Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Kemarahan Andhini


__ADS_3

Andhini sedang santai setelah mandi dan membersihkan diri di sofa setelah membereskan tempat tidur yang berantakan.


Radit melihat acara TV sepertinya tak ada channel yang cocok. Dan akhirnya TV di biarkan hidup begitu saja.


"Mas, coba sambung ke nomor kemarin siapa tahu nyambung kalau Karina telephon biar Aku yang bicara, banyak beban bagi kita juga, apalagi pada keluarga Karina mereka tahu kalau Karina ada di sini dalam tanggungjawab kita." Andhini bicara pada Radit yang sama habis mandi dan masih menggosok-gosok kepalanya dengan handuk.


Radit memandang Andhini dan berpikir sejenak benar adanya kenapa tak di coba? Radit ingin tahu kabar Anaknya dan segera bisa membawanya pulang.


Radit mengambil ponselnya dan mencoba menghubungkan ke nomor kemarin Karina menghubunginya.


Ternyata nyambung tapi tak langsung di jawab, sampai habis nada panggil tetap tak di jawab di coba lagi dan akhirnya di jawab juga.


"Halo, Mas Radit ya? ada apa Mas telepon?" jawab Karina sekaligus bertanya.


"Rina! Kamu itu di mana? maunya apa jangan bikin Aku juga Andhini cemas, bilang di mana nanti Aku jemput, kita tinggal selangkah lagi duduk bersama jangan sampai Andhini marah, bicaralah sama Aku!" ucap Radit dengan nada sedikit tegas.


"Mas, Aku memang salah mengambil langkah seperti ini tetapi itu karena Aku merasa sayang pada Anakku sendiri," jawab Karina seperti ucapan tanpa pemikiran.Alasan yang sangat biasa.

__ADS_1


"Rina, jadi mau sekarang apa? coba katakan padaku, Apa Kamu mau membatalkan semua perjanjian itu? Kamu mengambil langkah salah itu! apa itu hasil pemikiran sendiri dan sudah dipikirkan akibat yang akan Kamu terima? Kamu itu akan berurusan dengan hukum karena data segala macam perjanjian Kamu itu ada di Andhini, Aku juga pihak yang lemah di sini, jadi pulanglah kita duduk bersama sebaiknya langkah apa yang akan Kita ambil nanti, Kita putuskan di sini Aku akan mendengar keinginan Kamu Andhini juga akan seperti itu, dan Kamu bebas mengemukakan keinginan di sini Kamu mau seperti apa dan Andhini juga Aku akan memberikan keputusan seandainya kita bisa bicara dulu bersama kalau seperti ini tidak akan ada penyelesaian," ucap Radit bicara panjang.


Lalu ponsel Radit Andhini ambil alih dan suaranya di loud, jadi Andhini jelas mendengar Apa yang diucapkan Karina.


"Mas, sekedar gambaran keinginanku seperti ini, Aku rela memberikan Bayi ini pada Nyonya Andhini tapi Aku menolak untuk di cerai, sementara itu tuntutan Aku tapi seandainya itu ditolak akan ada tuntutan lain," ucap Karina dengan tegas merasa dalam pikirannya hanya Radit saja yang mendengar kata-kata itu.


"Oke Karina, ini Aku yang pegang ponsel dan mendengar pembicaraan dari awal, semua telah Aku dengar dengan jelas semua keinginan dan harapanmu dan untuk sementara jawaban dariku pulanglah dulu bahwa Bayi itu sehatkan dulu Kamu paska melahirkan Kita duduk bersama, Awalnya kita mulai baik-baik dan Aku sendiri tidak mau memaksakan keinginanku tidak ada kata lain selain kita harus berakhir dengan baik-baik pula. Pulanglah dulu kalau nggak sebutkan di mana tempat Kamu berada nanti Mas Radit sendiri yang akan menjemput tidak dengan Aku, Aku janji tidak akan lapor polisi asal Kamu datang ke sini kalau nggak Mas Radit yang jemput!" jawab Andhini tetap bicara lembut dan memancing Karina untuk datang dan pulang.


Kalau Andhini bicara langsung marah, juga pada inti permasalahan pasti malah Karina tak mau pulang dan bermusyawarah, bukan Andhini tidak bisa berbicara kasar berbicara yang menyakitkan untuk kepuasan hatinya sebenarnya Andhini juga bisa bahkan lebih kasar juga Andhini bisa perlakukan orang seperti itu.


