berpisah saja, tapi saat ditelepon kini masih di tempat tidur berdua romantika rumah tangga Andhini dan Raditya begitu aneh di pandangan Erika.


"Ya sudah nanti gue sampaikan sama Mas Radit," jawab Andhini mengakhiri percakapannya dengan Erika.


"Mas kerjaan di kantor lagi banyak, stok barang pada habis masuk sana perasaan Aku lagi malas," ucap Andhini sambil menaikkan selimut, tapi Radit bukannya bangun malah masuk ke selimut lagi dan sama menutup badannya dengan selimut sedada.

__ADS_1


"Aku akan suruh Rai saja semuanya Dia pasti bisa, kita berduaan saja hari ini sambil menunggu khabar Karina, Aku belum merasa tenang sebelum semuanya selesai dan mendengar apa keinginannya." jawab Radit tetap menciumi rambut istrinya.


"Mas!"


"Hemght..."


"Aku malas bangun," ucap Andhini begitu dekat di telinga Radit.


"Ya tinggal tiduran, emang kenapa?"


"Denger tadi kata Erika?"


"Apa?"


"Jangan terlalu kuat, jangan terlalu sering juga jangan banyak gaya, juga jangan terlalu ekstrim."


"Memangnya tadi Aku banyak gaya?"


"Aku lupa," jawab Andhini merasa lupa seperti apa yang diinginkannya, krena lebih menjaga perut dan kehamilannya.


"Maksudnya?"


"Aku hanya mau mengingatkan saja, kalau Kamu mau lagi, kalau nggak Aku tidur lagi," ucap Radit begitu senang melihat senyum di bibir Andhini.


"Iya, Mengingatkan boleh saja, habis ini kita bangun ya? terus masa mau tiduran seharian nggak bangun? apa nggak lapar?"


"Iya, ingat di dalam perutmu ada kehidupan yang butuh makanan dan asupan nutrisi penting," ucap Radit sambil tetap mengunci pelukan di perut Andhini.


"Ya sudah kita bangun yuk!"


"Sebentar lagi Sayang, aku masih kangen."


Tuh kan?

__ADS_1


"Asal jangan banyak gaya saja kan?"


"Ah, Mas lakukan dimanapun kapanpun Mas mau!"


"Andhini, Aku tahu itu kami ucapkan sejak kita menikah, lupakan semuanya kini hanya ada Aku Kamu dan cinta kita."


Merasakan pagi seperti ini sudah begitu lama mereka lewatkan, sejak kedatangan ke Australia saja kemesraan yang terbagi membuat semuanya tertahan.


Yang mereka hadapi hanya masalah dan pertentangan, Radit merasa masalahnya belum selesai bahkan mungkin akan menyisakan masalah yang akan panjang tetapi Radit merasa yakin kalau semua itu bisa dilewati berdua bersama Andhini, yang terpenting Radit dalam menyadari kesalahannya dan Andhini telah memaafkannya. Tinggal ke depannya memperbaiki diri lebih baik lagi dan setia kepada pasangan dalam rumah tangganya.


Mereka bangun jam 12 : 03 waktu yang sangat malas bagi mereka yang banyak kesibukan, tapi Andhini tak memperdulikannya karena selama datang ke Australia tak pernah merasakan sesantai siang ini.


"Apa rencana kita untuk Karina Sayang?"


"Kita dengar dulu apa keinginannya," sahut Andhini sambil melihat suaminya yang bertelanjang dada dan hanya memakai celana boxer saja, Andhini juga hanya memakai gaun tidur marun tipis tanpa pengaman dalaman, mereka duduk menikmati minuman hangat berdua di sofa sambil melihat di luar jendela kabut salju lumayan tebal.


Ruangan yang begitu dingin tanpa penghangat tapi berasa di dalam kamarnya begitu hangat di rasa Radit dan Andhini.


"Nih susunya jadi, tinggal nunggu roti pinggangnya," ucap Radit menyodorkan segelas tinggi susu vanilla pada Andhini dan sendirinya menyeduh kopi mix dengan capuccino ekstra.


"Mas pakai baju sana dingin! masa bikin makanan telanjang begitu?" ucap Andhini merasa malu.


"Kenapa? di sini hanya ada kita, kita ciptakan momen bulan madu kita dulu, apalagi kini kita di Australia belum pernah pergi kemanapun, hanya sibuk dan sibuk dan banyaknya masalah ke sini ke sini nya. Ingat nggak? dulu kita hanya berdua bulan madu di vila keluargamu, bangun saat lapar dengan pakaian begini seadanya," jawab Radit sambil duduk di samping Andhini dan melirik belahan dada istrinya yang begitu rendah.


Radit meraih tangan Andhini dan menaruh di pahanya yang banyak ditumbuhi bulu, seperti ingin memperlihatkan keperkasaan dan badan idealnya, Radit tahu Andhini suka dengan tubuhnya.


"Selesai semuanya Aku ingin pulang kampung, merasakan kedamaian di vila keluargaku, dan Aku ingin membesarkan anak ini di negeri sendiri bukan di sini, dimana tak ada pertentangan tak ada kebohongan hanya ada damai keluarga." ucap Andhini sambil tangannya mempermainkan sendok di gelasnya.


"Siapa yang akan meneruskan semua ini?" tanya Radit datar.


"Aku nggak perduli, Aku datang ke sini hanya ingin Anak, kini semua sudah di depan mata, jadi boleh kalau Aku merencanakan semuanya sejak dini."


*******

__ADS_1


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️



__ADS_2