
Kelihatannya Andhini benar-benar marah. Radit tak menemukan cara bagaimana dia bisa bicara lebih lanjut tentang banyak hal karena Andhini hanya diam dengan memejamkan mata di atas sofa.
Radit merasa tak berani mengusik Andhini, serba salah jadinya kalau sudah begini keadaannya. Andhini istri yang sangat di cintanya, kehadiran di hidupnya tak bisa tergantikan, Andhini adalah jodoh yang sangat di setujui orangtuanya karena orangtua mereka adalah sahabat, walau perkenalkan mereka awalnya tanpa disengaja bukan karena persahabatan orang tua mereka.
Terbayang kalau salah satu orangtua mereka tahu permasalahan yang sekarang ada di hadapannya ditambah lagi dengan kesalahpahaman yang belum terselesaikan antara dirinya sama adiknya yang lagi liburan di sini. Rahadian yang pasti saat ini tengah berpikiran salah paham dan salah pengertian melihat hubungan Yang di luar kelaziman seorang suami beristri. Karena belum terselesaikan dan belum adanya kesempatan untuk menjelaskan duduk bersama antara Andhini Radit Rahadian serta Karina.
Sesekali Radit meliriknya tetapi Andhini tetap tidak memberikan reaksi apa-apa mungkin butuh waktu untuk bisa mencairkan suasana sehingga bisa berkomunikasi lagi dengan lancar.
Andhini selalu menjadi pemberi jalan keluar dari permasalahan yang ada selama ini, tapi semua itu dalam hal pekerjaan entah kalau masalah rumah tangganya dan masalah pribadi mereka.
Andhini mampu menyelesaikan semua permasalahan yang berbelit di tempat perusahaan kedua orang tuanya dan sekarang juga perusahaan orang tuanya dipimpin langsung sama Andhini walaupun dari jarak jauh.
Radit masih ingat tadi siang, tuduhan Rahadian Adiknya, kalau Radit telah berselingkuh itu semakin mendesak Radit untuk segera memberikan klarifikasi, tak ada jalan lain selain Andhini yang diharapkan bisa memberikan pengertian dan menjelaskan hal yang sebenarnya.
Melihat Andhini masih ngambek dan nggak mau diganggu Radit merasa serba salah, hanya ikut diam juga dan mencoba merangkai kata dan mencoba untuk sabar semoga nanti pada waktunya semuanya bisa terselesaikan.
Radit keluar mengunci dan memeriksa kendaraannya yang terparkir di halaman tetapi merasa aman karena selalu ada patroli polisi yang lewat di situ tetangga supermarket nya juga kendaraan di depan rukonya masing-masing, lalu Radit masuk kembali dan menutup mengunci pintu.
Radit duduk di sofa ujung kepala Andhini tidur, mengambil ponselnya sampai duduk membuka dan membacanya waktu baru jam setengah delapan malam.
Radit menangkap satu pesan aplikasi dari Karina kalau Karina ada yang di rasa seperti nggak enak badan. Radit menjadi serba salah dan dilema di satu sisi Andhini sepertinya masih ngambek dan belum bisa diajak berbicara walaupun hal sepenting apapun itu.
Di sisi lain Radit menjadi tak tenang hatinya takut terjadi apa-apa dalam kondisi Karina hamil sendirian dengan tetangga pun bahkan tak ada yang kenal.
Radit hanya bisa diam sambil berpikir sebaiknya seperti apa yang akan dilakukannya, Karina tak memintanya ditemani tapi meminta minyak angin seperti itu pesannya yang ditangkap Radit.
__ADS_1
Tak ada jalan lain selain memberitahukan semuanya pada Andhini walau bagaimanapun penerimaannya dan tanggapannya Radit mengharapkan Andhini juga bisa menemaninya sekedar melihat kebenaran dari pesan Karina.
Radit tak tahu Andhini tidur apa hanya tiduran saja, yang pasti dari tadi mereka sama-sama diam tak ada sesuatu hal yang dibahas lagi saat Andhini menyatakan ingin istirahat.