"Halo! halo?"


Andhini mencoba menyambung kembali tapi nihil, ponsel di matikan.


"Hai Karina! betapa sombongnya kamu kini! dengan seenaknya meminta Anakmu di tukar dengan suamiku! perjanjian macam apa ini? memangnya Aku orang bodoh? kalau mau 100 anak 1000 anak bisa Aku adopsi setiap saat walaupun bukan dari darah daging suamiku dan satu lagi Kamu belum tahu Aku juga kini hamil Karina! Hidupku memang penuh dengan keberkahan disadari ataupun tidak keberuntungan tetap ada di pihakku Karina! Kita lihat saja siapa yang menang kali ini! sekarang Kamu boleh memutus telepon seenaknya akan ada saatnya Kamu menelepon Aku lihat saja nanti!" Andhini marah dengan semarah marahnya di hadapan suaminya, Radit baru tahu kalau Andhini yang lembut yang diam yang sopan ternyata bisa marah juga padahal yang Andhini marahi itu Karina entah berada di mana tetapi mungkin dengan seperti itu Andhini bisa melepaskan amarahnya sendiri.


"Sayang, sudahlah! jangan marah seperti itu, kenapa tadi Kamu bicara Aku kira Kamu mau mendengarkan saja dulu, sengaja Aku memancing Dia untuk memberitahukan tempatnya atau biar dia bisa datang ke sini kan Kita selesaikan semuanya."

__ADS_1


"Aku mulai tidak suka sama Karina yang begitu licik dan culas, bagiku tidak ada lagi istri kedua ataupun istri siri dalam hidupku! lebih baik Aku menjari janda daripada harus bermadu dengan seorang Karina, cukup perjanjian ini selesai sampai di sini dan berakhir apapun hasilnya dan satu kali lagi mulai sekarang Aku tidak cukup punya stok maaf buat Mas Radit seandainya Mas Radit bikin salah lagi dengan urusan Karina tidak ada nama kebesaran keluarga Mas Radit yang akan Anak ini sandang di belakang namanya," Andhini menunjuk perutnya sendiri.


Andhini seperti itu begitu capek mengikuti alur permasalahan yang berawal dari keinginannya memiliki Anak, terlalu lama memandang marah memendam kekecewaan gelisah dan ingin segera semuanya berakhir tetapi pada akhirnya kenyataan memberinya jawaban lain semua tidak tuntas seperti yang diharapkan.


Karina malah meminta tidak mau di cerai, tapi bagi Andhini suaminya adalah harga mati harga dirinya, Apalagi kini mas Radit telah menyadarinya dan telah kembali seutuhnya ke pelukannya mungkin dengan kesadaran sendiri setelah tahu karakter Karina yang begitu licik dan culas akhirnya kesadaran itu datang juga dengan sendirinya.


"Sayang, sudah! biar nanti kalau nyambung lagi Aku yang bicara, sampai Kita tahu maunya Karina menyelesaikan seperti apa, mau datang atau dijemput itu saja dulu. Jangan pikirkan yang lain nanti kita bicara sepuasnya setelah Karina berhadapan muka dengan Kita dan memastikan Bayi itu selamat dan sehat." Radit memeluk Andhini yang menangis karena marah dan kesal.


Tapi Andhini Masih kelihatan begitu tak tenang dan tegang Dia tetap bicara seakan Karina ada di hadapannya.


"Aku anggap Kamu itu layaknya Adik bagiku, kepolosan Kamu begitu membuat Aku jatuh simpatik tapi ternyata hati kamu begitu kotor dan busuk Kamu menikam orang yang memberimu rasa sayang, tapi malah memanfaatkan banget. Kalau semuanya akan begini apalah artinya perjanjian dan apa artinya Aku mengeluarkan kompensasi yang begitu besar?"


"Kita harus maklum Sayang Karina itu kurang berpendidikan dan tidak cukup bergaul," ucap Radit merasa telah salah juga.


"Ya, itu Aku maklumi tapi di belakangnya yang paling aku benci ada seseorang yang memberinya hati dan pembisiknya temannya itu!"


******

__ADS_1


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️



__ADS_2