
"Aku tak mau berdebat lagi, semua tak akan ada ujungnya, pokoknya dr Fadli adalah dokterku Dia yang memberiku semangat dan motivasi hidup dan harapan, Aku katakan sekali lagi kalau dia hanya dokter yang menangani Aku dan seorang sahabat baik," ucap Andhini sebenarnya mau mengakhiri perdebatan panjang dengan suaminya.
Tapi radit tak terima begitu saja rasa cemburu telah membakar emosinya, terasa Andhini Istrinya telah bermain api yang kini telah membakar hatinya.
"Begitu ya? mudah banget Kamu memberiku alasan biar Aku percaya, memang semudah itu Aku percaya dengan alasan yang Kamu buat? Aku tidak akan percaya sedikitpun Kalau kalian tidak ada apa-apanya, Akan Aku buktikan kalau kalian ada main! lihat saja nanti akan Aku buat perhitungan dengan dokter itu!" jawab Radit dengan muka masih berapi-api.
"Silahkan saja Mas buktikan, tapi kalau Mas tidak bisa membuktikan tapi Mas apa-apain dr Fadli Aku tak akan memaafkan Mas!" ujar Andhini sambil menarik selimut dan tidur dengan posisi membelakangi Radit suaminya.
"Segitunya ya kamu bela tuh dokter brengsek! Aku akan buktikan, enak saja alasan minta pisah ranjang tahunya kamu memanfaatkan dan merencanakan kebebasan Kamu selama ini, Aku berusaha mencari cara ingin menyelesaikan masalah kita tahunya Kamu sendiri yang bikin masalah!" ucap Radit kelihatan masih marah.
Andhini diam tak guna semua omongan dan pembelaannya, Radit duduk di tepi tempat tidur menatap Andhini yang diam dalam posisi tidur menyamping.
"Aku belum selesai bicara, jangan menunda masalah! sejak kapan Kamu kenal dokter brengsek itu?" tanya Radit sambil menarik selimut yang menutupi tubuh Andhini.
"Mas! berhentilah bilang brengsek pada orang baik seperti Dia, dia bukan seorang brengsek. Aku kenal Dia karena berawal dari menolongku saat Aku ketabrak sepeda di pagi buta waktu itu, apa salahnya kami kenalan apalagi dia seorang dokter dan menawarkan program bagus lalu Aku mencobanya hatiku senang dan enjoy menjalaninya." Andhini bangun duduk kembali menatap suaminya yang masih minta dirinya jujur.
"Aku nggak percaya Andhini hubungan kalian hanya sebatas dokter sama pasiennya, apalagi melihat kamu begitu senang, mulai saat ini Aku tak akan melepaskan Kamu apapun alasannya," ucap Radit kedengaran seperti ancaman.
"Tapi Aku masih ingin melanjutkan program ku, Aku merasa di rumah sakit itu semua berbeda, kita sekalian saja datang sana." Andhini memberi solusi perdebatannya.
__ADS_1
"Aku tidak mau! Aku sudah kepalang benci sama dokter itu dan hatiku masih belum percaya masih banyak rumah sakit di kota ini yang memberikan pelayanan lebih baik," jawab Radit jelas menolak mentah-mentah penawaran Andhini.
"Mas! rumah sakit itu berbeda, ada teknologi baru yang baru di terapkan di situ makanya Aku begitu optimis program di sana, pokoknya sama Mas ataupun tidak Aku tetap program di sana!" jawab Andhini tak kalah sengit dengan jawabannya.
Memang keinginannya begitu kuat karena ada motivasi yang membuat hatinya begitu optimis akan bisa berhasil, melihat hasil test tak ada sedikit juga keganjilan Andhini di nyatakan sehat dan siap setiap saat bisa hamil.
"Itu karena Kamu ada dokter brengsek di sana, semua selesai samapi di sini! kamu harus pindah atau tidak sama sekali!" ucap Radit tak memberi pilihan tapi vonis akhir.