"Dhini, kamu sudah tidur apa belum? Aku hanya menyampaikan pesan kalau Karina saat ini sedang tidak baik-baik saja." Radit tahu kalau Andhini belum tidur karena melihat pergerakan kakinya yang masih bergerak layaknya orang yang masih terjaga.
"Dhini, tolong mengerti keadaanku saat ini, Aku harus bagaimana baiknya menurut kamu?"
Andhini bangun dan langsung duduk.
"Ada apa dengan Karina? Mas jangan membuat alasan macam-macam setiap malam dengan dalih ini dan itu, Aku yakin Karina baik-baik saja kecuali itu akal-akalan Mas Radit atau Karina sendiri." semprot Andhini sambil memandang wajah suaminya.
"Ya ampun Dhini, baca nih pesannya, Aku tidak mengada-ada hanya khawatir saja keadaannya." Radit menyodorkan ponselnya pada Andhini dengan sebagian pesan telah dirinya hapus. Kata-kata manis dan manja serta pujian Karina juga kerinduan Karina pada Radit semua sudah dihapusnya.
Andhini meyakini semua hanya taktik dan akal-akalan Karina supaya bisa setiap malam bersama Mas Radit dan lebih jauh lebih kelihatanya Karina ingin mengatur rumah tangganya dan menguasai suaminya.
"Dhini! tolong hargai dia sebagai seorang istriku saat ini, kamu jangan ngomong yang bukan-bukan tentang dia, ada anakku di dalam rahimnya yang seharusnya kita jaga bersama."
"Baik, Aku akan ikut menjaganya dan mendidik sejak dari dalam kandungan, kalau berbohong itu sesuatu hal yang sangat tidak baik dan merusak, Aku sudah menangkap kecenderungan Karina ingin menguasai Mas Radit, lupa siapa dirinya!"
Radit diam, Andhini bicara begitu ketus, ada kata sindiran yang membuat Radit sadar diri, ada sedikit kekhawatiran di hatinya kalau Karina benar-benar mengada-ngada habis sudah semuanya mungkin Andhini akan murka dengan sebenarnya.
Radit menjadi ragu dengan semua yang akan di lakukannya, balok lagi ke pikiran Kalau Karina sedang mengandung anaknya
Andhini berdiri merapikan rambutnya dan meraih tasnya, dalam hatinya sekalian saja pulang dan bisa istirahat dengan nyaman di tempat huniannya.
__ADS_1
"Apa yang diminta Karina?" tanya Andhini kedengaran dingin.
"Hanya minyak angin, tapi sekalian sama obat gatal cair katanya suka gatal di area perutnya," sahut Radit seperti apa yang diminta Karina.
"Mas tolong masuk ke supermarket dan ambil apa yang di perlukan, Aku tunggu di luar." Karina tak menoleh lagi sambil mengenakan jaket panjang sampai di bawah lututnya langsung ngeloyor ke luar.
Sepanjang jalan tak ada pembicaraan hanya diam-diaman dan Andhini melihat ponselnya.
'Jangan lupa seminggu dua kali kontrol dan terapi kehamilan. Mai tiga kali juga nggak apa-apa buat orang yang istimewa.'
'Besok jadi Aku bawa pasukan ya, bonusnya senyum kamu saja.'
Pesan dari dr Fadli membuat Andhini tersenyum. Walau senyumnya tak ingin di lihat sama Mas Radit.
Sampai di kondominium Radit memarkir mobil di tempatnya dan menggandeng Andhini menuju lift, bersikap biasa seakan tak punya masalah apapun di antara mereka.
Langsung ke lorong blok di mana Karina tinggal, Andhini membawa kantong kecil di tangannya berisi minyak angin dan obat oles gatal.
Andhini mengendorkan langkahnya biar Mas Radit saja yang duluan masuk.
Radit mengetuk pintu dan membukanya sendiri karena tak di kunci seperti sudah di tunggu. Andhini menahan pintu biar tak tertutup rapat.
******
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️
__ADS_1