"Aku masih punya banyak harapan, kenapa Mas begitu membesarkan masalah kecil? mematahkan semangatku saja apa Mas tak ingin punya anak dari pernikahan kita?" Andhini tak mengerti dengan jalan pikiran Mas Radit, kalau memang hanya karena alasan cemburu Andhini tak masalah, tapi jangan mematahkan semangat dirinya.
"Aku sudah mau punya Anak, dan itu akan menjadi Anakmu juga Andhini! kalaupun kamu tak punya anak itu bukan masalah buatku," sahut Radit seperti tak mengerti perasaan Andhini yang begitu mendamba hadirnya seorang Anak dalam pernikahan mereka walaupun bagaimana caranya Andhini mau menjalani sampai berani dengan ikhlas merelakan Mas Radit sendiri untuk menikah lagi.
Seharusnya Mas Radit sebagai suami menjadi orang yang paling mensupport bukannya malah mematahkan semangatnya.
Kini setelah dirinya punya semangat lagi tapi suaminya sendiri malah mematahkan semangatnya.
"Kenapa seakan tak penting bagi Mas? kita ikhtiar dulu sampai batas kemampuan kita jangan apriori seperti itu!" ucap Andhini.
"Aku tidak suka ada orang lain di dekat kamu, Aku akan mencari tahu siapa dokter yang berani memeluk kamu itu, ingat sebelum Aku tahu kalian hanya bersahabat Aku tak akan menyentuhmu Andhini!" ucap Radit masih duduk kadang berdiri di samping tempat tidur dimana Andhini sudah duluan ada di situ.
__ADS_1
"Mas memang keterlaluan! menuduh sekejam itu, buktikan apa mau mu silahkan saja bawa semua bukti padaku!" ucap Andhini kelihatan marah juga.
"Ya! akan Aku buktikan Andhini ini adalah ujian yang sebenarnya pernikahan kita Apa salah Aku menuduh Kamu seperti itu? Kamu yang ujung-ujungnya bikin semua masalah di rumahtangga kita bukan Aku!" ucap radit dengan sengitnya.
"Mas, Aku yakinkan kalau dr Fadli itu hanya sahabatku saja, Aku bersyukur bisa kenal Dia karena Aku merasa konsultasi pada Dia tumbuh kembali harapan yang tadinya sudah merasa bosan melakukan terapi dan cek kesehatan juga program kehamilan. Sudahlah jangan saling memojokkan yang faktanya Mas juga tidak bisa berlaku adil Aku sudah memaafkan kalau memang Mas sendiri mau berubah." Ucapan Andhini seakan mengingatkan kalau Radit sendiri memang gak lepas dari salah.
"Jangan jadikan Aku menikah dengan Karina adalah alasan! bukankah itu semua keinginanmu Andhini? tapi jangan lantas kecemburuan kamu membuat dirimu sendiri mencari seseorang pelampiasan sakit hatimu itu Aku jelas tak terima!" jawab Radit tetap dengan nada tinggi.
Andhini diam tak ingin melanjutkan debat yang tak akan menemukan jalan penyelesaian masalahnya. Jawab salah nggak jawab juga lidah dan bibirnya terasa gatal ingin memberikan pengertian dan pembelaan dirinya.
Melihat Andhini diam Radit mengambil bantal dan selimut lalu melemparnya ke sofa di ruang depan dan menghempaskan diri di situ.
Dalam ingatannya masih terasa segar kalau Andhini di tarik dengan perlahan dan di peluk sama dokter brengsek yang tadi sore Radit lihat sendiri lalu mereka hilang ternyata mereka. bicara di belakang kamar pas.
Saat itu Radit terasa emosinya melayang mendengar percakapan mereka walau Andhini kedengaran mengelak tapi Radit yakin mereka tak sengaja bertemu di situ dan mereka ada apa-apanya.
******
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️
__ADS_1